eyang uti.
seminggu terakhir ini eyang uti (eyang putri/ nenek) terbaring lemah di rumah sakit panti rapih jogjakarta. eyang lahir tahun 1940 di jogja. tahun ini, usianya 84 tahun. semasa hidupnya, eyang memiliki 5 orang anak dan 7 orang cucu. saya adalah cucu pertama—yang katanya—paling disayang.
saya baru benar-benar bisa mengenal eyang uti pasca kerusuhan mei'98. saat itu, kondisi kota jakarta tidak kondusif untuk anak-anak bersekolah terutama di tempat saya tinggal. oleh karenanya, orang tua saya memindahkan saya dari jakarta ke jogja untuk melanjutkan sekolah. namun orang tua saya memutuskan untuk tetap bertahan di jakarta dulu sembari melihat perkembangan lebih lanjut. dari situlah saya mulai "mengenal" eyang uti saat pindah ke jogja.
eyang senang sekali saat menyambut saya tiba di depan pintu rumahnya apalagi saat ia mengetahui kalau saya akan menetap di jogja. kalau sebelumnya kan saya hanya pulang ke jogja pada saat lebaran atau libur panjang saja. kali ini saya benar-benar akan tinggal menetap di jogja.
"duhh gusti putu ku! sehat to lik? naik apa ke sini? adus sik yo lik, sarapan. wis tak gorengke tempe senenganmu. mengko bobo situ ya karo yanguti (sembari nunjuk kamarnya) itu di belakang ada mbah yut salim dulu"
eyang uti selalu manggil cucu laki-lakinya dengan sebutan "lik" yang berarti laki-laki (kelamin) yang masih kecil/ bocah yang perlu dikasihi. agak saru ya tapi memang begitulah arti sebenarnya. orang-orang jaman dulu sepertinya tidak menganggap hal tersebut tabu untuk diucapkan dan lebih dianggap sebagai sebuah umpama saja. saya pun baru tau artinya ketika saya dewasa saat ada internet untuk mencari tau. sebelumnya ya nggak tau dan nggak ada niat untuk bertanya juga artinya apa karena saya anggap itu panggilan sayang yang tidak perlu dipertanyakan.
"naik leta (kereta maksudnya) ti. nanti ceritain kancil ya ti"
saya cuma jawab sekenanya saja karena memang belum paham bahasa jawa dan seperti biasa saya langsung menagih dongeng-dongeng dari eyang karena saya yakin dongeng dari eyang uti itu akan selalu ada sepanjang masa dan tidak akan ada habisnya. sebagaimana eyang uti, saya pun senang bisa bertemu kembali saat itu dalam piont of view sedang liburan di jogja, bukan dalam hal menetap selamanya di jogja walaupun pada akhirnya saya menyadari bahwa saya ini pindah rumah ke jogja.
saya senang tinggal bersama eyang. benar saja, setiap hari selalu ada dongeng sebelum tidur. tapi dengan satu syarat: disiplin. saya diajari eyang untuk disiplin sedari kecil. bangun pagi, wajib merapikan tempat tidur, lalu belajar, mandi, sarapan dan berangkat sekolah. pulang sekolah saya diperbolehkan main tapi pada jam 5 sore sudah harus pulang ke rumah untuk mandi lalu malamnya ditanya apakah ada PR atau apakah ada kesulitan di sekolah. eyang mengerti saya masih kesulitan dalam memahami materi bahasa jawa. ia lalu membelikan poster aksara jawa di pasar dan menempelkan poster tersebut di lemarinya agar saya bisa baca aksara jawa itu sebelum tidur dengan harapan saya dapat memahami bahasa jawa. setelah selesai belajar, eyang mulai menuturkan cerita tentang kancil atau tentang pengalaman hidupnya dulu pada masa revolusi/ pasca kemerdekaan republik ini. eyang mengerti sedikit bahasa jepang. jadi kadang ia mengajarkan saya perhitungan matematika dengan menggunakan angka-angka dalam bahasa jepang supaya lebih seru hingga saya tertidur lelap.
rumah eyang di jogja tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. rumahnya memanjang dari utara ke selatan. lantainya terbuat dari tegel dan langit-langitnya berbahan anyaman bambu sehingga keadaan rumah cukup sejuk. rumah sisi timur terdapat lima ruangan. ruang paling depan adalah ruang tamu. ruang selanjutnya yaitu ada kamar pakde, kamar tante, kamar eyang uti dan kamar mbah uyut (ibunya eyang uti). lalu paling belakang ada dapur. rumah sisi barat merupakan ruang berkumpulnya keluarga tanpa sekat apapun. klasifikasi ruang terbagi menjadi tempat bermain dan membaca buku/ koran, ada tempat menonton televisi, meja makan, meja telepon dan ada kamar mandi lalu di paling belakang ada tempat cuci piring yang menyatu dengan dapur. suasana rumah cukup "hangat" karena anak-anak eyang uti masih tinggal di sana dan sering berkumpul di ruang keluarga. halaman yang ada juga cukup luas. terdapat empat halaman yang mengelilingi tiap sisi rumah dengan ditumbuhi tanaman hias, umbi-umbian dan pohon buah yang beraneka ragam. saya selalu diajak eyang untuk merawat pohon dan tanaman yang ada di sana sembari memetik buah dan mencabut umbi yang sudah masak. kadang eyang uti juga suka menjelaskan nama dan jenis tanaman yang ada. di halaman dapur belakang rumah sering kali ada kucing yang mampir minta makan. kucing-kucing itu baik, nggak pernah mencuri makanan karena mbah uyut yang hobi dan pintar masak selalu menyisakan makanan buat si kucing. masakan mbah uyut enak sekali bahkan sampai sekarang jika saya melihat oseng tempe atau oseng kentang pedas, ekspektasi rasa makanan yang pertama kali muncul di lidah saya adalah rasa makanan hasil dari olahan masakan mbah uyut. sampai sekarang rasa makanannya masih membekas di memori namun tidak pernah saya temukan lagi. praktis kegiatan saya sehari-hari memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja karena rumah eyang uti "hidup" dan banyak hal yang bisa dikerjakan sehingga saya tidak merasa jenuh dan sepi meskipun saya terpisah dari orang tua.
kebiasaan tersebut sungguh berbeda jauh dengan apa yang telah saya lalui di jakarta. selama di jakarta, saya jarang sekali berada di dalam rumah. masa kecil saya bisa dikatakan cukup bandel. nakal lah pokoknya. saat masih baru sekolah dasar saja saya sudah coba-coba merokok. berawal dari permen/ cemilan yang berbentuk menyerupai rokok, lalu saya mencoba merokok yang sebenarnya. biar keren saja. iklan rokok pada saat itu keren-keren soalnya. saya juga pernah (tanpa sepengetahuan mama) ikut kampanye salah satu parpol dengan naik sepeda yang ruji-ruji bannya saya ikat dengan botol plastik kosong supaya menimbulkan suara seperti knalpot motor yang berisik saat sepeda melaju membuat botol plastik itu mengenai ruji-ruji ban sepeda yang berputar. tentu saya belum paham apa itu partai politik. jadi murni hanya ikut-ikutan saja. saya lebih suka bermain di luar rumah seperti main bola sampai kaki terluka dan lecet-lecet. tangan kiri saya pernah patah akibat terjatuh dari sepeda saat saya dikejar anjing komplek sebelah yang saya ganggu. i deserve it, memang salah saya. belum lagi soal ragam jajanan yang sangat banyak di jakarta. karena hal itu, saya jadi sering minta uang jajan ke mama buat beli orang-orangan, mobil-mobilan, sewa game-bot, main ding-dong dan banyak hal lainnya. di usia sekecil itu saya sudah kenal uang dan sering minta uang jajan. saya juga pernah merampas tamiya milik anak-anak komplek sebelah yang tidak saya kenal di gang-gang sempit bersama teman-teman. saya paling senang kalau banjir datang. banjir artinya sekolah diliburkan dan berkah buat saya. saat banjir tiba, saya alih profesi menjadi tukang jasa penyebrangan kapal (yang terbuat dari box kulkas bekas) bersama teman-teman untuk mengantar para karyawan yang mau bekerja dari dalam kampung yang terdampak banjir menuju ke jalan raya agar pakaian dan tas kerja mereka tidak basah terkena banjir. dari situ saya mendapatkan tambahan uang jajan. kalau malam hari saya paling suka main petak umpet sampai larut malam. beneran seru main petak umpet malem-malem karena di kampung saya sangat minim penerangan sehingga tingkat kesulitannya semakin tinggi dan sekaligus menguji nyali. suasana malam lumayan menyeramkan apalagi saat kebagian peran sebagai pencari orang yang ngumpet dan mencarinya lewat tempat-tempat yang gelap dan sepi. saya menjadi orang yang disiplin hanya di hari minggu. saya pasti bangun pagi, mandi, sarapan lalu duduk di depan televisi untuk nonton film kartun detektif conan jam 7 pagi, doraemon jam 8, dragon ball jam 9, shinchan jam 10 dan live pertandingan tinju pada jam 11 atau 12 siang jika mike tyson bertanding. disiplin yang saya lakukan bukan dalam hal belajar namun hanya untuk hal-hal yang menyenangkan saja. saya tidak suka belajar apalagi membaca buku. kadang-kadang untuk berhitung saja saya masih menggunakan kecekan. tau kecekan, kan? setelah nonton, biasanya saya merengek minta orang tua untuk makan cfc di mall hanya karena mengincar hadiahnya akibat iklan-iklan televisi yang saya tonton. hari minggu juga kadang diisi dengan jalan-jalan ke ancol atau dufan. selain karena jaraknya yang cukup dekat dari rumah, kami juga tidak dikenakan biaya/ tiket masuk karena orang tua saya kerja di sana. dapat semacam jatah dua kali kunjungan dalam sebulan. begitulah lingkungan tempat tinggal saya di jakarta yang memungkinkan saya untuk melakukan itu semua. lalu saat pindah jogja, eyang uti pelan-pelan mengubah semua kebiasaan itu kecuali kegiatan menonton televisi di hari minggu pagi. eyang selalu membaca koran setiap pagi. sayapun jadi ikut-ikutan mau membaca. karena koran terlalu berat buat saya, maka pakde/ tante mulai berlangganan majalah bobo. sejak saat itu, saya mulai terbiasa membaca.
saat saya dewasa dan telah memiliki pekerjaan yang layak, saya pernah merenungi dan membandingkan kehidupan masa kecil saya di jakarta versus kehidupan masa kecil saya di jogja. lalu terlintas pertanyaan yang saya tanyakan pada diri saya sendiri: apa jadinya ya kalau dulu saya nggak pindah ke jogja? apa jadinya kalau saya tidak "bertemu" dengan eyang uti? jadi apa ya saya sekarang? kehidupan seperti apa kira-kira yang akan saya jalani? tentu saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena saya tidak menjalani kehidupan di dua tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. saya hanya bisa menduga-duga saja. satu hal yang pasti, ketika saya dewasa dan merenungi masa lalu yang telah saya alami itu, saya merasa sangat bersyukur bisa "bertemu" dengan eyang uti.
saat saya menulis ini, eyang sudah diperbolehkan pulang kembali ke rumah karena kondisi paru-paru dan jantungnya sudah jauh lebih baik daripada minggu lalu namun masih perlu oksigen dan kontrol rutin (rawat jalan) dari pihak rumah sakit.
dulu, eyang itu pernah cerita kalau semasa muda eyang rajin sekali olahraga. bermain bulu tangkis, tenis, renang, naik sepeda, lempar lembing dan lain-lain. saya pernah dibelikan raket bulu tangkis plastik skala anak-anak untuk diajarkan cara bermain bulu tangkis sama eyang. wah, saya masih ingat pukulan-pukulannya stabil dan terarah sehingga saya bisa balas memukul balik juga. saya jadi mahir bermain bulu tangkis berkat eyang. tidak heran jika eyang masih sehat dan kuat meskipun telah memasuki usia 80 tahun seperti foto saya bersama eyang di bawah ini.
sebelum eyang pulang ke rumah di hari ini, saya menyempatkan untuk videocall dengan eyang di sela-sela pekerjaan saya kemarin. saya ingin sekali bertemu dengan eyang saat ini, namun hal tersebut tidak mungkin bisa saya lakukan karena kondisi dan lokasi kerja saya yang jauh dari mana-mana. sewaktu videocall kemarin, eyang buang muka dari kamera handphone saat melihat saya. sepertinya eyang tidak mau cucunya melihat kondisi dirinya yang sedang tidak baik-baik saja. saya pun menahan air mata. saya tidak mau terlihat sedih di depan eyang, karena kalau saya terlihat sedih dan menangis di depan eyang, nanti eyang juga pasti akan ikut bersedih dan menangis.
"eyang, ini aku ricky. wah, eyang udah makin sehat ya. besok eyang bisa pulang ke rumah lho"
akhirnya eyang mau ngobrol dengan saya, dengan suara yang lemah ia menjawab:
"ricky sopo to iki? oh kowe to lik? isih neng kalimantan? sehat to lik? kapan mulih?"
bahkan disaat kondisi eyang sedang tidak baik-baik saja, eyang masih menanyakan kesehatan saya. eyang masih memikirkan kondisi cucunya jauh diatas kondisi dirinya sendiri. saya terharu, air mata saya tidak terbendung lagi. saya meneteskan air mata namun buru-buru saya menyeka agar eyang tidak melihatnya. lalu eyang melanjutkan:
"kok aku koyo ngene yo lik, loro opo to iki lik...?"
eyang berusaha defense kalau ia seharusnya tidak sakit seperti itu. eyang berusaha ingin menjelaskan kalau dirinya itu semestinya sehat, tidak mungkin sakit seperti ini di depan anak dan cucunya. secara tidak langsung mungkin eyang ingin mengatakan "jangan khawatir, aku ini harusnya sehat-sehat aja kok."
tapi memang benar sih. selama saya tinggal bersama eyang, eyang itu tidak pernah sekalipun jatuh sakit—maksud saya sakit yang harus rawat inap begitu. eyang itu selalu mencontohkan hidup sehat dengan cara sederhana. misalnya makan tepat waktu, mandi sesuai waktunya, menjaga kebersihan di rumah dan lingkungan sekitar rumah, selalu bangun subuh untuk jalan/ senam pagi bersama dengan komunitas olahraga khusus lansia, selalu makan sayur, buah-buahan dan tidak mengkonsumsi gula berlebih dan seterusnya. itu semua ia lakukan agar tidak merepotkan orang lain apabila ia jatuh sakit. namun satu hal yang saya sadari, eyang tidak pernah memberikan perintah kepada yang lain untuk melakukan hal yang sama seperti dirinya. paling-paling hanya bertanya sekedarnya dan mengingatkan saja.
saya menjawab, "gapapa eyang, sik ikhlas yo. yuk, moco surat al-ikhlas bareng-bareng. isih eling to?"
saya banyak sekali mengambil pelajaran tentang keikhlasan dari eyang uti. salah satu kata yang paling sering eyang ucapkan adalah "nrimo" yang artinya menerima. sebuah falsafah hidup jawa yang mengajarkan kita untuk bersyukur. menerima segala sesuatu yang telah diberikan tanpa menuntut apa-apa. eyang itu tidak pernah sekalipun marah ataupun mengeluh sama saya. pernah suatu hari saya memutuskan untuk merokok sebagai pelarian atas banyaknya masalah yang saya hadapi saat memasuki masa remaja. saat itu adalah pertama kalinya saya merokok di rumah dan eyang melihat saya merokok secara langsung. eyang cuma komentar begini "kowe saiki ngerokok to lik? e wis gede yo awakmu saiki. sik penting ojo akeh-akeh yo lik" padahal saya tahu kalau eyang sangat tidak menyukai hal itu karena ia selalu hidup sehat. dari ucapannya sama sekali tidak terdengar nada marah atau sindiran. justru eyang malah menerima dan menyadari kalau saya bukan anak kecil lagi atau mungkin eyang bisa memahami dan mengerti mengapa saya memutuskan untuk merokok. berjalan waktu, pada saat saya beranjak dewasa dan mulai mendapatkan pekerjaan di luar kota dalam jangka waktu yang cukup lama dengan sistem kerja roster, eyang selalu berusaha untuk bisa melepas kepergian saya dengan senyum walaupun dari kedalaman matanya saya tahu ia sedih. saat saya berpamitan, ia pasti bilang: "kok cepet to lik leh neng omah? ra kroso yo wis rong minggu. sing ati-ati yo lik, pokoke mangkat-mulih diparingi slamet" padahal eyang tahu waktu libur saya sudah habis selama dua minggu di rumah. eyang pandai berhitung. ilmu matematikanya sangat baik. tapi mungkin eyang pura-pura tidak tahu. oh ya, entah kenapa eyang selalu menyendiri pada saat saya mau pamit pergi jauh dari rumah. pada saat berpamitan, saya bisa merasakan doa yang eyang ucapkan tadi itu selalu tulus dan sungguh-sungguh.
melalui sambungan videocall, kita bersama-sama membaca surat al-ikhlas. tangis saya pun pecah pada akhirnya.
saya menangis saat menyadari bahwa ternyata sudah lama sekali saya tidak menyempatkan waktu untuk berbagi cerita bersama eyang sejak saya meninggalkan kota jogja. saya menangis karena eyang dengan ikhlas telah mendidik dan mengubah hidup saya sejak saya kecil hingga saya menjadi seperti sekarang ini. saya menangis karena tante dyan (anaknya eyang yang terakhir) baru saja memberitahu saya kalau ternyata selama ini eyang uti menyimpan foto saya dan miko (anaknya tante dyan) di bawah tempat tidurnya.
foto itu diambil sekitar tahun 2012 dan mungkin eyang mulai menyimpan cetakannya sejak 2013 atau 2014. selama ini eyang pasti kesepian saat cucu-cucunya mulai pergi. eyang tidak lagi bisa melihat cucunya karena tidak memiliki handphone/ social media kecuali jika cucu-cucunya pulang ke rumah. sudah 10 tahun ternyata eyang menyimpan rindu itu seorang diri. menutupnya rapat-rapat jauh di kedalaman dirinya. sedalam apakah tempat itu? hanya eyang uti yang mengetahuinya.














