SEMUA UNTUK HINDIA
Penulis : Iksaka Banu
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Jumlah halaman : 153 halaman
Buku ini berisi kumpulan cerpen dari penulis Iksaka Banu yang pernah beliau publikasikan diberbagai surat kabar.
***
".... Penolakan Raja membayar denda kepada pemilik kapal, yang kebetulan warga Hindia, dianggap pembangkangan terhadap Gubernemen yang telah bertekad menyelesaikan lewat jalur hukum."
Rombongan indah ini tampaknya memang menghendaki kematian. Setiap kali satu deret manusia tumbang tersapu peluru, segera terbentuk lapisan lain di belakang mereka, meneruskan maju menyambut maut.
***
Buku kedua Iksaka Banu yang (dipaksa) selesai dibaca. Kalau dnf enggak masuk ketegori mubazir, mungkin buku ini sudah dnf sejak baca bagian pertamanya 😅
Berisi 13 cerpen berlatar belakang masa pendudukan Belanda di Indonesia. Dua cerpen awal berkisah tentang kehidupan nyai dan kehidupan stumble. Dan satu cerpen berjudul Semua untuk Hindia menarik perhatian karena berlatar waktu Perang Puputan. Dan, ya ku kutipkan cerpen Semua untuk Hindia ini.
***
Semua untuk Hindia
"Semua untuk Hindia. Mimpi erotis Van Heutsz. Dia sadar, perjanjian antara Hindia dengan para raja Bali tahun 1849, membuat pulau ini menjadi satu-satunya wilayah di Hindia yang masih memiliki beberapa kerajaan berdaulat, tidak tunduk pada administrasi Hindia. Kurasa jauh sebelum menjadi gubernur jenderal, Van Heutsz telah merencanakan untuk mencari gara-gara dengan Bali. Maka ia menyambut gembira peristiwa kapal karam ini karena memiliki peluang lebih besar dalam memancing kemarahan penguasa Bali dibaningkan rekayasa politik ciptaannya terdahulu, yaitu pelarangan upacara Mesatiya."
".... Penolakan Raja membayar denda kepada pemilik kapal, yang kebetulan warga Hindia, dianggap pembangkangan terhadap Gubernemen yang telah bertekad menyelesaikan lewat jalur hukum."
Sekonyong-konyong dari arah berlawanan muncul iringan panjang. Tampaknya bukan tentara, melainkan rombongan pawai atau sejenis itu. Mereka mengenakan pakaian putih dengan aneka hiasan berkilauan. Tiba-tiba beredarlah kabar dari mata-mata kami: rombongan itu adalah seisi Puri Denpasar. Mulai dari raja, pedanda, punggawa, serta bangsawan-bangsawan lain, beserta anak istri mereka.
Setiba di Batalion 11, kutahan tali kekang. Nyaris aku terkulai menyaksikan pemandangan ngeri di mukaku: puluhan pria, wanita, anak-anak, bahkan bayi dalam gendongan ibunya, dengan pakaian termewah yang pernah kulihat, terus merangsek ke arah Batalion 11 yang dengan gugup menembakkan Mauser mereka sesuai aba-aba komandan batalion.
Rombongan indah ini tampaknya memang menghendaki kematian. Setiap kali satu deret manusia tumbang tersapu peluru, segera terbentuk lapisan lain di belakang mereka, meneruskan maju menyambut maut. Seorang lelaki tua, mungkin seorang pendeta, merapal doa sambil melompat ke kiri dan kanan menusukkan kerisnya ke tubuh rekan-rekannya yang sekarat, memastikan agar nyawa mereka benar-benar lepas dari raga.
Di ujung putus asa, aku tersentak. Di sana, dari tumpukan sebelah kanan, perlahan-lahan muncul satu sosok. Ia menatap sebentar dengan bola mata tak lagi utuh, lalu melempar sesuatu ke arahku. Tepat ketika tangan kananku bergerak menangkap, terdengan letusan keras.
"Uang kepeng! Ia melemparku dengan uang kepeng dan kau tembak kepalanya! Pembunuh!"
"Cukup!"
"Beginilah kalau wartawan ikut perang."
"Berhentilah menulis hal buruk tentang kami, Nak. Aku dan tentaraku tahu persis apa yang sedang kami lakukan. Semua untuk Hindia. Hanya untuk Hindia. Bagaimana denganmu? Apa panggilan jiwamu?"
Aku tidak menjawab. Tak sudi menjawab.
***
Pada peristiwa Puputan 20 September 1906, sejumlah besar wanita sengaja melempar uang kepeng atau perhiasan sebagai tanda pembayaran bagi serdadu Belanda yang bersedia mencabut nyawa mereka.















