Efek dari batalnya pergi ke sukabumi, bedah perpus pribadi Jika sesuai rencana, hari ini (jumat, 15 Juli 2016) jadwal pergi ke sukabumi untuk survey kosan. Ya, survey kosan untuk rencana kerja praktek di PLTP Salak bulan agustus mendatang. Namun, karena sesuatu hal (rekan KP saya sedang di uji sakit, semoga Allah segera menyembuhkannya), rencana tersebut diundur dikemudian hari. Nah, efek dari batalnya berangkat. Sambil merindu rinduku yang aku tak tahu dimana ia berada, di kamar sendiri yang sudah seharian kemarin (kamis, 14 Juli 2016) dibereskan. Kini, kamarnya sudah berubah, tempat tidur yang semula menghadap ke utara, kini sudah menghadap barat, meja belajar yang dulu posisinya di barat, sekarang berubah haluan menjadi timur, komputer yang setahun terakhir nyaman menempati posisi utara, kini menempati posisi selatan. Hanya lemari pakaian saja sepertinya, yang tak berubah posisi, ia nyaman dengan posisinya di samping pintu masuk kamar. Sambil merindu, ku tatap kumpulan hartaku yang tak ternilai harganya, ya buku. Dialah hartaku. buku-buku yang sudah beberapa tahun terakhir ku kumpulkan, kini sudah semakin banyak. Hingga rak dinding sederhana yang ku buat beberapa dekade yang lalu, sepertinya sudah tak mampu menampung hartaku itu. Lalu munculah secercah ide (lampu dalam otakku menyala, hehe). Dari pada hari ini nggak ada kerjaan, lebih baik coba buat bedah perpus kecilku, coba buat rak dinding yang baru. Dan akhirnya setelah beberapa menit merenung, ragaku pun bergerak. Dengan peralatan sederhana peninggalan almarhum kakek, ada meteran, paku, palu, gergaji, sugu manual (kalau kata sahabat saya nama tekniknya itu ketam), pasekon (siku), golok, dll. Sekitar jam 09.30 pagi mulai nyari papan bekas di pipir rumah (pipir bahasa indonesianya apa ya ?). Kalau di bilang ahli sih nggak banget, kalau di bilang bisa nggak juga sih. Tapi bukankah pelajaran terbaik itu dengan mencoba ?. gak sia sia deh dulu sering lihat kakek sama uwa pake perkakas bangunan. Walaupun dengan sedikit keraguan akhirnya ku eksekusi deh papan-papan tersebut. Hingga akhirnya tahapan demi tahapan dilalui, sampai terciptalah rak dinding sederhana, yang masih tanpa warna. Yang paling sulit itu pas bagian "nyugu", tau kan nyugu ? Hehe.. Kalau gak tau menurut ilmu kesipilan yang aku dapatkan lewat diskusi dengan sahabat terbaik, pekerjaan yang aku sebut nyugu ini, nama tekniknya adalah pengetaman. Kenapa sulit ? Hoho soalnya ketam yang digunakan modelnya ketam manual, jadul banget deh pokoknya, tapi super unik. Mungkin sudah langka deh yang punya ketam model gini. Sampai Mang Tamim mengumumkan lewat speaker mesjid, "masihan uninga, waktos parantos jam 11 kirang 5 menit, sacekap diangge beberesihna kangge ngalaksanakeun sholat jumat. kanu di darambel simpen padamelanna, hayu urang shalat jumat". rak dinding yang aku buat sudah selesai, tinggal di cat saja. Akhirnya, aku tinggalkan sejenak pekerjaanku untuk melaksanakan ibadah sholat jumat, dengan asumsi pengecatan rak dindingnya dilakukan bada jumat. Bada jumat, aku kebingungan.. Buat ngewarnain rak dinding itu pake apa ? (*harusnya gak usah bingung, kan kalau ngewarnain kayu itu udah jelas pake cat). Sebenernya bukan hal itu yg dibingungkan, tapi cat sama kuas nya itu yg gak tau ada gak tau enggak. Akhirnya setelah "kokoreh" dapet deh cat warna pink yang gak tau punya siapa, sama kuas yang sering digunakan buat bersihin rantai motor kesayanganku.. Hehe Tanpa pikir panjang, akhirnya aku cat deh rak dinding sederhana yang dibuat oleh seorang energy engineering. Pas tengah-tengah asyiknya ngecat. mamah nanya, "fi, naha warnana pink, ngewa atuh katinggalna". "Nya wios we mah, da ieu mah saaya-aya we catna ge", jawabku. Akhirnya beres deh rak dindingnya. Tinggal nunggu catnya kering, baru nanti bisa di pasang. Setelah kering aku pasang deh rak dinding itu didinding dekat meja belajar. Lalu hartaku (buku-buku kesayangan), aku tata di rak itu. Bangga rasanya, bisa bikin rak dinding itu, apalagi setelah di isi buku-buku kesayanganku. Tak apalah jelek juga, sederhana juga, yang berharga itu pengalaman ngebuatnya. Mudah-mudahan dilain kesempatan bisa bikin yang lebih bagus lagi. Kini buku-buku kesayangan (walaupun nggak semuanya) sudah tersimpan rapi di rak dinding berwarna merah muda. Dan akhirnya, perpus kecilku pun selesai di bedah. Hehe Kata seorang tokoh, "Carilah seseorang teman yang di rak-rak rumahnya penuh dengan buku, bisa jadi buku-buku yang ada tidak dibacanya. Namun dengan buku-buku itu menggambarkan bahwa ia seorang pembelajar" (DAF) Buku itu harta terbaik, Buku itu sahabat terbaik, Buku itu guru terbaik, Dan buku itu sesuatu yang terbaik.. Bandung, 15 Juli 2016 Dzun Al-Fatih