Saat kamu melihatku duduk dengan tenang, Seperti karung yang tertinggal di rak, Jangan berpikir aku butuh obrolanmu. Saya mendengarkan diri saya sendiri. Tunggu! Berhenti! Jangan kasihan padaku! Stop! Hentikan simpatimu! Pahamilah, Kalau tidak, aku akan melakukannya! Saat tulangku kaku dan sakit, Dan kakiku tidak mau menaiki tangga, Saya hanya akan meminta satu bantuan: Jangan bawakan aku kursi goyang. Saat kau melihatku berjalan, tersandung, Jangan belajar dan salah. Karena lelah bukan berarti malas Dan setiap perpisahan tidak hilang. Aku adalah orang yang sama seperti dulu, Sedikit rambut, sedikit dagu, Lebih sedikit paru-paru dan lebih sedikit angin. Tapi bukankah aku beruntung masih bisa bernapas.
Membaca puisi ini, puisi nya Maya Angelou seorang penyair terkenal berjudul Menua saya menyadari bahwa menerima itu tidak mudah.
Mungkin itu sebabnya, memasuki komunitas baru bernama komisi lansia pun jadi menakutkan buat sebagian orang. Tp bagaimana?
Bukankah banyak hal di dunia ini yang mesti belajar kita terima. Seperti Herodes yang berkali kali mencoba menggagalkan rencana Allah tapi Allah tetap datang ke dalam dunia dengan cara ajaib melalui seorang bayi sederhana. Dari orangtua sederhana di kampung yang sederhana dan beritanya hadir secara mulia kepada gembala gembala yang sederhana.
Nyanyian malaikat mengajar kita dua hal:
1. Allah itu mulia dan patut dimuliakan. Dia mulia karena penuh kasih. Yang dimuliakan bukan orang berpangkat atau kejam atau sadis atau yang kuat terus, muda terus gagah terus, tp yang rendah hati
2. Damai dikaruniakan bagi mrk yang mendengar dan menerima Juruselamat. Natal ini kita rindu bisa menjangkau semua yang lansia. Tentu ketidakhadiran banyak faktornya. Bisa jadi malu. Bisa jaditidak kenal. Bisa jadi memang banyak yang lemah fisik, dan ngerasa kl ke gereja ngerepotin. Tapi jelas semua diundang terus ke persekutuan. Semoga persekutuan lansia tetap dijalani dgn tawa, sukacita dan kegembiraaan. Kenapa? Karena orang yang gembira umurnya panjang. Orang yang gembira sehat. Orang yang gembira hidupnya penuh. Damai Allah bersamanya. Dan untuk itulah Allah datang, Allah datang buat memberi kita hidup yang penuh.
Saya baru saja baca satu buku, menarik sekali, judulnya Ikigai. Sebuah filosofi Jepang untuk menemukan makna hidup. Makna hidup itu bukan dicari tapi ditemukan. Dalam keseharian. Orang Jepang sibuk menemukan tujuan hidup dalam alam, kebiasaan, pekerjaan, makanan, jalan kaki, dan skill. Mrk menikmati bercengkrama dan belajar hal baru. Sehingga mrk tdk lekas menua secara fisik dan mental.
Nah, tujuan hidup itu sudah ditetapkan Allah dalam hidup. Apakah kita sudah menemukannya? Coba kita merenungkannya. Para gembala melihat bayi Yesus merenungkan bahwa perkataan Tuhan benar. Maria juga, bagaimana dengan kita? Apakah kita juga punya waktu teduh dengan Allah untuk merenungkan makna hidup kita? Dengan kondisi tubuh, jadi oma opa, menjadi seorang yang ahlu dgn pekerjaan kita dan mencintainya. Temukanlah makna dalam itu semua sehingga hidup kita gak lewat begitu saja dan jadi penuh.
Seorang pria, sebut saja namanya Mukidi, pegawai pada sebuah instansi pemerintah. Setelah usianya beranjak ke lima puluh tahun, sangat terlihat perubahan pada daya ingatnya. Setiap hari ketika berangkat ke kantor, ada saja barangnya yang ketinggalan.
Setiap hari ketika diperjalanan menuju kantor, dia menerima telpon dari isterinya mengabarkan mengenai barangnya yang ketinggalan. Hari ini tasnya, lain hari kunci ruangannya, dan pada hari lain barang yang lain lagi. Namun yang membuat Mukidi kesal karena setiap isterinya menelpon, selalu diikuti dengan kata memang papa ini sudah pikun.
Karena tidak mau dibilangi pikun, maka suatu malam Mukidi mencatat semua barang yang harus dia bawa ke kantor besok pagi. Dan keesokan paginya Mukidi dengan rasa percaya diri melangkah meninggalkan rumah setelah semua barang yang dia catat sudah terbawa.
Namun ditengah perjalanan, isterinya menelpon lagi. Begitu Mukidi mengangkat telpon langsung dia mengatakan Belum tua kan?, belum pikun kan?, tidak ada barang yang ketinggalan kan?. Langsung isterinya menjawab, iya tidak ada yang ketinggalan, tapi papa segera pulang, āHari Ini Hari Libur. ā
Mukidiā¦. Mukidiā¦makin parah aja.
Humor ini bercandaan saja, soal lupa...semua bisa lupa! Jadi jgn terlalu dianggap serius, mari terus latih daya ingat, terutama ingat kasih dan kebaikan Tuhan! Ingat bahwa Dia tak pernah meninggalkan kita! Maka Dia mengaruniakan AnakNya Yesus Kristus, karena Dia selalu ingat kita! Mari bersukacita di Natal ini bersama mrk yang memuliakan Sang Raja Mulia!