Kepada penyair pelo, wiji
Lihatlah Wiji,
Rakyat sudah seringkali pergi
Sesaat setelah penguasa berpidato
Meski sudah hati-hati
Kendati begitu rakyat tidak pernah asa
Lihatlah wiji,
Syairmu tidak pernah hilang
Tidak pernah redup
Juga tidak pernah ditelan masa
Perlawanan-mu abadi
Dan yang dilawan olehmu juga sama abadinya
Rakyat tidak lagi ber bisik-bisik,
Justru malah bisa berisik
Meski sebagian nya dibuat cadel oleh kebijakan
Sebab membicarakan masalahnya sendiri
Namun para penguasa itu memang tidak pernah terima dan tidak mahu mendengar.
Meski rakyat sudah banyak yang mengeluh
Para penguasa tidak paham gasat,
Dan mereka tidak ingin di bantah,
Rakyat sudah terancam.
Namun, Rakyat tetap berpegang teguh katamu,
"Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!"
Kepada penyair pelo,
Meski ragamu entah dimana, namamu abadi dalam setiap malam-malam perlawanan.
Selamat terus bertambah usia muda.
Jika aku sipon, aku akan berkata "Aku mencintaimu dengan berani dan penuh kesadaran"
Jika ingin (sudah) pulang, pulanglah dengan tenang.