Ruangan Itu Selalu Untukmu
Di dalam hatiku ada satu ruangan yang tidak pernah kuisi dengan yang lain.
Bukan karena aku tidak mencoba — aku pernah. Tapi setiap kali seseorang masuk, mereka selalu merasakan ada yang berbeda di ruangan itu.
Udaranya bukan untuknya. Cahayanya bukan untuknya. Keheningannya pun sudah terlanjur berbentuk dirimu.
Maka mereka pergi. Dan ruangan itu kembali — seperti selalu — menunggumu.
Bukan dengan sedih. Bukan dengan amarah. Hanya dengan pintu yang tidak pernah benar-benar tertutup dan lampu kecil yang selalu kubiarkan menyala siapa tahu kamu butuh cahaya di tengah malam yang paling gelap sekalipun.
Kamu mungkin tidak tahu bahwa ada namamu di dinding itu — bukan kutulis dengan tinta, tapi dengan semua momen yang kita tidak sempat jalani bersama.
Semua percakapan yang hanya terjadi di kepalaku. Semua perjalanan yang kubayangkan tapi kutempuh sendiri. Semua tawa yang rasanya lebih lengkap kalau kamu ada di sebelahku.
Dan ruangan itu tidak kosong — justru penuh. Penuh dengan versi-versi kita yang tidak pernah kesampaian.
Aku tidak menahanmu. Aku tidak memintamu datang.
Aku hanya membiarkan ruangan itu tetap ada — sebagai bukti bahwa kamu pernah begitu nyata di hidupku, sampai-sampai hatiku sendiri tidak sanggup menghapusmu.
Jadi biarlah. Biarlah ruangan itu selalu untukmu.
Bukan sebagai penjara — tapi sebagai rumah yang selalu siap kalau suatu hari kamu membutuhkan tempat untuk pulang. 🕯️












