Sebaik-baiknya yang bisa Menjaga.
“Jadilah sebaik-baiknya wanita yang bisa menjaga bukan dijaga.” – hannaqueen_ حَفِظَهُ اللهُ
Ketika membaca penggalan kalimat ini yang terbayang adalah dua wanita mulia yaitu Asiyah binti Muzahim radhiyallahu ‘anha dan Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha.
Tentu bahagia bilamana dipertemukan dalam sebuah pernikahan dengan orang yang tepat. Namun, dua wanita mulia ini Allah Subhanahu Wata’ala takdirkan kisahnya tidak kalah membahagiakannya meski dengan kisah yang berbeda.
Asiyah binti Muzahim radhiyallahu ‘anha, beliau adalah istri seorang raja yang pernah berkata bahwa dirinya, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24) dan ketika dirinya mengetahui keimanan istrinya kemudian mengatakan kepada kaumnya, “Apa yang kalian ketahui tentang Asiyah binti Muzahim?” Maka mereka memujinya. Dirinya pun berkata, “Sesungguhnya dia menyembah Tuhan selainku.” Maka mereka berkata, “Bunuhlah dia!”
Lalu tibalah ketika sang suami memerintahkan kepada tentaranya untuk memasang pasak, dan si istri dibawa untuk diikat kedua tangan serta kakinya pada pasak di bawah terik matahari yang panas, tidak hanya itu sang suami pun menimpakan siksaan lainnya, di antaranya kedua tangan dan kakinya dipaku lalu di atas punggungnya diletakkan batu yang besar. Namun, keimanannya tidak surut sekalipun siksaan terus menerus menimpanya.
Dia pun berdoa, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (QS. At-Tahrim: 11)
Allah Subhanahu Wata’ala pun memperkenankan doanya, dan dia melihat rumahnya dibangun dalam surga, betapa berbahagianya dia. Dirinya menolak gemerlapnya dunia, sesuatu yang pasti lenyap dan lebih memilih kenikmatan yang abadi atas pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala hingga sampai pada kesempurnaan harapannya, yaitu diselamatkan dari suami serta pendukungnya. Dirinya kembali kepada Tuhannya.
Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, beliau adalah seorang istri yang turut berhijrah bersama suaminya. Dia meninggalkan agama nenek moyangnya, keluarga dan tanah airnya untuk hijrah ke Ethiopia. Allah Subhanahu Wata’ala pun mengujinya. Suatu ketika dirinya bermimpi yaitu melihat suaminya dalam rupa yang buruk. Keesokan harinya, suaminya datang dan mengatakan bahwa, “Wahai Ummu Habibah, aku telah memikirkan secara dalam tentang agama ini, dan aku tidak melihat ada agama yang lebih baik daripada agama yang dahulu aku anut. Lalu aku masuk ke dalam agama Muhammad dan kini aku kembali lagi menganut agama sebelumnya.”
Si istri pun menyampaikan mimpinya kepada sang suami namun tidak dipedulikannya dan dirinya tetap meminum khamr hingga meninggal.
Keimanannya tetap kokoh tidak tergoyahkan sedikit pun oleh cintanya kepada sang suami. Bahkan meski dirinya jauh dari keluarga dan betapa pun besarnya ujian yang dihadapi tidak memengaruhi keimanannya atas pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala.
Berselang setelah suaminya murtad dan meninggal, tidak ada yang menghiburnya selain keimanan yang dimilikinya dan kesudahan yang baik bersambut kemudian. Setelah masa iddahnya selesai, Allah Subhanahu Wata’ala karuniakan suami terbaik padanya, manusia paling mulia yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (kisah para Wanita Mulia, Azhari Ahmad Mahmud حَفِظَهُ اللهُ - Darul Haq)
Untuk itu, hal yang perlu kamu sadari adalah hakikat keimanan seseorang pasti naik dan turun berlaku bagi masing-masing individu, tidak terlepas apakah statusnya belum atau sudah menikah maka yang juga patut digenggam sebagaimana standar baku yang disampaikan sebelum keberangkatan oleh awak pesawat tentang penyelamatan yaitu pakailah masker Anda terlebih dahulu sebelum Anda menolong orang lain.
Mengapa demikian? Sebab dalam kondisi darurat kemungkinan yang paling buruk adalah kadar oksigen di dalam kabin akan menurun drastis. Jika hal tersebut terjadi maka dalam waktu singkat seseorang akan mengalami kesulitan bernapas. Bahkan kemungkinan lainnya akan kehilangan kesadaran. Apabila seseorang mendahulukan orang lain yang juga kondisinya lemah, dikhawatirkan dirinya yang berniat baik tadi justru kehabisan oksigen dan orang yang ditolongnya juga tidak mampu menyelamatkannya.
Orang yang kamu tolong mungkin bisa selamat namun tindakanmu justru mengancam keselamatanmu sendiri atau bahkan kalian tidak bisa selamat. Oleh sebab itu, tolonglah dirimu sendiri agar kamu mampu menolong orang lain. (timesindonesia)
Sama halnya dalam keimanan yang juga pernah disampaikan oleh kak Amar حَفِظَهُ اللهُ.
“Semoga kamu mengerti bahwa hubungan pernikahan juga berarti saling mendakwahi. Ya, lelaki memang imam bagi istrinya tetapi tidak berarti keimanan seorang manusia terus bertambah hanya karena dirinya imam. Islam membuat kesempatan dakwah yang sama bagi laki-laki dan perempuan.
Sejak awal pernikahan, jangan terlalu menggantungkan kesalehan diri pada pasangan sebab pasanganmu pun memiliki siklus naik turun keimanannya sendiri. Meskipun harus diingat bahwa suami atau istri yang saleh-salihah jelas berpengaruh kepada kesalehanmu juga.”
Allah Subhanahu Wata’ala pun berfirman dalam (QS. At-Tahrim: 10), “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya), ‘Masuklah ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)’.”
Ayat ini menjelaskan bahwa istri seorang Nabi pun tidak otomatis dijamin masuk surga jika tidak beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Hal ini menyadarkan pola pikir bahwa bukan lagi tentang yang terjaga hanya diperuntukkan bagi mereka yang juga pandai menjaga namun jadilah sebaik-baiknya yang bisa menjaga, bukan dijaga.
Menyadari hal ini pula tidak mungkin dicapai dengan usaha sendiri maka mintalah pada-Nya agar senantiasa berada dalam naungan-Nya, bersegera kembali pada-Nya agar dapat menjalankan perintah-Nya untuk tolong-menolong dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa (QS. Al-Ma’idah: 2) dimulai dari diri sendiri kemudian keluarga, dst.