SABTU BERSAMA BAPAK ; IN MY SIMPLE OPINION
Terbit : 2016 (Cetakan Dua Puluh Empat)
Buku ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pria yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi suami. Dan seorang ibu yang membesarkan mereka. Dan tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan, untuk mereka.
Semua orang pasti pernah menjadi seorang anak – dan mungkin memiliki anak. Semua pasti memiliki orang tua – dan mungkin menjadi orang tua.
Jadi aku sempat nonton filmnya pas tayang di bisokop. Trus baru akhir-akhir ini tau kalo si film diangkat dari sebuah novel , udah cetakan kesekian banyak pula (kemane aje?). Waktu dibaca, ketemu ‘klik’ (kocak) nya, jadi diambillah satu buat mengenang nonton si film tadi. Hasilnya beneran gak mengecewakan.
Filmnya bisa dibilang seru ya. Walopun lebih suka nunggu film indo muncul di tivi, tapi keputusan buat liat di layar gede ternyata berbuah manis. Filmnya kategori film keluarga, yang bisa dinikmati anak-anak sampai orang tua.
Pun dengan bukunya. Bisa banget dinikmati anak-anak, dewasa, yang masih jomblo, yang sudah berkeluarga, atau yang kembali ‘sendiri’. Kenapa? Karna semua usia tadi dimasukin disini. Ngeliat berbagai sudut pandang dan konflik. Dengan kemasan yang proporsional juga.
Aku jadi suka sama Abimana karna aktingnya di ’CJR The Movie’ sama ‘Bulan Terbelah di Langit Amerika’. Peran-peran yang protagonis memang. Suka aja dengan karakter lembut pengertian kadang lucu tapi tegas yang dibawakannya.
Menjadi Bapak disini juga perlu ketegaran ya. Gimana ngehadapi penyakit kanker sekaligus ‘mempersiapkan’ keluarganya untuk masa depan yang baik itu kan gak gampang. Tokok Bapak yang punya banyak ilmu dan cerita buat dibagi ke anak-anak. Well, sebenarnya banyak cerita yang ada di sekeliling kita juga. Tentang nilai di sekolah, tentang kuliah, tentang rencana-rencana, tentang pendamping hidup. Cerita yang mungkin gak semua diutarakan oleh bapak kita di dunia nyata secara terang-terangan. Dengan cerita Bapak ini, pembaca dan penonton bisa belajar untuk gak mengulang kesalahan plus belajar jadi lebih bener.
Awalnya aku pikir si Ibu akan jadi Ibu saja, yang mendukung anak-anak gitu. Lah ternyata Ibu ini malah jadi klimaksnya. Ibu yang bikin mupeng perempuan sedunia karna pinter masak dan bisnis. Ibu yang sabar juga tegar. Cara Ibu ngejodohin si Cakra juga lucu. Pengen daftar jadi mantu dah. Haha.
Si sulung yang preman. Gak nyangka kalo karakter Satya tuh sebenernya cadas, soalnya di film gak keliatan. Dari Satya, bisa belajar membangun hubungan saling memahami di dalam sebuah keluarga kecil. Satya orangnya logis, jadi harus ada ‘dasar-dasar’nya kalo bertindak. Suka sifat Satya yang dewasa, walo pas dia marah, garangnya ruar biasa.
Nah, ini... ini si adek favorit. Kayaknya bagian kocak lekat sama dia semua deh. Kocaknya juga gak kelewatan, pas aja. Guyon tentang kejombloan dia tuh ngena man! (curhat mbak?). Pas nonton, ngeliat muka dia aja udah pengen ketawa. Pas baca, ternyata memang dialognya pada lucu-lucu semua. Kemudian ada banyak dari pembelaan dia yang bisa para jombowan/wati bisa amalkan loh. Cara pedekate dia ke Ayu juga asik. Cakra disponsori oleh anak buahnya yang kece parah (gilanya). Jadilah dia tokoh paling menderita atas semua kezaliman ini. *kasih pukpuk buat Mas Saka*
Oiya, settingannya, eh, tokoh Bapak dan Ibu kan orang sunda ya. Makanya panggilan dan selipan yang ada tuh pada nyunda. “Kakang” “Mamah” “Neng” “Bageur” dll.. kayak lagi dirumah sendiri.. *oops
Buku ini lumayan ngerubah pandanganku terhadap buku (agak, lumayan) komedi. Maklum, ada pengalaman gak enak dengan yang terlalu komedi. Selama ini, aku selalu ngerasa buku yang baik itu harus penuh kata yang serius walau dibawa lebih santai. Santai ya, bukan ngeyel. Ternyata bisa juga tuh, memberi pesan yang enak dengan proposi ‘lucuk’ agak dibanyakin. Ketawa bisa, nyangkut di hati juga iya. Fair enough.
Dan, oh.. alur cerita di film kan beberapa bagian ada perbedaan tuh dengan yang di buku. Cukup jadi ‘berbeda’ adrenalinnya. Di film memang perlu untuk ‘kemasan 120 menit’ sih ya. Tapi kalo disuruh milih, aku bakal milih cerita versi buku. Lebih banyak Cakranya sih.. hihi. Gak deng, lebih banyak cerita Bapaknya kalo menurutku.
Oke, selamat menikmati bukunya. Selamat menikmati filmnya juga, karna mau tayang di salah satu stasiun televisi swasta. Siapin energi buat ketawa, disamping siapin hati yang tenang juga.
Fyi, ini buru-buru nulis dan posting biar gak keduluan tayang ya. Gak mau kalah langkah.. haha
ps: Gak tau deh mood nulis hilang kemana. Mungkin dia tenggelam dalam kesibukan kantornya. Semoga si ‘mood’ gak lari-lari lagi, biar otak dan tangan tetep temenan buat nyeritain buku dan film bagus.
ps (lagi): Cakra lebih ganteng dari Satya kok. Sumpah!