semakin kita mengenal diri kita dengan baik, dengan segala value kita, dengan apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan kita, paham dengan apa yang kita deserve, paham dengan apa-apa yang tidak akan mau kita tolerir, maka akan semakin mudah dan merasa biasa-biasa pula kita menghadapi penolakan, kepergian, ditinggalkan, dan juga melepaskan sesuatu.
kenapa? karena nothing to lose. kita tahu bukan kita yang kehilangan, tapi mereka.
kita adalah keberuntungan dalam hidup mereka. saat mereka memilih melepaskan, dan tidak memperlakukan kita dengan baik. merekalah yang rugi, bukan kita.
untuk sampai di pola pikir ini tuh butuh bertahun-tahun menjadi people pleaser. butuh bertahun-tahun mengemis agar diperhatikan, disayangi, dan dicintai. butuh bertahun-tahun pulih dari duka ditinggalkan dan memohon-mohon seseorang untuk tetap tinggal.
jadi emang butuh waktu yang gak sebentar untuk sampai pada tahap,
recorvery dan move onnya bisa lebih cepat
akal dan nalarnya masih bisa berjalan dengan baik meski udah setengah waras
udah lebih cuek sama apa-apa yang datang dari orang lain dan gak bisa kukendalikan. orang mau pergi? silakan. kalau perlu kubukain pintu. tapi jangan harap buat bisa balik.
untuk sampai di keadaan ini, aku belajar untuk lebih mencintai diri sendiri, dan memahami apa yang sebenarnya aku mau dan butuhkan. aku belajar untuk lebih mendengar apa yang sebenarnya badanku mau. mulai dari yang kecil, belajar mengetahui prioritas. kayak kalau badan udah mau remuk, dan mata udah setengah wat, yah langsung tidur. jangan dipaksa buat tetap melek, apalagi bila cuman buat main ponsel atau chattan sama seseorang. atau yang paling besar ya langsung cut off orang-orang yang cuma bikin nambah pikiran. dan juga pasang batasan, dan belajar menghargai batasan tersebut. jangan suka tawar-menawar sama batasan yang kita buat, karena akhirnya malah kita jadi menyepelakan batasan tersebut.
diriku yang saat ini gak terbentuk satu malam. aku masih banyak bingungnya. aku masih banyak kelirunya. tapi aku yang masih kecil pasti akan dengan lantang mengatakan bahwa i became someone that i wish for.