Hari ini adalah hari yang supeerrrrr menyenangkan, meskipun jadwal kami teramat padat. Setelah sarapan pukul 6 pagi, ada diskusi panel bersama mas Wahyu Aditya, founder HelloMotion. Mas Wadit menayangkan beberapa animasi hasil karya beliau kepada kami semua, dan itu sukses membuat kami terpingkal-pingkal, khususnya aku dan kak Sherina yang tertawa paling keras. Tayangan-tayangan itu membuat kami sejenak lupa akan lomba yang sudah di depan mata.
Selesai diskusi panel bersama mas Wadit, keseratus dari kami dipisah sesuai kategori. Anak syair dibawa menuju ruangan di dekat kolam renang, begitu pula anak komik yang menempati ruangan disebelah ruang syair. Sementara anak cerpen, tetap berada di ballroom.
Kami mendapat pelatihan dari mentor-mentor keren yang berpengalaman di masing-masing bidang, seperti anak cerpen yang dimentori oleh kak Dewi Rieka, penulis Anak Kos Dodol sekaligus juri lomba cerpen yang mengajarkan kami hal-hal dasar dalam menulis cerpen.
Menurutku, bagian itu adalah bagian paling membosankan. Bukan, bukan karena aku merasa sudah banyak tahu tentang menulis, tapi karena slide yang terlalu cepat yang membuatku tidak bisa fokus memperhatikan mbak Dedew.
Selesai coaching class, ada waktu 10 menit untuk coffee break. Kami dipersilahkan menyantap camilan yang telah disediakan. Saat waktu coffee break sudah berakhir, aku dan kak Sher yang baru saja keluar dari toilet segera mencari tempat duduk, ternyata tempat duduknya tidak boleh bersebelahan. Harus ada satu kursi kosong di antara dua orang. Tempat yang kosong untuk berdua sudah habis, sehingga aku dan kak Sherina terpaksa berpisah. Aku duduk di sebelah Farid di barisan kedua bagian kiri sementara kak Sherina berada di bagian kanan paling depan.
Setelah semua berkumpul di ballroom, kak Benny ketua panitia ARKI 2015, memberitahukan tema cerita kami. Temanya memang diumumkan di tempat, sehingga kami tidak bisa berlatih dan bersiap-siap terlebih dahulu. Temanya sangat unpredictable dan sangat jauh dari tema cerpen saat seleksi.
Tema yang akan kami lombakan ialah Warnai Indonesiamu dengan subtema kota/tempat. Jadi, kami disuruh menceritakan suatu tempat atau suatu kota yang berhubungan dengan warnai Indonesia. 30 Menit pertama, otakku benar-benar blank. Aku tidak tahu harus menulis apa, berkali-kali mengganti kertas, dan ketika aku baru setengah halaman, teman di belakangku sudah 3 halaman. Buset dah:â)
Singkat cerita, 2 jam waktu yang diberikan telah habis. Aku yang sudah selesai menulis, keluar meninggalkan meja dan teman-teman yang belum selesai. Kami dipersilahkan untuk menyantap makan siang yang telah disediakan, tetapi aku tidak langsung makan. Aku berniat untuk makan bersama teman sekamarku sekaligus berkeluh kesah tentang lomba yang baru saja kami laksanakan tadi. Â
Karena ayuk anak syair, aku agak kesulitan mencarinya. Hingga kemudian aku bertemu Niar di ruang makan di depan ballroom. Aku bertanya letak ruangan anak syair kepadanya. Niar mengajakku ke atas, ke area kolam renang.
Disana, terdapat dua ruangan bersebelahan yang merupakan tempat anak syair dan anak komik berlomba. Kami menunggu di depan pintu ruangan syair, tapi ayuk tidak kunjung keluar. Niar yang kelaparan memintaku kebawah untuk menemaninya makan. Akhirnya, aku terpaksa makan duluan.
Selesai makan, aku bolak-balik ke tempat anak syair berlomba untuk mencari ayuk yang hingga saat itu tak kunjung kutemukan. Padahal, setengah jam lagi kami harus sudah berkumpul di ballroom untuk kegiatan selanjutnya. Waktu yang seharusnya kupakai untuk mandi dan bersiap-siap malah kupakai untuk mencari teman sekamarku.
Saat balik dari area kolam renang, aku bertemu Sandy dan Billy. Aku bertanya kepada mereka perihal teman sekamarku. Sandy bilang, âtadi ada sama.. Mita di lantai 9.â. Setelah mengucapkan terima kasih, aku terburu-buru menaiki lift menuju lantai 9.
Aku membuka pintu kamar, kosong. Aku tidak berani masuk dan mandi dalam keadaan sendirian di kamar. Aku kebingungan mencari ayuk, sampai akhirnya aku bertemu Gadis yang sedang menunggu lift.
Aku bercerita kepada Gadis bahwa aku kehilangan teman sekamarku, Gadis pun menemaniku mencarinya. Gadis bilang, ia tahu dimana kamar kak Mita.
Gadis menunjukkan kamar kak Mita. Aku mengetuk pintu kamar itu berkali-kali, tidak berani memanggil nama ayuk karena masih belum pasti apakah orang yang kucari berada di dalam.
Salah seorang peserta yang tidak kuketahui namanya membukakan pintu. Aku bertanya, âAda kak Mita?â.
Dari balik pintu tersebut, aku dapat melihat ayuk dan kak Mita serta salah seorang teman sekamarnya sedang mengobrol. Lantas aku berteriak memanggil, âayuk!!â
âYaampun kamu darimana aja sih? Ayuk daritadi nyariin kamu!â Ayuk memelukku.
âAku juga daritadi nyariin ayuk bolak balik ke tempat anak syair, eh ternyata disini.â
âAyuk tuh nyariin kamu, ayuk ga bisa masuk ga ada kamu. Kan, kamu yang pegang kuncinya. Makanya ayuk ikut Mita ke kamarnya.â
âAyuk selesai lombanya kapan? Aku daritadi nungguin di depan situ gak keluar-keluar ayuknya. Aku tadi selesainya cepet.â
âAyuk juga selesainya cepet. Ih Sandy cepet banget tau dia nulis syairnya langsung selesai beberapa menit kemudian..â
Kami berjalan menuju kamar. Bergegas untuk mandi dan bersiap-siap menggunakan waktu yang tersisa. Ayuk yang tadi âmenghilangâ tidak sempat makan siang. Akhirnya, ayuk menahan lapar sampai makan malam tiba.
Kegiatan selanjutnya adalah social activity bersama kakak-kakak dari World Wildlife Fund (WWF). Saat itu, kami diminta untuk membayangkan barang apa saja yang akan kami bawa dari bumi seandainya planet ini hancur dan kami harus mencari tempat tinggal baru.
Disinilah kelompokku mulai bekerjasama secara kompak. Anak-anak komik menggambar roket, sementara sisanya saling mengusulkan ide. Disini jugalah terlontar hal-hal konyol penuh canda tawa dan diskusi ringan dari kelompok kami.
âBuat nanam pohon lahâ
âBibit pohon deh kalau gitu.â
âYaa siapa tau disana gak ada oksigen. Gimana kita hidup coba?â
âBuku! Untuk nyatat dan baca.â
âKalau gitu kita harus bawa pensil.â
âNggak usah, disana ada bahan apa gitu yang buat bikin pensil. Apa ya namanya? Lupa.â
âKita bawa wi-fi dan gadget!â
âHahaha iya bener biar ada yang bisa dimakan.â
âBawa sabun dan peralatan mandi lainnya.â
âBawa persediaan air!â
âBawa kompor! Buat masak indomie.â
âKalau gitu kita tambahin panci.â
âGimana kalau.. pembalut?â
Semuanya hening. Sedetik kemudian, pecah tawa satu kelompok.
âYa ampun! Kamu lagi haid? Wkakaâ
âEh tapi bener juga, sih. Kalau bocor gimana?â
âEh, nggak usah. Malu-maluin aja. Hahaa.â
Setelah selesai menggambar dan menuliskan isi pikiran, kami mengumpulkan hasil karya kami, kemudian menunggu kelompok kami dipanggil untuk presentasi. Oh iya, sebelumnya kami diminta memberikan nama untuk roket kami. Tanpa pikir panjang, Angel dan Sandy memberi nama â64UL 4L4Y 0006â untuk roket kami. Saat aku tanya kenapa 0-nya ada 3, Sandy menjawab, âBiar kayak pesawat boeing kosong kosong kosong berapa gitu.â Nama itupun resmi menjadi nama kelompok kami.
Sangat disayangkan, kami tidak diberi kesempatan memamerkan kecerdasan kami. Aku dan teman-teman kecewa, kami sampai memohon kepada salah satu kakak dari WWF untuk maju mempresentasikan hasil kerja kami. Tapi tidak digubris. Pupus sudah impian kami.
Selanjutnya, kami diminta untuk mengeluarkan baju bekas yang sudah disiapkan dari jauh-jauh hari. Kakak-kakak itu mengajarkan cara membuat totebag dari baju bekas. Kami yang sok tahu dan banyak tingkah, dengan percaya diri mengerjakan langkah demi langkah meski hasilnya selalu gagal.
Di saat inilah, kelompokku menujukkan eksistensi kami. Saat membuat totebag, kami selalu disorot kamera. Karena dari seluruh kelompok yang ada, kami yang paling ramai. Disaat kelompok lain diam memperhatikan, kami tertawa bersama dan meneriakkan âYEEYYâ saat salah satu bagian dari baju bekas kami selesai dipotong. 4 baju bekas, 4 kali gagal. Salah satu dari percobaan yang gagal, kami jadikan kepala pocong. Potongan-potongan kain dari baju bekas kami masukkan ke dalamnya. Kemudian kami ikat di atas seperti pocong. Lalu, dengan tidak tahu malu kami berfoto bersama âpocongâ buatan kami.
Kegiatan berikutnya adalah games. Kami dipersilahkan untuk berganti pakaian yang âbolehâ untuk dibikin basah. Karena kami.. akan bermain games di area kolam renang. Kalau sudah main disana, tentu saja bakal nyebur.
Selesai berganti baju, aku dan ayuk turun ke bawah. Disana ada 5 pos dan kami bermain bergiliran. Kelompokku bermain bersama kelompok 5. Di #ARKIGames, ada pos tebak huruf dan nomor, ada pos tebak lagu, ada pos cerdas cermat dimana kita melawan kelompok lain untuk adu kecepatan menjawab pertanyaan dan mengambil bendera, ada pos memindahkan air dalam gelas ke ember menggunakan tali, dan terakhir ada pos mengisi air ke dalam pipa yang bolong di dalam kolam renang.
Saat #ARKIGames, kelompok 6 kembali menunjukkan eksistensinya. Hampir setiap saat kami meneriakkan yel-yel kami, âENAM ENAM ENAM ENAM YEEY!â.
Saat sebelum briefing, selesai briefing, sebelum bermain, dan setelah bermain kami selalu meneriakkan yel-yel kami. Tak jarang, saat melingkar menyatukan tangan, kami disorot oleh kamera. Hari kedua adalah hari dimana kelompok 6 berkali-kali disorot kamera.
Setelah selesai bermain games, seluruh kelompok duduk berbaris. Kakak panitia menghitung bola yang ada di dalam ember kami, di bola itu bertuliskan angka atau poin yang kami dapatkan. Setelah menghitung poin seluruh kelompok, pemenangnya jatuh kepada kelompokku, kelompok 6 dengan poin terbanyak yaitu 66, disusul oleh kelompok 9 dengan poin 59 *kalau tidak salah.
Kami bersorak, tidak menyangka bahwa tanpa sadar kami berhasil mengalahkan seluruh kelompok. Kami tidak berniat menang, hal itu adalah sebuah keberuntungan. Setelah itu, kami semua berfoto bersama di kolam renang. Meneriakkan yel-yel ARKI, âARKI 2015? THE NEXT CREATOR!â.
Akhirnya, setelah sesi berfoto bersama, semua peserta ARKI keluar dari area kolam renang menuju kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Kaki kami yang kotor bekas debu dan air (well, kami melepas sandal) membuat berantakan area kolam renang. Dari jendela kamarku, aku dapat melihat âkekacauanâ yang tadi kami buat di tempat itu. Betapa repotnya cleaning service hotel membersihkan semua itu.. area kolam renang, begitu kotor.
Usai sholat maghrib, saat aku dan ayuk hendak turun ke bawah, kami bertemu dengan salah seorang kakak panitia yang membawa gadis sebaya kami. Rupanya, gadis itu baru saja datang. Ia adalah peserta ARKI kategori cerpen asal Banten, Nurhayati. Karena suatu kendala, ia baru bisa hadir di malam kedua.
Karena Nur belum tahu teman-teman sekelompoknya dan dimana kamarnya, aku dan ayuk menawarkan tumpangan kepadanya. Akhirnya, malam itu Nur tidur bersama kami. Setelah menaruh tas di kamar, Nur turun ke ballroom bersama kami. Nur bilang, dia kelompok 7.
Aku pun membantu mencari teman sekelompok Nur, Meilisa. Kemudian, saat Mei datang ke ballroom, aku mengenalkan Nur pada Meilisa. Nur pun bergabung bersama kelompoknya. Dan aku, bergabung bersama kelompokku.
Malam itu, kami ada kegiatan musik akustik. Disana, kami disuguhkan performance dari sebuah band asal Bandung, dan beberapa teman kami yang bermain gitar sambil bernyanyi. Kelompokku berencana untuk menampilkan musikalisasi puisi dimana Sandy akan berpuisi dan Keia bermain gitar sementara sisanya akan menari nggak jelas di sekitar mereka. Aku mengangkat tangan dan mengusulkan ide kami, kemudian Keia dan Sandy diminta ke belakang untuk mempersiapkan penampilan mereka.
Saat Keia dan Sandy berlatih, teman-teman kelompokku yang lain sedang heboh membicarakan tentang Jepang bersama teman-teman dari kelompok 5. Karena aku enggak ngerti apa-apa soal itu, aku dan Ryan menghampiri Keia dan Sandy di belakang. Saat akan kembali ke tempat teman-teman duduk, aku dan Ryan diwawancara oleh program TV lokal, kami diminta memperkenalkan diri dan menceritakan kesan dan pesan kami terhadap ARKI 2015. Sumpah, guguuuupp padahal aku udah niat untuk bersikap biasa aja di depan kamera, tapi gemeteraan wkwkwk.
Aku berjalan ke tempat teman-temanku berkumpul. Saat hendak duduk, salah seorang gadis sebayaku menghampiriku dan bertanya apakah aku akan maju bermain gitar atau tidak. Aku jawab tidak, karena aku tidak bisa bermain gitar dan aku hanya mengusulkan penampilan teman-teman kelompokku. Saat itu, aku sempat menanyakan namanya, ia adalah Alifia asal Semarang.
Malam itu, Alifia bermain gitar membawakan lagu She Looks So Perfect dari 5 Second of Summer, disusul oleh Keia yang juga bermain gitar membawakan lagu Perfect dari One Direction. Sementara Sandy tidak jadi âduetâ dengan Keia karena ia dipanggil untuk menyusun deklarasi.
Sebelum kami semua kembali ke kamar masing-masing, ibu-ibu pendamping maju menampilkan goyangan maut ala mereka dengan diiringi musik dangdut. Ryan, sebagai ketua kelompok tidak tahu malu, memimpin kami untuk maju ke depan panggung. Aku dan kelompokku beserta beberapa anak lain membelakangi teman-teman yang sedang duduk, kemudian berjoget mengikuti gerakan Ryan. Ryan memandu kami, ia meminta kami mengikuti gerakan senamnya. Alhasil, satu kelompok bukannya berjoget malah senam diiringi musik dangdut. Kami semua tertawa bahagia, sementara teman-teman lain duduk kebingungan melihat aksi kami.
Kegiatan di ballroom berakhir, kami semua kembali ke kamar masing-masing. Tapi, aku dan cewek-cewek kelompok 6 berniat untuk âhang outâ ke lantai 24 bareng-bareng. Kami kembali ke kamar masing-masing terlebih dahulu kemudian berkumpul kembali di kamar Keia.
Kami mengajak Nur, tapi Nur memilih untuk tinggal di kamar. Jadi, aku dan ayuk mengantarkannya ke kamar kemudian kami kembali lagi ke kamar Keia. Dan petualangan pun dimulai..
Aku dan teman-teman kelompokku rame-rame naik lift ke lantai 24. Saat lift berada di lantai 23, kami semua sudah deg-degan dan ketakutan, masing-masing dari kami membaca basmalah. Muka kami pucat pasi saat lift tiba di lantai 24. Pintu perlahan terbuka, dan.. kami semua langsung berteriak ketakutan, merapatkan diri ke dinding lift. Tidak ada yang berani memencet tombol lift agar pintu segera tertutup. Yang kami lihat, lantai 24 adalah gudang dengan ember cat dan papan lapuk yang berserakan. Ruangan itu kosong, gelap, dan sunyi.
Usai bermain-main ke lantai paling atas, kami mencari hiburan untuk meredakan rasa takut. Akhirnya, kami masuk ke kamar Keia dan Niar, membuat berantakkan isi kamar mereka. Hal yang sama juga kami lakukan di kamar Sandy dan Ryan, dua cowok kelomok 6 yang tidak ikut berpetualang.
Setelah itu, kami semua pulang ke kamar masing-masing. Saat sampai di kamar kami yang kebetulan tepat di seberang kamar Sandy, aku diajak Ayuk turun kebawah untuk menemui kedua orangtuanya. Enggak, aku enggak melamar ayuk dan aku bukan pacar ayuk sehingga harus dikenalkan ke orangtuanya. Oke, ini receh. Jadi, ayuk itu asli Jakarta, tapi karena suatu alasan ia terpaksa merantau ke Bengkulu dan tinggal bersama tantenya disana. Sementara kakak dan ibunya tetap di Jakarta. Ayuk pindah ke Bengkulu sejak lulus SMP dan sekarang Ayuk sudah kelas 3 SMA, itu artinya sudah 3 tahun Ayuk tidak bertemu dengan orangtuanya.
Sebagai adik kecil yang penurut, aku mengekor ayuk ke lobby untuk bertemu keluarganya. Malam itu penuh haru. Ayuk dan kakaknya berpelukan sangat erat dan berulang kali. Saat ayuk lepas kangen dengan keluarganya, aku juga diajak berfoto bersama mereka dan di post di facebook kakaknya Ayuk.
Setelah dirasa sudah cukup untuk mereka lepas kangen, keluarga Ayuk pamit pulang. Aku dan ayuk meninggalkan lobby dan berjalan menuju area kolam renang, tengah malam, berdua. Kami duduk-duduk sebentar disana, mengobrol ringan sambil menatap hiruk pikuk kota Jakarta dari atas. Tak lupa, kami menghabiskan memori HP-ku (read : berfoto).Â
Karena Nur sudah menunggu di kamar sendirian, aku dan Ayuk kembali ke kamar. Di kamar, kami bertiga membuat video gaje untuk kenang-kenangan. Kemudian di tengah kesibukan membuat video, seseorang mengetuk pintu kamar. Ayuk beranjak membuka pintu, kemudian masuklah kak Sherina.
âKalian harus tau ya, aku dikunciin dari luar lagi sama temen sekamarku.â Kata kak Sherina saat baru saja masuk ke kamar kami.
âLagi? Kemaren malem kan juga? Kok bisa?â
âIya, aku kan tadi abis dari kamarnya *aku lupa siapa*, latihan baca puisi buat di kemendikbud besok. Aku bilang ke kak Rod jangan tidur dulu ya terus dia bilang iya. Eh tetep aja ditinggal tidur. Aku nginap disini lagi ya?â Â pintanya.
Akhirnya, kami berempat tidur bersama. Tebak, yang mana aku?
Nggak apa-apa aib, kenangan gak bisa diulang.