Malam Minggu
Begitulah semalam, kami mengisi malam minggu kami dengan jalan-jalan ke sebuah kota bernama puisi. Kami pun asyik menikmati kata-kata yang ada di setiap ruas-ruas jalannya.
Selamat menikmati puisi malam minggu kami (@rintikkecil, @krisanyuanita, @awansenja, @pecandu-rindu, @aliceputriprawira, @filosofihujan, @dindingkamarmu, @pemudabiasa, @rgagastya dan @penakertas).
Gugusan resah buncah satu-satu dari minggu ke minggu. Ada ledakan yang seakan berlomba menceritakan serat-serat kecewa. Kepergian, begitulah risalah: ragam kepingan berserak di dahan-dahan malam.
/1/
Tik tok jam mengejek, meyertakan sunyi paling nyeri. Ada yang luruh bersama kentongan peronda yang mengabarkan waktu: luh biru yang semakin beku, deras kenangan yang semakin ngilu. Sebab kehilangan terlalu fasih mengeja dirinya, setiap malam. Dari senin sampai minggu. Sampai rindu ini pekat, seperti kopi yang kau minum saat hujan turun.
/2/
Bayangmu berseliweran di setiap sudut ruang. Sesak. Semakin kutepis, semakin kau nyata. Ini sudah untuk yang kesekian kalinya, kau kubunuh dari ingatan. Meski lagi-lagi aku gagal. Kau tahu? Malam minggu ini kau menjelma, menjadi sosok yang menggenggam tangan gadis itu. Ialah naungan yang lebih kaupilih. Sedang aku di sini lelah, menanti kapan pekat wajahmu hilang. Sebab malam selalu patuh pada suara-suara rindu di sudut-sudut kalbu.
/3/
Biarlah, kupetik malam sebagai hadiah mimpimu. Penghibur bagi angan-anganmu, yang berbaris rapi di antara filosofi. Tidurmu adalah pelipur lalu aku akan menjadi hawa rindu yang menghipnotis waktu. Nanti akan kusulap sabtu menjadi tak sendu. Menjadi jumpa yang akhirnya tiba, ditemani rintik air dari angkasa, mengiringi suasana syahdu di antara secangkir kopi yang kita nikmati bertiga, berbicara tentang masa yang tak lekang waktu. Sesekali masa depan pun kita intip dengan tawa.
/4/
Aku berharap, tak hanya satu tetapi tujuh. Karena kulihat biasnya ada di ujung garis senyummu itu. Indah. Di ujung minggu, aku selalu mendengarmu menjeritkan rindu setiap datang perkara hujan dan masa lalu. Akulah yang merangkai kata membentuk tandu, mengangkat kembali rima yang terkoyak hancur oleh waktu. Pada penantian yang panjang: juang masih berjalan, terseok-seok menemukanmu, di antara sinar dan embun pagi.
Ditulis oleh : @rintikkecil, @krisanyuanita, @awansenja, @pecandu-rindu, @aliceputriprawira, @filosofihujan, @dindingkamarmu, @pemudabiasa, @rgagastya dan @penakertas :)
Malam Minggu.
Kelas Puisi, 27 Februari 2016.













