“Masyaa Allah, Mas-nya beda banget sama laki-laki lain.” ucap aku dalam hati sambil membalikkan pandanganku kembali kehamparan sawah.
Sambil mengagumi senja, entah kenapa rasanya aku selalu ingin tersenyum. Ada nada pesan masuk ke gadget aku. Seketika senyumanku pun terbiaskan. Ah, ternyata itu pesan dari ‘Ana’, salah satu temen baik aku.
Ana : “Assalamualaikum Ra... kamu udah sampe mana?”
Aku : “Waalaikumsalam Ana, aku udah nyampe mana yah ini, gak tau pokoknya tadi keretanya terakhir berhenti di Stasiun Jatibarang.”
Ana : “Ohh... gimana safarnya? Pasti bosen yah? Hahaha... perjalanan masih panjang loh buat sampe Jawa Timur.”
Aku membaca pesan paling bawah Ana sambil tersenyum, lalu kembali mengetikan beberapa kalimat.
Aku : “Awalnya sih bosen, tapi sekarang udah ada yang bikin aku senyum-senyum sendiri.”
Aku terdiam. Aku tengah menimbang, apakah aku perlu menceritakan ke Ana tentang penumpang laki-laki yang duduk disebelah aku. Ana mengirim pesan kembali, mungkin karena aku agak lama balesnya...
Ana : “Jangan bilang kalau yang duduk disebelah kamu cowo ganteng.”
Aku : “HAHAHA” (Capslock mode)
Ana : “Tuh kan bener. Udah kamu ajak kenalan belum?”
Aku tak bisa menyembunyikan tawaku, sampe-sampe bapak yang duduk didepan aku menatap aneh. Aku merespon bapak tersebut dengan senyum.
Aku : “Hahaha, kamu kaya baru kenal aku kemarin aja. Mana ada aku mau ngajak kenal duluan sama orang asing. Ditambah lagi ini orang asingnya cowo.”
Ana : “Terus yang bikin istimewa safar kamu apa dong?”
Akhirnya aku memutuskan bercerita ke Ana tentang penumpang laki-laki yang duduk disebelah aku. Sambil membalas pesan Ana, sesekali aku melirik ke laki-laki itu. Semenjak kereta meninggalkan Ibukota, laki-laki ini hanya sibuk dengan buku yang dia baca. Ya meskipun beberapa kali aku juga melihatnya membalas pesan yang masuk ke gadgetnya. Duh aku kok berasa jadi kaya intel gini, merhatiin gerak gerik orang.
Tiba-tiba nada beruntun pesan masuk di gadget aku terdengar. Yah, siapa lagi kalau bukan Ana.
Ana : "Ra, coba deh kamu ajak ngobrol duluan Masnya. Tadi kan kata kamu juga Masnya punya kriteria calon suami idaman versi kamu. Kalau kamu ngelewatin kesempatan ini, dimasa depan apa kamu bakal ketemu sama laki-laki yang sesuai sama kriteria kamu?"
Aku terdiam. Memandangi kata demi kata pesan yang ditulis Ana. Kalimat terakhirnya memang ada benarnya, tapi aku bukan orang yang pandai menjemput bola. Lalu aku membalas pesan Ana.
Aku : "Aku juga maunya seperti itu. Beberapa sikap dan fisicly masnya emang masuk ke kriteria calon suami yang aku mimpikan selama ini. Tapi ada banyak hal lainnya juga yang gak aku tahu dari Masnya, seperti sifat dan ibadah dia di kesehariannya. Bisa aja kan apa yang dia lakukan sekarang ini berbeda dengan kebiasaan dia."
Send. Aku mingirim kalimat tersebut ke Ana. Tanpa menunggu waktu lama, Ana kembali membalas pesan aku.
Ana : "Ihhh, ini anak malah soudzon."
Aku : "Bukan soudzon Ana, cuma aku gak mau berharap ke manusia aja, aku takut nanti kecewa."
Ana : "Oh gitu, yaudah deh disini udah adzan maghrib. Nanti aku sambung lagi yah."
Aku membalas pesan Ana denga emotican senyum.
Dalam jiwaku kini terjadi peperangan batin. Aku tak tahu, laki-laki yang duduk disebelah aku ini apakah benar-benar laki-laki yang baik agamanya, atau semua yang aku saksikan tadi itu hanya sebuah fiktif belaka. Aku mengalihkan pandanganku ke bawah tempat duduk. Aku pikir laki-laki yang duduk disebelah aku ini sedang mencari barangnya yang terjatuh. Ternyata aku salah, dia tengah melepas sepatunya, sepertinya dia mau berwudhu dan menunaikan shalat maghrib.
Ternyata tebakan aku benar. Diluar jendela, langit telah menggelap. Aku bisa melihat aktivitas setiap orang di kereta melalui pantulan bayangan di jendela. Yah, you know. Akupun bisa melihat bayangan laki-laki yang duduk disebelah aku saat dia melaksanakan sholat. Setiap gerakan sholat yang dia lakukan tak lepas dari tatapan aku. Meskipun ini hanya bayangannya di jendela, aku bisa merasakan ketenangan sekaligus kekagumanku pada laki-laki itu.
Aku tahu, yang aku lakukan ini mungkin akan dihitung sebagai dosa oleh Allah. Tapi aku hanya manusia biasa yang tak bisa menahan dengan baik nafsuku saat ini. Aku hanya berharap, setiap istighfar yang aku lafalkan bisa menggugurkan dosa aku tersebut.