JANGAN DI-GENERALISASI
âKatanya agama A begini, kok buktinya begitu?â
âTuh kan apa gue bilang juga, ras dia mah begituâ
â
Timeline media social saya akhir-akhir ini dipenuhi oleh berbagai informasi yang berkaitan dengan demo 4 November 2016 kemarin, namun malah merembet pada penyebaran-penyebaran kebencian yang lain. Dan saya pribadi sangat gatal dan sudah lama ingin mengomentari hal ini. Semoga teman-teman yang membaca ini bisa memaknai dengan kepala dingin.
Saya tidak sedang membela satu agama, tapi saya membela orang-orang yang sudah berusaha menjaga nama baik agama serta ras juga suku nya.
â
Di zaman sekarang, banyak sekali orang dengan SEMBARANGANNYA men-GENERALISASI suatu kaum, suatu agama, suatu ras, hanya karena aksi seseorang.
Di timeline facebook saya, muncul sebuah postingan yang berisi video demo 4 November kemarin, sebut saja orang yang posting ini adalah si X. Dalam video ini, ditampilkan cuplikan video seorang pendemo yang tertangkap berbicara kasar (yang menurut saya sendiri pun tidak pantas untuk diucapkan) di kamera ketika live.
Lalu, caption yang ditulis X pada video ini berisi kurang lebih seperti ini (tidak sama persis). âKatanya agama ini cinta damai, kok ngomongnya kasar begitu, agama damai apanya? Gue pertanyakan kembaliâ.
Anda tau apa yang saya rasakan sebagai seorang penganut agama islam? Ketika saya membaca ini, saya sungguh sakit hati. Lebih sakit dari putus cinta. Saya tau, yang X maksud sebetulnya adalah orang yang ngomong kasar di video ini, tapi ketika dia men-generalisasi agama islam, maka dia sedang membicarakan seluruh orang islam, ya, seluruh penganut agama islam di dunia yang bahkan sedang diam di rumahnya. Yang semakin membuat saya sedih, adalah ketika si X ini adalah penganut sesama islam, dan juga dia adalah teman saya sendiri.
â
Sahabat yang saya cintai, saya disini ingin mengajak untuk sekedar berfikir menggunakan logika yang baik sebelum akhirnya berbicara ataupun memposting sesuatu.
Kamu menilai suatu agama berperilaku buruk hanya karena ada 1,2 atau bahkan 100 orang melakukan hal buruk di hadapan kamu. Semudah itukah?
Lantas saya tanya, apa agamamu? Jika kamu berasal dari agama X, dan saya memperlihatkan video 1 orang yang berasal dari agama X yang berpilaku brengsek, bolehkah saya menilai bahwa agama X ini brengsek? Lalu saya posting âKatanya agama X ini adalah agam kasih dan sayang, kok kelakuannya penganutnya brengsek? Agama macam apa ini?â bolehkah? Apakah dirimu ikhlas?
Lantas saya tanya, apa ras/sukumu? Jika kau berasal dari ras/suku Y, dan saya memperlihatkan kelakuan dari 1 orang yang sama sukunya denganmu namun dia menjadi keterlaluan, bolehkah saya menilai bahwa ras/suku Y ini keterlaluan? Lalu saya posting âRas/Suku Y kelakuannya kok begini sih, ras/suku ini emang gak pantes ditiru. Menurut gue, harus dihapus nih ras/suku beginiâ. Bolehkah saya posting seperti itu? Apakah dirimu menerima?
Maaf, kalau saya pribadi, tidak terima. Karena saya dan banyak orang lainnya, sudah sebisa mungkin menjaga nama baik agama serta suku/ras yang saya anut. Stop men-generalisasi segala hal hanya dari 1 atau 2 hal saja.
â
Mari sejenak saya ajak berfikir menggunaka logika, kita bicara tentang sekolah.
Setiap sekolah di seluruh dunia bertujuan untuk mengajarkan ilmu, bukankah benar begitu? Bahkan sekolah yang anda ikuti juga mengajarkan berbagai ilmu setiap harinya bukan?
Lantas, kenapa di setiap sekolah, termasuk sekolah anda dulu, ada anak yang dianggap bodoh dan tidak berilmu, namun di sisi lain, ada pula yang pintar dan paham ilmunya. Pertanyaannya, dalam kasus anak yang dianggap bodoh, apakah sekolahnya yang salah atau anaknya yang tidak belajar?
Dan lalu, ketika dia disebut bodoh, apakah dia masih dianggap sebagai siswa sekolah tersebut? Tentu dia tetap anak sekolah tersebut. Mau seburuk apapun, sudah pasti, identitasnya akan menuliskan bahwa dia siswa sekolah tersebut. Maka, sekolah tersebut akan menanggung apapun perilaku anak tersebut diluar sekolah.
Selanjutnya, menurutmu, pantas tidak kita menyebut sekolah itu adalah sekolah yang hancur, sekolah yang brengsek, sekolah yang bodoh, hanya karena kita melihat ada anak yang tidak berilmu karena kelakuannya sendiri?
Anggaplah di sekolah tersebut ada 300 siswa. Ketika kita membuat status âSekolah X ini kelakuannya bego banget, masa ada anak gak ngerti soal logaritma, sekolah macam apa ini?â hanya karena kamu nanya 1 anak dan dia tidak paham, apa perasaan 299 siswa lain yang bisa mengerjakan soal yang 1 anak tersebut tidak bisa jawab?
Dan bayangkan perasaan 299 siswa lain ketika dia membaca komen-komen pada status tersebut yang bernada âhahaha, emang bego nih sekolah X. Kelakuan anak-anaknya gak benerâ, âemang cupu sih, gituan aja gak bisaâ. Menurutmu, bagaimana perasaan orang-orang yang sudah berjuang namun dicemoohi orang-orang yang bahkan kemungkinan tidak kenal dirinya?
Tolong fikirkan Men-generalisasi semua hanya karena kelakuan 1 orang, itu sama saja anda tidak menganggap orang-orang yang sudah berjuang agar tidak dicemooh.
â
Agama, ras/suku, tentu dia mengajarkan nilai-nilai kebaikan bagi seluruh orang yang menjadi bagiannya, seperti sekolah.
Agama apapun yang ada di muka bumi, dia mengajarkan seluruh umatnya untuk berbuat kebaikan. Lantas, ada segelintir orang yang tidak melakukan kebaikan. Pertanyaannya, salah agamanya, atau orang yang tidak belajar dari agamanya?
Ras/suku apapun yang ada di muka bumi, dia mengajarkan nilai serta prinsip dalam ras/sukunya untuk menjadi manusia yang baik. Lantas, ada segelintir orang yang berprilaku merusak. Pertanyaannya, salah ras/sukunya, atau orang yang tidak belajar prinsip kehidupan yang diajarkan oleh ras/sukunya?
â
Mari sejenak saya ajak berfikir menggunakan logika,
Dari yang saya pelajari, dalam sebuah survey, dari data sebanyak 100%, bakal ada kemungkinan galat atau error, dan itu hanyalah sangat kecil, bisa jadi dibawah 5%, makadia tidak dianggap sebagai representasi data tersebut.
Lantas wajarkah jika ada manusia yang melenceng dari perilaku agamanya atau suku/rasnya? WAJAR sekali, karena dia adalah bagian dari error, dia adalah bagian yang tidak memelajari identitas dirinya sendiri.
Manusia tidak pernah bisa memilih lahir di agama apa, pada ras atau suku apa dia dilahirkan. Maka sebetulnya itu tak menjadi masalah, selama mereka memahami agamanya, prinsip ras atau sukunya, seharusnya semua berjalan baik dan lancar.
â
Kawanku, sudahlah, jangan pernah men-generalisasi segala halnya. Jangan termakan media-media yang men-GENERALISASI segala halnya karena dia punya kepentingan lain.
Kita semua tahu, beberapa waktu lalu ada kasus seorang pejabat yang sempat menyakiti hati muslim atas perkataanya. Sebagai muslim, saya juga merasa tersakiti. Namun lantas apakah saya langsung berhak untuk menulis âAgama si X ini brengsek, liat kelakuan umatnyaâ, atau âliat ras/suku si Y, bodoh sekali kelakuannyaâ? TENTU TIDAK! Dia hanya 1 orang. Tidak sah bagi saya menilainya atas sebuah agama atau ras/suku hanya karena perilaku 1 orang. Karena saya juga mengenal orang dengan agama yang sama dan juga ras yang sama. Mereka berprilaku baik pada saya. Lantas kenapa anda tidak menilai ras dan agama seseorang dari kebaikannya? Maka saya fikir tidak pantas saya menjudge dari hal tersebut.
Lalu, kita juga tahu, kemarin ada demo aksi damai. Lantas, ada 100-200 orang yang tiba-tiba melakukan kerusuhan, juga ada beberapa orang yang masuk kamera sambil berbicara kasar bahkan teriak âBunuh, bunuhâ. Sebagai seorang muslim, saya juga menyayangkan hal tersebut. Namun lantas apakah kita berhak menulis âKelakuan penganut agama ini bangsat banget. Gimana sih ini ajarannya?â. TENTU TIDAK! Kamu harus liat juga, sisa penganut agama yang sama yang malah melindungi polisi dari serbuan kawan-kawannya sendiri. Maka saya fikir, tidak pantas saya menjudge agama tersebut.
CUKUP! Jangan men-GENERALISASI segala hal.
Kamu bilang muslim jahat karena ada orang muslim berbuat jahat. Please!
Besok saya bawa kamu ke Amerika. Lebih banyak penganut agama, ras/suku apa yang tercatat sebagai kriminal?
Besok saya bawa kamu ke Arab. Lebih banyak penganut agama, ras/suku apa yang tercatat sebagai kriminal?
Besok saya bawa kamu ke Thailand. Lebih banyak penganut agama, ras/suku apa yang tercatat sebagai kriminal?
Besok saya bawa kamu ke Cina. Lebih banyak penganut agama, ras/suku apa yang tercatat sebagai kriminal?
Lantas, kalau kamu boleh men-judge agama/suku/ras karena penganutnya, bukan kah semua agama/suku/ras di seluruh dunia berarti buruk? Padahal mereka berbuat buruk bukan atas suruhan agamanya, sukunya, atau rasnya, tapi karena kebodohan mereka sendiri.
â
Hari ini, kamu posting seseorang karena agama atau rasnya. Saya takut, besok-besok, otakmu masih berfikir tanpa logika, masih berpikiran dangkal. Besok-besok, masih ada orang yang men-generalisasi dari hal-hal yang tak jelas
âNegara Indonesia ini, katanya ramah. Nih liat di kampung ini, kemaren siang ada 2 orang berantem sambil ngomong kasar. Ramah apanya? Orang Indonesia kasar-kasar, hancur! Bullshit!â Kata mereka yang men-Generalisasi hanya dari perilaku 2 orang. Apakah kamu terima sebagai warga negara Indonesia yang selalu mencoba menjaga nama baik negara ini?
âLiat kelakuan orang ini, brengsek sekali. Dia ini zodiaknya Taurus. Semua yang zodiaknya Taurus, brengsek orangnyaâ Kata mereka yang men-generalisasi dari jenis zodiaknya.
âLiat kelakuan orang ini, sungguh memalukan. Dia ini ukuran sepatunya 43. Emang, orang-orang yang sepatunya 43 itu suka bikin maluâ Kata mereka yang men-generalisasi dari ukuran sepatunya.
Coba, apa lagi? Gaya rambut? Merk motor? Jumlah saku celana? Jumlah mantan? Yuk, berfikir jernih.
Jika itu menurutmu tidak logis, lantas apa yang membuatmu berfikir, bahwa perilaku dari 1-2 orang yang buruk juga mewakili semua hal yang dia anut?
Saya khawatir, kamu memposting hal negatif tersebut hanya karena kamu terbawa emosional, atau kamu juga hanya ikut-ikutan sehingga seolah kamu bagian dari yang peduli, biar keliatan update.
Padahal, tanpa sadar, kamu sedang menyebarkan aib saudara kamu sendiri. Dan comment-comment orang pada postingmu, adalah ladang dosa yang kau ciptakan sendiri untuk orang-orang bergibah ria tanpa batasan di social mediamu.
Kelak bagi yang percaya syurga dan neraka, hal-hal yang begini juga diperhitungkan sebagai amal baik dan buruk kita.
â
Saya berusaha tidak menghina agama apapun, karena saya punya teman dari berbagai agama, dan mereka semua baik. Saya juga berusaha tidak menghina ras/suku apapun, karena saya punya teman dari berbagai ras/suku, dan saya tak memiliki masalah besar dengan mereka. Menghina sebuah agama ataupun ras/suku, sama dengan menghina teman sendiri. Dan jujur, saya akan sangat tak enak pada mereka.
Well, kadang memang ada orang yang menyebalkan yang bahkan saya tidak suka, bahkan bukan kadang lagi, PASTI ADA orang menyebalkan. Tapi itu karena dirinya sendiri, karena pribadinya memang buruk, tidak pantas saya menghina kaumnya yang tidak berbuat apapun pada saya.
Stop menyebar aib orang, stop men-generalisasi. Jika kau melihat kekurangan dari temanmu, maka cara terbaik adalah memberi tahunya personal, bukah malah menyebar aibnya di media social.
Bahkan sekedar ngeshare postingan yang berisi bencian, tanpa caption apapun, sudah menunjukan jati dirimu yang senang untuk mengajak orang untuk membenci orang lain. Jangan menjadi bagian negara ini yang juga turut memecah belah.
Saya tau, kadang kita gatel liat kelakuan orang yang menurut kita itu âbodohâ. Tapi ya bukan berarti kamu bebas nyebarin keburukannya kan? Jadilah manusia yang berfikir pintar, menggunakan logika. Jangan share-share kebencian di timeline.
Kita boleh menyebarkan info tentang sesuatu, tapi tidak untuk mengajak membenci. Tapi mengajak untuk lebih memahami informasi yang ada. Hari gini ngajak membenci? Hellaw, kemana aja iyey selama pelajaran PPKN waktu SD?
Jadi inget kata-kata pidibaiq kemaren ngobrol
Semua agama mengajarkan kebaikan. Maka ketika kamu menghina agama lain, sebetulnya kamu sedang menghina agamamu dan juga menghina dirimu sendiri
â
Saya juga tidak gelap mata. Kelak jika orang yang satu agama, satu suku, satu ras dengan saya melakukan tindak kejahatan, maka saya juga sepakat bahwa dia harus ditindaklanjuti. Tidak lantas karena sama identitas, saya jadi bela mati-matian,
Saya ingat seseorang pernah berkata,
Kita berhak meminta kebenaran. Tapi jika meminta kebenaran dengan cara salah, maka siapapun dia, tetap melakukan kesalahan, dan harus ditindaklanjuti.
â
Sekali lagi, terima kasih bagi teman-teman yang membaca ini. Saya tahu, social media memang tempat untuk bebas berpendapat, tapi bukan berarti isi pendapatnya bebas, harus mengerti norma dan etika.
Mari bersama merubah diri, saya juga sama-sama masih belajar, tiada sempurna. Hayu lah, kita bareng-bareng menjaga diri. Saya mengingatkan, lantas kamu juga mengingatkan. Karena manusia tempat salah dan perlu diingatkan.
Dan terakhir, untuk para wanita, jangan generalisasi âsemua cowok samaâ ya, ada kok laki-laki yang siap untuk menjadi pasangan kamu, apa adanya. Iah, kamu. Iah, bener, kamu, yang lagi baca ini. Nanti saya message yah. (Sebetulnya salah satu inti obrolan ada di paragraf ini).
Hatur nuhun
JANGAN DI-GENERALISASI Bandung, 8 November 2016
Ini sebagian rasa yang juga saya rasakan atas 411 kemarin. Hayuk lah berpikir positif untuk segala hal!















