SERIAL KONTROVERSI KARTINI
Tujuh tahun lalu, dari 16 April 2013 hingga 19 April 2013, saya mempublikasikan sertial esai tentang RA Kartini. Saat itu saya menjadi kolomnis tetap laman newsroom Yahoo! Indonesia.
Serial esai itu hendak mendiskusikan kembali posisi Kartini dalam lanskap historiografi Indonesia. Premis dari serial esai itu adalah: Kartini sudah mati, tapi wacana tentang Kartini terus menerus direproduksi berdasarkan kepentingan zaman dan kekuasaan. Saya mencoba memaparkan bagaimana wacana tentang Kartini direproduksi di zaman kolonial, zaman Sukarno dan zaman Orde Baru secara berbeda dan dengan itulah Kartini hadir secara berbeda-beda di setiap zaman.
Serial itu cukup ramai dibicarakan dan ditanggapi netizen Indonesia. Hingga kini, tiap 21 April, selalu saja ada yang ingat dan membagikan kembali serial esai tersebut. Laman yang memajang esai-esai itu beberapa di antaranya tidak aktif lagi, sehingga lumayan sukar diakses, walau ada beberapa laman yang mempublikasikan ulang. Untuk itulah saya menyatukan esai-esai itu dan mengunggahnya kembali dalam satu laman di blog pribadi.
Selamat membaca, siapa tahu berguna.
Bagian 1: KARTINI BUKAN PAHLAWAN
RA Kartini adalah pahlawan nasional no. 23. Dia juga bukan pahlawan nasional perempuan yang pertama. Posisi Kartini dalam daftar urutan pahlawan nasional setelah nama Cut Nyak Dien dan Cut Meuthia, dua pejuang Aceh yang angkat senjata melawan pendudukan Belanda. Pahlawan nasional nomer 1 ditempati Abdoel Moeis, seorang lelaki-pengarang [alias bukan pejuang di medan perang] dari Sumatera [alias non-Jawa].
Kartini secara resmi ditetapkan sebagai pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden [Kepres] No. 106 Tahun 1964. Ada tiga nama yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional melalui Kepres yang ditandatangani Presiden Sukarno itu. Tiga nama itu secara berturut-turut adalah Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meuthia dan Kartini.
Sebelumnya, sudah ada 20 pahlawan nasional yang semuanya laki-laki. Komposisi atribusi 20 pahlawan nasional itu adalah: 11 orang Jawa, 2 orang Sunda, 1 Betawi, 2 Batak, 1 Minahasa, 3 Melayu, 1 orang Indo [Douwes Dekker]. Mayoritas di antaranya Muslim, sisanya Katolik dan Kristen, dan 1 atheis [Tan Malaka].
Saya sengaja membuka tulisan ini dengan paragraf yang berisi tetek bengek nomer urut dan atribusi itu [perempuan, pengarang, pejuang yang angkat senjata, Sumatera, non-Jawa]. Alasannya sederhana: diskursus kepahlawan nasional di Indonesia memang seringkali diimbuhi oleh tetek-bengek atribusi macam itu. Dan Kartini tepat untuk dijadikan contoh mengenai pokok persoalan satu ini.