Apa kabar? akhir-akhir ini sepertinya kamu sibuk ya?
Dugaanku saja sih, karena aku pernah mendengar semilir angin yang menghembuskan cerita tentangmu, katanya belakangan ini kamu sering menjadi perbincangan para manusia.
Aku kadang heran dengan ulah manusia, jika kamu enggan menampakkan diri mereka akan menggerutu.
Padi yang tidak dapat di panen lah, pakaian yang tak kunjung kering
atau para pedagang es yang mengalami penurunan omzet.
Namun jika kamu ada, mereka akan berkata lain lagi.
Panas lah. Gerah.
Kemana perginya sang bayu ?
Dan lain sebagainya.
Apa manusia memang seperti itu ya ?
Bisanya cuma mengeluh. Dan mengeluh lagi.
Yah mungkin ada segelintir yang bersyukur atas keberadaanmu.
Dan kita perlu berterimakasih atas manusia-manusia yang sedikit itu.
Bisa kamu bayangkan kan, jika Pencipta menugasi kita bergantian untuk hadir sebulan sekali menyapa para manusia itu gara-gara mereka alpa untuk bersyukur. Ah entah apa jadinya mereka.
Mereka pasti akan gusar.
Cemas dengan cuaca ekstrem yang semakin sering melanda
Lalu mereka akan mulai menyalahkan pemanasan global yang sering dibicarakan di televisi itu lho, yang katanya akibat efek rumah kaca lah
penggunaan transportasi yang memicu emisi karbon lah
atau sebab adanya peningkatan konsumsi hewani karena katanya emisi dari pembuatan pakan dan pencernaan hewan ternak itu menyumbang persentase yang besar terhadap kenaikan suhu bumi.
Jangan tanya aku seberapa besar persentasenya, kamu tau sendiri bagaimana nilai matematikaku dulu. Padahal kan ya tanpa mereka sadari itu juga karena ulah mereka. Duh aku semakin tidak mengerti nih.
btw, kenapa aku jadi cerewet sekali mengomentari tingkah pola para manusia itu ya. Ehm padahal niat awalku hanya ingin membalas suratmu yang dulu.
Sekarang giliranku yang pergi berlibur
dan membiarkanmu mengambil alih
kamu ingin oleh-oleh apa dariku?
bagaimana kalau begini saja :
kita janji bertemu di satu masa
hujan dan kemarau
lalu kita biaskan beragam warna-warni di langit
pasti indah :)
Salam rindu,
dari hujan yang belum bersedia turun
ps :
oia, jika kamu lihat mega berubah menjadi kelabu
maukah kamu menungguku?
mungkin saja aku akan menghampirimu
meski sejenak
Medan, Juni yang ke-29 di 2015
sembari menanti hujan yang belum juga datang