Masih dengan Filosofinya, Icemosphere
Kuumumkan padamu, iya kamu Mr. Happy dengan wajah senang ceria mau suka datang menghampiri. Kubilang jangan.. lihat dulu aku lebih dekat sangat dekat.. teramat dekat.. setelah itu katakan lagi, apa kau akan berubah pikiran tentang binar-binar dimatamu?
Kutahu, kamu manja yang penyuka hidangan istimewa. Itu saja. Aku benci mereka-mereka dan kamu. sama saja sebenarnya.
Aku benci binar-binar itu. Aku paling ahli membuatmu makin bersinar hanya dengan menatapku manja. Hey, jangan lupa.. akulah bintang es disini. ingat, aku terdiri dari lapisan es yang bersinar terang temaram apalagi ditemani cahaya bulan di malam yang benar-benar gelap pekat. Dimalam yang benar-benar gelap pekat. Garis bawahi itu. Aku bersinar.
Dulu,
Sekarang aku berbeda. Waktupun berputar akupun bisa tak berpijar. Aku bukanlah aku yang dulu membawa tinggi ego dan harga diri. Tau kapan harus bersenang-senang dengan duniaku sendiri. Masih ingat filosofi “icemosphere” yang kuciptakan hampir diseparuh otakku? Akulah pemilik kerajaanku. cemburu? bangunlah punyamu juga. Penasaran? coba masuk saja, dan peraturan dalam kerajaanku masih sama. Sekali kau masuk gerbangnya, jangan pernah berpikir untuk dapat keluar begitu saja. Pikir dulu. Pikir lagi. lagi. dan lagi... kuulangi, pikirlah lagi dan lagi dan lagi...
Well sekarang aku tak sama. Aku yang menduduki tahta sudah turun tangga... bermasyarakat dengan mereka-mereka para warga... yang salah satunya berhasil membuatku turun takhta. Dia menghampiriku dari kejauhan. Tetap disitu dalam kurun waktu yang lama. dan entah bagaimana aku ada di tengah-tengah kerumunannya. Takhta ku masih ada dan tak tahu cara kembali kesana. Entah perasaan apa yang sudah menikam jiwa dan menghinaku dengan injakan kasutnya. Aku lemah. Bajuku masih masa.. hanya saja, sudah kusuh dan bau juga basah karena ludahnya... bagaimana aku kesana?
Kau yang diluar, kuumumkan keadaan istana dari dalam. Jarang ada kerajaan yang melakukannya. Aku hilang keberhargaan dan malah dilanda kutukan tetap ditanah entah duduk entah menyeret kaki untuk bertahan lama...
Tolonglah, masihkah aku bersinar? mungkin kerajaanku saja dengan segala atributnya. Tapi didalam... suasananya sudah kacau porak poranda. Akulah yang seharusnya membersihkannya... tapi aku terlalu lemah tak berdaya. Untuk tetap bernafas saja susah... masih bisa melihatnya tersenyum dari bawah sudah membuatku merasa sedikit manusia.
Aku sangat mendamba cerita dongeng masih bisa menjadi nyata. Pegasus dan penunggangnya yang gagah. menghampiriku mengajakku lari keluar dari istana. keliling dunia dan kembali lagi dengan usia lebih muda. binar bahagia yang menjadikan kerajaanku benar-benar berbinar bagai bintang yang tak pernah jatuh ke dunia.
Namun sekarang itu hanyalah bualan masa lalu yang bisa luluh ditelan cerita kenyataan. Ratunya hampir mati di dalam kerajaannya sendiri.
Bahwa dunia didalam genggaman bagi mereka yang percaya, harapanku masih sama. Dobrak gerbangnya dan papah aku berdiri.. kembalikan ke tahta dan biarkan aku berhias diri lalu kutemui kau lagi.. apa bisa? is there any miracle could happen in this chaos behind my back?
.....
Itu semua fiksi belaka..
Aku wanita biasa yang cuma ingin bahagia..
Setidaknya mengembalikan senyum diwajahku lagi saja..
Surabaya, 10 Juni 2016
Masih dengan Monthly Report yang belum Terjamah
Dan kutukan planet merah yang meraja
Icemosphere,










