Distraksi Itu Adalah Musik
Musik sudah melekat di telinga gue sejak Baby One More Time rilis di MTV 23 tahun lalu. Sejak saat itu gue setia menjadi anak nongkrong MTV, membawa walkman ke manapun, dan menyumpal telinga dengan earphone. Gawai yang gue gunakan pun berevolusi mulai dari walkman, walkman phone, music phone, hingga iPod.
Lebih dari dua dekade telinga gue disumbat oleh musik dalam kondisi apapun: belajar, bekerja, dalam perjalanan, menulis, berbenah rumah, sedih, duka, senang, marah, termasuk saat bengong. Gue akan misuh-misuh seharian jika baterai gawai habis atau earphone gue mati sebelah. Meski terkadang telinga gue juga sakit karena musik yang terlalu intens, sulit bagi gue untuk membayangkan hidup tanpa mendengarkan musik.
Saat ini gue masih berada dalam masa mengulik kesalahan apalagi yang gue lakukan ketika belajar dan bekerja (sebelumnya gue pernah menguraikan sepuluh kesalahan selama belajar di jenjang sarjana). Dari pencarian ini gue mendapati lagi satu kesalahan lain yang gue lakukan ketika belajar: mendengarkan musik.
Kunci utama dari belajar yang efektif adalah fokus. Namun sebelum titik fokus itu dicapai ada dua hal yang kerap menjadi penghambat, yaitu procrastination dan mudah terdistraksi. Procrastination atau menunda bisa jadi datang karena seseorang memiliki opsi lain yang lebih menarik untuk dilakukan. Bisa juga, tanpa disadari pekerjaan tersebut sebetulnya kurang disukai atau kurang menggugah sehingga mereka memilih untuk menghindar.
Hambatan ini didukung oleh sifat alamiah manusia yang cenderung enggan berpikir. Sebab saat kita berpikir, ada rasa kurang nyaman yang timbul. Padahal ketika kita mencerna masalah yang asing bagi memori kita, di situlah proses belajar berlangsung.
Keengganan manusia untuk berpikir semakin difasilitasi dengan beragam distraksi. Dalam Ultralearning (Scott Young, 2019) disebutkan musik sebagai contoh distraksi setelah ponsel pintar. Banyak orang yang mengaku lebih fokus ketika mereka bekerja sembari mendengarkan musik. Padahal kenyataannya adalah, bisa jadi sebetulnya mereka tidak mau mengerjakan pekerjaan tersebut sehingga musik menjadi tempat pelarian dalam bentuk low-level amusing distraction.
Fakta ini dikupas lebih detail dalam How to Take Smart Notes (Sönke Ahrens, 2017). Di situ disebutkan multasking sebagai faktor lain yang menyebabkan kita sulit fokus. Dan mendengarkan musik adalah contoh multitasking yang sering terjadi di bawah alam sadar. Jujur saja, ketika kita bekerja sembari mendengarkan musik, sedikit banyak fokus kita terpecah antara mendengarkan musik (bahkan bernyanyi) dan berpikir untuk pekerjaan di depan mata.
Banyak orang yang berpikir mereka sudah andal dalam multitasking, khususnya belajar sembari mendengarkan musik. Anggapan ini tidak bisa dibenarkan sebab sebetulnya rasa andal tersebut muncul akibat efek paparan (mere-exposure effect); kondisi di mana ketika kita melakukan sesuatu berulang kali sehingga kita percaya bahwa kita sudah cakap dalam hal tersebut terlepas bagaimana performa yang sesungguhnya. Bisa dikatakan, familiar tidak sama dengan andal.
Jika Ultralearning memberikan musik sebagai contoh distraksi yang lebih sederhana dibanding ponsel pintar, Digital Minimalism (Cal Newport, 2019) membeberkan bahwa kehadiran musik dalam bentuk iPod adalah titik awal kita terdistraksi secara konstan. Distraksi konstan ini kemudian semakin masif sejak kelahiran ponsel pintar generasi pertama, iPhone, yang semula diciptakan sebagai iPod yang mampu menelepon dan mengirim pesan.
Semenjak menemukan fakta tersebut perlahan gue coba singkirkan musik ketika bekerja. Ternyata betul dengan absennya musik dalam kepala memberikan ruang yang lebih luas untuk berpikir. Gue pun lebih fokus dan kerjaan lebih mudah cepat tuntas.
Pengalaman baru ini membuat gue menyadari beberapa kebiasaan yang dulu kerap gue lakukan. Dulu setiap kali gue mumet, gue spontan melepaskan earphone supaya bisa menuntaskan pekerjaan yang tidak kunjung kelar. Sebaliknya, setiap kali gue menemukan pekerjaan yang enggan gue lakukan (namun tetap harus dilakukan), secara otomatis tangan gue memasang earphone dan menyalakan Spotify.
Namun jangan salah, gue tidak serta merta membenci dan meninggalkan musik sepenuhya. Gue masih menikmati musik untuk sing along. Gue tetap menantikan waktu di mana bisa datang ke pertunjukan musik lagi. Dan musik juga masih mempermudah gue dalam menguasai bahasa asing. Hanya saja kini gue tidak lagi mendengarkan musik saat butuh berpikir atau ketika ingin meredam isi kepala yang sedang bising.