Gereja, itu apa?
Ketika saya hendak menulis skripsi dan mengajukan proposal pada dosen saya, dia bertanya, "Dina, mari mulai dari gelisahmu, apa keprihatinanmu soal gereja?" Lalu, saya menjawab; pak, kenapa sih orang enggan ke gereja? Kalau kebaktian pemuda susah banget ditarik-tariknya,kalau KRT susah banget ditarik-tariknya? Lalu, dosen saya yang sudah meninggal ini, pak Purboyo Susilaradeya bilang, kenapa harus ditarik-tarik? Memangnya andong? Gereja itu...nah, coba kamu pelajari..
Dari skripsi saya belajar bahwa gereja itu organisasi: kita lihat dari bentuknya, strukturnya; ada majelis, ada jabatan, ada program dan lain-lain. Tapi organisasi ini gak sama dengan perusahaan; karena isinya gereja adalah organisme, alias orang yang dari mana-mana berkumpul dan berinteraksi bersama. Mereka yang punya hati, rasa, mimpi, keinginan, dan digerakkan Roh Kudus. Jadi, gereja itu organisasi yang organis.
Maka, program perlu. Kenapa? karena program adalah cara organisme gereja mengelola diri agak hidup dan menarik. Jadi, selama lima bulan bersama dosen, saya belajar menyusun program. Nah, kita belajar tentang program dari Kisah Para Rasul 2:41-47. Bagaimana program Gereja menjadi jawaban akan tantangan gereja yang hidup dan menarik.
Fakta, pertama dari Kisah Para Rasul adalah bahwa Gereja didirikan Roh Allah. Gereja digambarkan sebagai perbuatan Roh Kudus dalam tiga bentuk programnya yang menghidupkan dan membuatnya menjadi menarik:
Pertama. Pengajaran. Gereja perdana, memilih berakar pada kebenaran. Gereja belajar untuk tahu apa yang benar dan salah, memahami dan menerima kebenaran dan melakukan kebenaran. Jadi, Gereja mesti bebas dari narasi kekuasaan; kesombongan, rasa aku yang kuat, keinginan kuat menyingkirkan yang lain dan semua yang berujud pada penindasan, penaklukan dan peminggiran.
Agak mengejutkan jika kemudian Gereja bertengkar karena siapa yang lebih dihormati, lebih banyak pengikutnya, atau lebih berkuasa. Jadi, di permulaan, Gereja terus belajar dan bertekun. Gereja saat ini bisa belajar merefleksikan kenyataan hidup dari Firman Tuhan. Juga, agar menarik dan hidup bagi semua yang merasa dunia tak lagi ada yang benar, menunjukkan Kristus sebagai Kebenaran.
Kedua, Gereja perdana berakar pada persekutuan yang kuat. Perjamuan dan saling berbagi di antara mereka begitu jujur dan tulus. Setiap kali kita bersekutu kita ditantang untuk mempraktikan kasih dalam hidup sehari-hari; apakah kotbah yang kita dengar itu sungguh kita lakukan? Apakah kita masih memendam amarah? Bagaimana kita memperlakukan sesama? Apa kita mendoakan dan mengasihi, atau menyakiti, atau mengambil apa yang bukan milik kita?
Ketiga, gereja perdana dalam kuasa Roh memvalidasi kasih. Kasih dinyatakan dalam liturgi. Menarik bahwa dalam Kisah Para Rasul, liturgi itu bukan hanya dipahami urutan cara kebaktian melainkan hidup yang berbakti dalam keseharian. kata urgi atau ergon dalam litugi artinya adalah kerja. Ketika kita bernyanyi, mengaku iman, berdiri dan duduk, kita sedang ditanya dalam diri; apakah kita sebaik dan setulus itu juga ketika bekerja di luar ruang ibadah? Apakah hidup sehari-hari juga jadi liturgi?
Nah, bagaimana ketiga perkara ini; bertekun, bersekutu dan berliturgi adalah gaya bergereja yang hidup dan menarik. Menjadi hidup dan menarik karena karena gaya itu, banyak orang jadi suka sama orang kristen. Kalau, kiprah kita gimana? Apakah hidup kita ini membuat orang suka sama kita atau illfeel pada kita? Gaya hidup gereja pada masa itu membuat pandangan orang tentang kemanusiaan menjadi baru. Ada harapan; bahwa manusia bisa saling mengasihi dengan tulus, saling menghargai di tengah dunia di mana cinta kasih jadi kelihatan barang usang.
Nah, semoga program gereja yang bapak ibu saudara ikuti bisa membuat kita hidupnya menarik dan menyukacitakan hati. Mari membuat semua yang melihat sikap dan perilaku kita di gereja senang dan bukannya sedih, apalagi marah. Tema pelayanan Kampung Sawah di tahun ini adalah terus berjalan dalam Tuhan; artinya persekutuan kita mesti tekun. Dan hidup yang menjadi kesaksian yang baik, yuk kita jaga terus hubungan kita yang baik bersama Tuhan sehingga kita mampu menghadirkan damai Allah di mana pun.
Gereja zaman rasul sudah gak ada, tapi Roh Kudus tetap bekerja. Roh yang hadir juga dalam hati kita sebagai organ tubuh Kristus. Mari sebagai tubuh Kristus, kita mensyukuri karya Roh Kudus dalam gereja, berdoa bagi Gereja, dan terus membangun jemaat.
















