GIGIH
kemarin aku sempat tidak percaya LAGI pada perasaanku bahwa akan ada kejadian buruk lima menit mendatang karena bebunyian yang muncul timbul tenggelam, sebagaimana barang keras mestinya.
DAN
“pyar!” suara itu tak timbul sekali, melainkan saling susul menyusul hingga yang terakhir yang membuatku terhenyak, lalu menghampirinya. Hendak memastikan siapa gerangan.
Ternyata ia sosokyang selalu berdiri gagah didepanku. selalu membuat suasana rumah yang baru selesai direnovasi ini terasa hangat dengan sisi humorisnya. walaupun intonasi yang digunakan serupa dengan militer. Tapi lihatlah, ia sekarang meringkuk diantara sudut tangga yang curam yang belum direnovasi sama sekali yang lebarnya tak genap satu meter, sambil merintih seperti anak umur delapan tahn yang mengidap panas saat tengah tengah malam. Aku panik,sebenarnya. tak tau apa yang harus kuperbuat. Mataku memilih pemeran utama dari kerusuhan bunyi sepuluh menit yang lalu.dan aku membantu tubuh yang tinggal lunglit yang tanpa kusadari benar-benar mulai habis dimakan oleh waktu untuk berdiri dan menyerahkannya kepada yang berhak.
aku cucu ketiga dari sosok yang selalu gagah tadi, awalnya mengira kejadian tadi akan membuatnya trauma dengan benda keras yang bernama piring. tapi itu seakan tidak tercantum dalam kamusnya, setelah sahur ia menyentuhnya lagi setumpuk piring itu dan mulai mencucinya.














