Kilas Balik Cerita yang Telah Berakhir
Suatu hari, teman sekamarku tiba-tiba bercerita hal yang tak pernah kusangka sebelumnya.
"Ay, dua hari lagi mas agung mau ke rumah."
Dan spontan aku tanya ke anak yang sering kami berempat panggil teteh Nur (note: sekamar isi 5 orang termasuk aku).
"Loh kan biasanya juga main ke rumah teh?" Jawabku tanpa peka terhadap maksudnya hingga temanku satunya tiba-tiba berbicara. "Kalian ngga peka ya? Teteh Nur ini mau dilamar guys!"
Spontan aku dan dua temanku lainnya menjawab bersamaan, "Serius!! Bukannya baru juga jadian oktober lalu yak???"
"Iyaa, aku sama mas Agung ngga mau menghabiskan waktu hanya untuk sekadar pacaran, kami sudah siap untuk melangkah kedepan." Jawab teteh Nur mantab. Lalu seketika itu hatiku sakit. Tiba-tiba ingatan perihal dia muncul perlahan menghancurkan tembok ketidakinginan untuk mengilas balik ingatan perihal dia.
Dulu, aku masih ingat sekali, seseorang telah membuatku yakin untuk mengenalkannya ke orang tuaku, terutama papaku, laki-laki yang sangat aku cintai melebihi laki-laki manapun. Hubunganku yang penuh lika liku itu telah benar-benar membawaku pada waktu itu. Mewujudkan keinginan dia yang ingin memiliku dengan ikatan pasti setelah sekian lama merajut kasih. Namun sayangnya itu bukan menjadi keinginanku.
Aku, hanya menyakinkan diriku untuk sekadar mengenalkannya terhadap keluargaku, bukan meneguhkan hatiku untuk bersamanya dalam waktu yang lama lagi dari hubungan yang terjalin saat itu. Entahlah, tapi itu yang terjadi.
Ada ragu, di sepanjang doa yang mengalir di sepertiga malam. Ada bimbang dalam segala ikhtiar puasa yang aku jalankan. Ada sedih dalam setiap langkah yang aku tempuh bersamanya dan juga ada ketidaksiapanku untuk bersamanya dalam waktu lama. Hingga keputusanku bulat. Aku memutuskan untuk mundur, menyakitinya. Menghancurkan impiannya untuk bersamaku. Tapi aku pun juga tak ingin menyakiti diriku sendiri sebab ketidakmampuanku untuk berjuang bersamanya. Namun, aku percaya, Tuhan ikut andil dalam segala kondisiku, aku yakin apa yang terjadi saat itu, jugalah takdirnya. Hingga sosok yang lain, muncul diantara kita, bukan hanya sosok yg tengah bersamamu saat ini, namun yang saat ini tengah bersamaku. Menjadi jawaban pasti akan keadaan kita saat ini.
Hubungan yang begitu lama, bukan jadi sebuah jaminan untuk kita bersama-sama pada akhirnya. Karena sungguh, Tuhan maha membolak-balikan hati manusia. Aku percaya, karena waktu telah menunjukannya. Aku percaya, setelah mereka hadir saat kita berakhir.
Namun, aku mencoba mengerti. Setelah kamu pergi, aku mencoba memahami apa yang telah benar-benar aku putuskan.
Mungkin, orang yang kamu pilih saat ini, ialah orang yang ingin berusaha untuk membahagiakanmu, cintanya lebih besar daripada cintaku yang malah menyakitimu.
Untuk mendapatkanmu, ia berjuang lebih keras daripada aku yang tak benar-benar meneguhkan hatiku untukmu. Dalam menghadapimu, sabarnya lebih luas daripada sabarku yang tak ada apa-apanya. Dalam menerima kurangmu, dadanya lebih lapang daripada aku yang bahkan sering marah akam kesalahan kecilmu. Dalam mendengar keluhmu, telinganya lebih setia daripada aku yang sering acuh akan hal itu. Mungkin itulah alasan mengapa dia ada, dan kita berakhir ditiadakan. Termasuk keinginanmu yang berujung perpisahan sebab aku yang tak benar-benar mampu untuk secepat itu; sebab rasaku yang ternyata tak pernah begitu besar terhadapmu.
"Selamat berbahagia" meski ini adalah kalimat yang aku tidak pernah suka untuk aku tuliskan dalam segala tulisanku. Dan semoga semesta mampu meyakinkanku bahwa akan ada hal indah yang nantinya ada dalam langkah yang saat ini aku tempuh dengan orang baru sebagai penggantimu. Aku mencintainya, yang mungkin tak pernah kamu dapatkan dari sosokku. Aku minta maaf akan hal itu. Kini, biarkan aku tetap ingat akan kenangan kita dulu, namun dengan hati yang tidak lagi tersayat dengan segala hal yang telah terjadi saat bersamamu. Kadang cinta bisa sejahat itu. Tapi aku benar-benar menikmati segala risikonya.















