Film Bumi Manusia in a Nutshell
Sebagai penikmat film, bukan penikmat Iqbaal, menonton Bumi Manusia dengan murni tanpa prasangka dan ekspektasi apapun sebelum film dimulai adalah hal yang mesti dilakukan.
I love Iqbaal ever since dia di Coboy Jr. And I know there were lotsa backlash ketika diumumkan bahwa Minke adalah Iqbaal. Still lots even after the movie premiere.
Let me tell you one thing my friend. I watched Dilan because I love Iqbaal. But I watched Bumi Manusia because I love the book. Ini harus benar-benar dipisahkan. Singkirkan segala ekspektasi mengenai aktor dan bukunya. Nikmati tiga jam yang berlalu tanpa disadari. Well, bahkan tiga jam End Game-pun saya tidur, maka ketika berhasil melek di tiga jam Bumi Manusia patut diacungi jempol.
The plot went crazily fast.
Dalam prosesnya menyelesaikan baca, buku Bumi Manusia ini sangat membosankan di awalnya. Rasanya sama seperti ketika baca Max Havelaar. Ingin menyerah di tiga bab awal, tapi kok malu sama diri sendiri kalau belum pernah menamatkan buku selegendaris Bumi Manusia. I finished the book for the sake of my pride.
Buku yang sangat detail dengan alur yang lambat, bersanding dengan film yang memiliki batas waktu penayangan. Seluruh detail dipaksa masuk dalam kurun 3 jam. Segalanya serba tiba-tiba.
Missing out important details.
Karakter Minke kuat karena didukung oleh orang-orang sekelilingnya yang berjasa dalam mengasah entusiasme dan jiwa pemberontak dalam dirinya. Hubungan eratnya dengan Mevrouw Telinga, Jean Marais, Jan Dapperste, putri-putri de la Croix, dan Kommer, tidak diberi porsi yang cukup.
Terutama Jean Marais, I was really hoping about their quality talks yang membuka mata Minke bukan sekedar soal Annelies. Tapi dialog dengan Jean mengenai Ann membuka mata, bahwa film ini berpegang erat pada sisi romantisme.
Annelies' change of image.
"I don't like Annelies. So weak. Mudah terguncang jiwanya. Gak bisa menerima cobaan bertubi-tubi yang datang ke keluarganya. Sakit tak berkesudahan. Cannot live her life."
Gak paham di bagian apa dari bukunya, which make my take on Annelies was that low. Simply say, Annelies wasn't my favorite character. Dan dengan porsi dia sebagai salah satu tokoh pendukung utama, jadi makin sebel.
But the movie changes me. Kalau ditanya adegan mana yang paling pas, adalah adegan dimana Annelies membesarkan hati Minke dan Nyai ketika ia bertolak ke Amsterdam. Kenapa pas? Karena itu mengubah cara pandangku terhadap Ann. She is one hell of a tough woman. After been through rape, such a lonely condition tidak bisa bergaul dengan teman sebayanya dan terkurung di rumah, having conflict with her identity (inginnya Pribumi tapi diperlakukan layaknya European), she breakthrough. Menerima keadaan bahwa ia harus pergi, harus berhadapan dengan situasi yang lagi-lagi akan tidak mengenakkan. Salut banget, super tegar.
Mungkin butuh alur film yang cepat untuk membantuku memahami Annelies, detail yang melambat di buku membuat aku bias.
Women has weakness of their own.
Ini cuma gue sih.
(TETIBA JADI 'GUE').
Sebagai seorang wanita, it feels like empowerment adalah sebuah mantra.
You can be anything you want to be. Ini bagiku jatohnya jadi menyembunyikan apa yang I cannot be.
But at some point, when you meet someone, he will see your weakness. And when that day come, kita gak perlu menutupi kelemahan kita.
Cara pandang ini yang baru bagi gue. Sebenernya gak baru, menyadari keberadaan cara pandang bahwa kelemahan adalah sesuatu yang tidak mungkin selamanya ditutupi, sudah lama. Cuma belum dianut aja.
Film ini membuka mata bahwa as a woman you don't have to pretend everything is okay, you don't have to pretend you can do all by your own. You need help sometimes, and it is ok to ask.
Colonialism and Slavery is real.
Bagi orang yang sudah lam berkecimpung menonton film sejarah dan dokumenter, this is not a new thing. Tapi Om Hanung berhasil mengemas film komersial yang (diharapkan) ditonton oleh anak-anak modern, mengangkat nilai ini. Biar khalayak ramai jadi tau, our nation been there. Indonesia pernah sangat di eksploitasi oleh bangsa lain. Dirampas hak kehidupan dan martabatnya.
Pidato Minke saat menerjemahkan perkataan Ayahnya, bikin merinding.
Tulisan Minke mengenai Hukum Islam vs Hukum Eropa, bikin sadar bahwa no law is perfect.
Bahwa sekarang Indonesia sudah merdeka, is a gift.
Sangat pas film ini keluar di saat nasionalisme Indonesia sedang di posisi bawah. Bahwa menjadi seorang Indonesia, sekarang, ketika sudah merdeka, adalah sesuatu yang tidak boleh di-taken for granted.
Sebelum film mulai, Indonesia Raya dikumandangkan. People usually sing along to this masterpiece, tapi aku sengaja pengen meresapi lirik Indonesia Raya, jadi aku diem. And the lyrics stabbed me. Merdeka bukan sekedar kata. Merdeka harus diaktifkan dalam diri.
Oke, sisi ringannya. I loooooove the Javanese details in this movie. Dialek bahasa jawa, bunyi gamelan, it makes me just proud being pure Javanese by blood. I swear I am purebreed Javanese, namun tinggal di Sunda makes my habit goes 360 degree deviated. Bagi orang bebas macam kita jaman sekarang, bebas dari kungkungan adat istiadat, memiliki identitas sebagai suatu suku adalah sebuah eksklusivitas. Aneh ya, orang seperti Minke ingin keluar dari kungkungan adat. Orang seperti kita, ingin memiliki eksklisivitas adat.
***
Jadi, mari berpikir film Bumi Manusia ini adalah gerbang anak muda kelahiran 2000an (yang bukan pasar utama novel Pak Pram) untuk mengenal karya-karya Pramoedya. Biarlah mereka tertarik dulu dengan aktornya, baru penasaran baca detailnya kayak apa di buku.














