Perempuan (lagi) Dua Puluhan
Untuk perempuan, yang terlahir di tanggal yang sama denganku hari ini.
Hai, kita generasi milenial. Terlahir sebagai perempuan 97-98, ketika masa kecil kita masih bermain sederhana dan hangat. Semasa kita masih senang dengan alam. Semasa itu, yang kita tak tahu akan menjadikan kita hari ini.
Kita perempuan berusia dua puluh tahunan, bukan berusia dua tahun. Hari ini mungkin tak ada kue, lili, balo, dan aneka perayaan lainnya. Tak ada juga ucapan-ucapan yang banyak, seperti tahun sebelumnya. Hanya yang paling terdekat, yang mampu mengingat. Tak apa perempuan-perempuan tangguh. Sebatas angka dan perubahan memang bukan hal yang harus diucapakan dan dirayakan, bukan?
Kita perempuan berusia dua puluh tahunan, mungkin pula hanya beberapa teman yang mengingat, tentang tanggal yang menurutmu penting. Tak apa, perempuan. Bukan perkara penting dan tidak penting, hanya prioritas yang berbeda. Lingkaran pertemanan yang membuatmu mengerti, bahwa pertemanan bukan hanya sebatas suka dan duka. Lingkaran pertemanan yang mendekatkan pada Rabb dan mendewasakan diri.
Kita perempuan berusia dua puluh tahunan, ada yang berubah dan tetap utuh. Kita berubah dengan segala sikap dan pemikiran, dari jenjang pendidikan maupun lingkungan. Masih ada yang tetap utuh, kasih dari ibu dan bapak. Bagi mereka hari tanggal lahirmu, bukan hal penting untuk dirayakan. Sebab bagi mereka, setiap saat dapat bertemu dan mengetahui kita baik-baik saja itu sudah cukup.
Kita perempuan berusia dua puluh tahunan, akan ada hal-hal yang membuat kita khawatir tak berkesudahan. Tetaplah begitu, sebab dengan itu menjadikan pribadi kita hari ini. Tumpukkan kekhawatiran, yang menumbuhkan perbaikan.
Kita perempuan berusia dua puluh tahunan, kelak kita akan berperan menjadi istri, ibu, dan nenek. Kelak kita akan menua, maka ceritakan tentang hari ini. Kita hidup dengan asa-asa yang kita rapal menjadi doa. Tentang masa yang akan datang, perihal itu serahkan pada Rabb.
Kemampuan kita hanya sebatas, mengikhtiarkan untuk menjadi perempuan yang sering didengar di bumi dan langit. Bumi adalah tempat manusia-manusia berkumpul, kadang bagi kita perempuan tempat ini asing dan sesak. Segala rasa telah kita jumpai, rasa-rasa yang menyesakkan, membuat kita melebur dalam tangis.
Manusia-manusia hanya boleh tahu, kita sedang baik-baik saja. Sebab, tak banyak yang mampu merangkul, mereka hanya bertutur. Kejam memang. Sedang, langit tempat tinggal makhluk-makhluk mulia ‘pengabdi’ pada Rabb. Tempat yang kita merapalkan doa-doa. Jika nama kita tak sering terdengar di bumi, semoga lebih sering terdengar di langit.
Doaku untuk teman-temanku
Fitria R Zain | 11 Februari 2019, selamat menua.