Hai Bumi, Terasa semakin jauh saja bayangnya, meski langkahku tak segontai saat dia pergi, namun tetap sakit rasanya mengingat bagaimana waktu merenggut segalanya dariku. Kini, mungkin dia telah menemukan kembali matahari yang menghangatkannya juga mampu menerbitkan senyum itu dari sudut-sudut bibirnya. Aku turut berbahagia untuk itu, karena memang seharusnya begitu. Walau bukan bersumber dari kedua tanganku, dia layak memiliki kebahagian sendiri. Bumi, kau tahu tidak? Dahulu, aku pernah sangat membencinya. Bukan salahnya, aku tahu persis apa yang terjadi dengan diriku. Tentu, tidak mudah bagiku untuk menerima semua perubahan dalam sekali kejut. Bahkan, kalau boleh aku melampiaskan segala amarahku, rasanya ingin aku mengejarnya hanya untuk membalas rasa sakitku. Beruntungnya, aku terselamatkan oleh seorang manusia yang entah kenapa Tuhan kirimkan dihari itu. Aku tak banyak bicara, hanya mendengarkan saja. Dan, aku tergugu dengan reaksi nalarku sendiri. Memang belum sampai kemampuanku untuk memaafkan, tetapi aku memahami apa yang terjadi (di masa lalu) dengan begitu mudah. Tiba-tiba saja, aku mengerti. Hatiku menghangat dan aku menyadari tangan Tuhan-lah yang sedang membelaiku melalui mereka; orang-orang yang tanpa kusadari telah membesarkan hatiku juga menarikku dari keterpurukan. Bumi, aku tidak lagi takut, walaupun rasa sakit itu masih ada. Tetapi baik kan, bumi, jika aku mulai berani menghadapi luka itu sendirian? Tanpa menangis seperti dulu, tanpa harus bersembunyi lagi, bukankah begitu? Aku ingat, pesan semesta untuk tetap berjalan, tetap melangkah, meski aku tak pernah tahu arah tujuanku, jangan berhenti. Maka, kulakukan! Oh Bumi, sekarang aku mulai pahami, kenapa aku harus terus berjalan. Dengan begitu, aku akan menemukan banyak hal baru, membuat mataku lebih terbuka, membuat hatiku lebih ringan. Aku bertemu tak hanya satu, bahkan banyak manusia yang datang silih berganti untuk memberiku warna yang baru. Aku paham, meski aku belum bisa memaafkan. Tetapi aku berbahagia untuknya, untuk setiap keputusannya. Dan aku yakin, nanti akan ada saatnya aku bisa memaafkan segalanya, disaat hatiku merasa siap untuk itu. Terimakasih Bumi, terimakasih Semesta, untuk selalu mengajarkanku hidup.