𝐈𝐛𝐧 𝐀𝐛𝐛𝐚𝐬 𝐫𝐞𝐩𝐨𝐫𝐭𝐞𝐝: 𝐓𝐡𝐞 𝐌𝐞𝐬𝐬𝐞𝐧𝐠𝐞𝐫 𝐨𝐟 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡, 𝐩𝐞𝐚𝐜𝐞 𝐚𝐧𝐝 𝐛𝐥𝐞𝐬𝐬𝐢𝐧𝐠𝐬 𝐛𝐞 𝐮𝐩𝐨𝐧 𝐡𝐢𝐦, 𝐬𝐚𝐢𝐝, “𝐖𝐞 𝐝𝐨 𝐧𝐨𝐭 𝐬𝐞𝐞 𝐟𝐨𝐫 𝐭𝐡𝐨𝐬𝐞 𝐰𝐡𝐨 𝐥𝐨𝐯𝐞 𝐨𝐧𝐞 𝐚𝐧𝐨𝐭𝐡𝐞𝐫 𝐚𝐧𝐲𝐭𝐡𝐢𝐧𝐠 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐦𝐚𝐫𝐫𝐢𝐚𝐠𝐞.”
𝐒𝐨𝐮𝐫𝐜𝐞: 𝐒𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐈𝐛𝐧 𝐌𝐚̄𝐣𝐚𝐡 𝟏𝟖𝟒𝟕
sheepfilms

JBB: An Artblog!
art blog(derogatory)

Kiana Khansmith
Cosimo Galluzzi
Three Goblin Art

izzy's playlists!
Jules of Nature

Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Origami Around
trying on a metaphor
Sade Olutola
Alisa U Zemlji Chuda
Cosmic Funnies

⁂

❣ Chile in a Photography ❣
Show & Tell
DEAR READER
Claire Keane
seen from United Kingdom

seen from Canada

seen from Czechia

seen from United Kingdom
seen from Austria

seen from Indonesia

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Switzerland

seen from Italy

seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Canada
seen from United States
seen from Sweden
seen from France

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
@senjayanglupa
𝐈𝐛𝐧 𝐀𝐛𝐛𝐚𝐬 𝐫𝐞𝐩𝐨𝐫𝐭𝐞𝐝: 𝐓𝐡𝐞 𝐌𝐞𝐬𝐬𝐞𝐧𝐠𝐞𝐫 𝐨𝐟 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡, 𝐩𝐞𝐚𝐜𝐞 𝐚𝐧𝐝 𝐛𝐥𝐞𝐬𝐬𝐢𝐧𝐠𝐬 𝐛𝐞 𝐮𝐩𝐨𝐧 𝐡𝐢𝐦, 𝐬𝐚𝐢𝐝, “𝐖𝐞 𝐝𝐨 𝐧𝐨𝐭 𝐬𝐞𝐞 𝐟𝐨𝐫 𝐭𝐡𝐨𝐬𝐞 𝐰𝐡𝐨 𝐥𝐨𝐯𝐞 𝐨𝐧𝐞 𝐚𝐧𝐨𝐭𝐡𝐞𝐫 𝐚𝐧𝐲𝐭𝐡𝐢𝐧𝐠 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐦𝐚𝐫𝐫𝐢𝐚𝐠𝐞.”
𝐒𝐨𝐮𝐫𝐜𝐞: 𝐒𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐈𝐛𝐧 𝐌𝐚̄𝐣𝐚𝐡 𝟏𝟖𝟒𝟕

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
The Prophet ﷺ said:
„ Verily, Allah has forbidden you from neglecting your duty to your mothers.“
(Sahih al-Bukhari 5975)
Seseorang yang paham ilmu dan adab, tidak akan bermudah-mudah dalam menyakiti orang lain, baik melalui lisan, terlebih dengan perbuatan.
Maka, betapa pentingnya menjadi pribadi yang juga memahami adab, bukan hanya menuntut ilmu.
Jangan Siakan
Pesan untuk lelaki yang sudah menikah. Seseorang yang saat ini berada bersamamu adalah seseorang yang dulu kamu pilih dengan sadar. Bahkan, dengan perjuangan. Orang yang menemanimu saat ini adalah orang yang dulu begitu dicintai oleh orang tuanya, diberikan semua yang ia butuhkan, diberikan keleluasaan untuk bergerak mengaktualisasikan dirinya, menjadi dirinya sendiri dengan segala mimpi dan cita-citanya.
Jangan sampai karena dia menikah denganmu. Hidupnya yang dulu berwarna, kini menjadi kelabu. Mimpi-mimpinya yang dulu selalu diupayakan jalannya oleh orang tuanya, kau belenggu, diikatnya hingga tak ada lagi harapan yang tersisa untuk mimpinya menjadi kenyataan. Alih-alih kita membantunya mewujudkan, malah mematikan.
Jangan sampai karena menikah denganmu, ia kehilangan dirinya sendiri hanya karena dituntut untuk terus menjadi seperti apa yang kamu mau. Mendiktenya harus ini dan itu. Mengerdilkannya dengan membuatnya semakin tak berdaya dan tak berarti.
Kamu memang tidak mengikatnya dengan tali, tapi keberaniannya telah mati, hatinya telah mengecil, mimpinya telah hilang, dan kepercayaan dirinya telah runtuh. Menikah denganmu, bukannya menjadi bahagia malah sebaliknya.
Orang yang saat ini berada bersamamu, adalah orang yang dulu begitu diperjuangkan oleh kedua orang tuanya. Dibesarkan dari kecil hingga dewasa, saat kamu datang mengambilnya. Mungkin juga saat kamu berhasil memenangkannya, ada orang lain yang saat itu juga begitu mencintainya, memperjuangkannya, dan memperlakukannya dengan begitu terhormat.
Tapi kamu tidak, merusaknya, menginjak-injak harga dirinya. Hingga ia tak lagi memiliki energi untuk menghadapi hari demi hari yang begitu kelam. Kamu telah menyia-nyiakannya.
Jangan sampai, kita menjadi demikian.
Untuk yang masih punya orang tua, bergegaslah setiap hari. Belajarlah yang giat. Bekerjalah yang banyak. Sering-seringlah pulang; tanya kabar orang tua; dengarkan cerita mereka; makan bersama mereka; belikan makanan atau barang kesukaan mereka sebagaimana dulu mereka membelikan kita apa saja. Selagi masih ada waktu, sayangi mereka semampu yang kamu bisa seakan inilah saat-saat terakhirmu bersama mereka.
Untuk yang sudah tak punya orang tua, lebih bergegaslah lagi dari orang kebanyakan. Belajarlah lebih giat. Bekerjalah lebih keras. Beribadahlah lebih banyak. Berdoalah untuk mereka. Bersedekahlah atas nama mereka. Jadikan setiap detik dan kebaikan pada dirimu menjadi cahaya, penyejuk, dan pelipur lara bagi mereka di alam kuburnya yang tak pernah putus. Memang raga tak lagi bersua, tapi baktimu abadi. Pertautan tali kasih ini akan abadi sampai bertemu kembali di akhirat sana.
Selamat siang anak kesayangan yang sekarang jarang pulang karena segudang alasan.
Taufik Aulia

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Getting married is easy but the hardest part is to find the right partner who's going to help in you to maintain and increase your Iman and Taqwa.
A WOMAN OF RELIGION
She must be a woman of religion and good character who assists you in obeying Allaah. She reminds you of something if you forget it, she helps you when she is called to do so, she tends to you when you are present, she protects your wealth and your honor when you are gone, she is accepting when you are angry, she obeys your commands, and she is dutiful when you swear an oath.
Tahun ke 5
September nanti, saya dan kekasih saya @ajinurafifah akan memasuki tahun ke-5 pernikahan. Tahun ke-5 adalah checkpoint kedua dalam berumah tangga yang kami buat. Ibarat kata sedang bangun rumah, 5 tahun pertama adalah fase membangun pondasinya.
Karena di 5 tahun pertama ini, ada banyak sekali kejadian. Proses adaptasi dengan pasangan, perubahan fase dari single ke menikah, kemungkinan kehadiran anak, penyesuaian ritme keluarga, proses membangun karir, proses membangun komunikasi efektif dengan pasangan, dan lain-lain. Banyak sekali hal yang terjadi di 5 tahun pertama pernikahan, ibarat kata kalau pondasi ini rapuh. Rumah Tangga yang akan dijalani di tahun-tahun berikutnya bisa jadi semakin berat. Untuk membangun pondasi pertama ini, dibutuhkan peran kedua belah pihak, suami dan istri. Tidak bisa dibangun sendirian.
Checkpoint pertama dulu ada di usia pernikahan 40 hari, ini sudah dibahas dibukunya Apik yang berjudul Melangkah Searah. Di checkpoint kedua ini, banyak sekali evaluasi yang kami lakukan sepanjang perjalanan. Bahkan, sampai hari ini, kami masih berusaha untuk mengenal satu sama lain, belajar berkomunikasi dengan lebih baik lagi untuk bisa menyampaikan gagasan dan juga perasaan.
Memahami bahasa kasih sayang satu sama lain yang ternyata berbeda. Memperkuat hubungan dengan keluarga besar kedua belah pihak. Dan juga bagaimana kami berkompromi untuk bisa saling mewujudkan mimpi masing-masing dengan segala tantangannya.
Semalam apik bertanya tentang bagaimana rencana ke depan. Dalam kondisi seperti sekarang, tujuan rumah tangga ini menjadi lebih sederhana tapi tidak mudah, yaitu bisa bertahan melewati kondisi pandemi dengan keadaan sehat badan, sihat jiwa, sehat mental, sehat finansial. Tak hanya untuk kami, tapi juga anak-anak. Agar mereka tetap bisa tumbuh dengan baik di tengah kondisi yang mungkin sedang terbatas.
Mohon doanya agar kami bisa melewati tahun demi tahun berikutnya dengan baik, menjadi kekasih, menjadi orang tua, menjadi anak. Peran yang kami jalankan dalam satu waktu. Semoga pun demikian dengan keluarga teman-teman, mudah-mudahan dikuatkan untuk melewati setiap fasenya. Karena ke depan, tantangan yang ada tentu akan semakin besar. Mudah-mudahan kita bisa tumbuh bersama menjadi keluarga yang pernah dicita-citakan.
Alhamdulillah, memiliki pasangan yang bisa diajak berjuang bersama adalah anugrah terbaik dalam berumah tangga. Mudah-mudahan teman-teman yang belum menikah juga bisa menemukan pasangan yang tepat, jangan buru-buru masuk ke dalam fase berumah tangga kalau kamu belum sepenuhnya yakin dengan orang yang akan kamu nikahi, atau kamu menikah karena terburu-buru. Pahami baik-baik, bahwa pernikahan itu perjalanan yang panjang. Kalau pun kamu gagal berkali-kali ketika menuju fase pernikahan, kukatakan sekali lagi bahwa lebih baik kamu gagal di tengah proses tersebut daripada gagal di tengah-tengah pernikahanmu.
©KURNIAWANGUNADI
Bahkan jika seribu orang lain mencintainya, mereka tidak akan pernah sebanding dengan cara aku mencintainya.
Tutorial Jatuh Cinta
Jatuh cintalah pada seseorang yang perasaan cintanya lebih besar darimu. Karena ia akan membuatmu menjadi sangat berharga. Bersedia untuk melakukan hal-hal kecil untukmu, menggendong anakmu saat kelelahan, membiarkanmu tetidur dan ia membereskan rumah, membelamu jika ada orang lain yang menyerangmu, menyediakan makanan-makanan kecil saat kamu malas memasak, dan tidak marah-marah saat kamu menghabiskan uang yang digunakan untuk kebutuhan kalian berdua. Jatuh cintalah pada seseorang yang memiliki cara berpikir yang baik, yang luas, yang terbuka. Karena di dalam pikirannya nanti kamu akan tinggal. Karena cara berpikirnya itulah yang akan kamu hadapi selama kalian bersama. Tentu merepotkan tinggal bersama orang yang ternyata cara berpikirnya mudah menerima hoax, tidak bisa mencerna informasi dengan baik, tidak bisa mengambil keputusan dengan bijak, tidak ada keinginan untuk berkembang, tidak punya pendirian yang kuat. Lelah sekali tinggal di pikiran yang seperti itu, bukan? Jatuh cintalah pada seseorang yang mudah diajak berbicara. Kamu tak perlu merasa takut untuk mengutarakan segala isi hatimu, mengutarakan segala penatmu, mengajaknya berdiskusi untuk keluargamu. Tentu tidak enak jika selama bersama, kalian tidak bisa membicarakan hal-hal penting untuk keluargamu. Bahkan, untuk sekedar mengatakan bahwa kamu lelah dan memintanya untuk mengasuh anak sebentar saja, kamu takut. Tak leluasa untuk berbicara. Padahal, memiliki teman bicara seumur hidup yang nyaman itu benar-benar anugrah yang tak ternilai.
Kalau kamu ingin jatuh cinta, tutup sejenak matamu dari hal-hal yang kamu lihat darinya. Rasakan dari hatimu, berpikirkan sejauh mungkin. Seberapa bisa kamu hidup dengan sosok sepertinya. Karena apa yang kamu lihat dari matamu, seperti kecantikan/ketampanan itu akan usang dimakan usia, harta bisa hilang, jabatan bisa lepas. Kalau nanti kamu jatuh cinta, kamu tak lagi takut jatuh ditempat yang menyakitkan karena kamu bisa memilih di tempat seperti apa cintamu jatuh. Hati-hatilah memilihnya. Kalaupun harus menempuh jalan yang panjang dan berliku, tidak apa-apa. Kalau harus menempuh waktu yang lama, tidak apa-apa. Tidak apa-apa.
©kurniawangunadi
Tahun ke 5
September nanti, saya dan kekasih saya @ajinurafifah akan memasuki tahun ke-5 pernikahan. Tahun ke-5 adalah checkpoint kedua dalam berumah tangga yang kami buat. Ibarat kata sedang bangun rumah, 5 tahun pertama adalah fase membangun pondasinya.
Karena di 5 tahun pertama ini, ada banyak sekali kejadian. Proses adaptasi dengan pasangan, perubahan fase dari single ke menikah, kemungkinan kehadiran anak, penyesuaian ritme keluarga, proses membangun karir, proses membangun komunikasi efektif dengan pasangan, dan lain-lain. Banyak sekali hal yang terjadi di 5 tahun pertama pernikahan, ibarat kata kalau pondasi ini rapuh. Rumah Tangga yang akan dijalani di tahun-tahun berikutnya bisa jadi semakin berat. Untuk membangun pondasi pertama ini, dibutuhkan peran kedua belah pihak, suami dan istri. Tidak bisa dibangun sendirian.
Checkpoint pertama dulu ada di usia pernikahan 40 hari, ini sudah dibahas dibukunya Apik yang berjudul Melangkah Searah. Di checkpoint kedua ini, banyak sekali evaluasi yang kami lakukan sepanjang perjalanan. Bahkan, sampai hari ini, kami masih berusaha untuk mengenal satu sama lain, belajar berkomunikasi dengan lebih baik lagi untuk bisa menyampaikan gagasan dan juga perasaan.
Memahami bahasa kasih sayang satu sama lain yang ternyata berbeda. Memperkuat hubungan dengan keluarga besar kedua belah pihak. Dan juga bagaimana kami berkompromi untuk bisa saling mewujudkan mimpi masing-masing dengan segala tantangannya.
Semalam apik bertanya tentang bagaimana rencana ke depan. Dalam kondisi seperti sekarang, tujuan rumah tangga ini menjadi lebih sederhana tapi tidak mudah, yaitu bisa bertahan melewati kondisi pandemi dengan keadaan sehat badan, sihat jiwa, sehat mental, sehat finansial. Tak hanya untuk kami, tapi juga anak-anak. Agar mereka tetap bisa tumbuh dengan baik di tengah kondisi yang mungkin sedang terbatas.
Mohon doanya agar kami bisa melewati tahun demi tahun berikutnya dengan baik, menjadi kekasih, menjadi orang tua, menjadi anak. Peran yang kami jalankan dalam satu waktu. Semoga pun demikian dengan keluarga teman-teman, mudah-mudahan dikuatkan untuk melewati setiap fasenya. Karena ke depan, tantangan yang ada tentu akan semakin besar. Mudah-mudahan kita bisa tumbuh bersama menjadi keluarga yang pernah dicita-citakan.
Alhamdulillah, memiliki pasangan yang bisa diajak berjuang bersama adalah anugrah terbaik dalam berumah tangga. Mudah-mudahan teman-teman yang belum menikah juga bisa menemukan pasangan yang tepat, jangan buru-buru masuk ke dalam fase berumah tangga kalau kamu belum sepenuhnya yakin dengan orang yang akan kamu nikahi, atau kamu menikah karena terburu-buru. Pahami baik-baik, bahwa pernikahan itu perjalanan yang panjang. Kalau pun kamu gagal berkali-kali ketika menuju fase pernikahan, kukatakan sekali lagi bahwa lebih baik kamu gagal di tengah proses tersebut daripada gagal di tengah-tengah pernikahanmu.
©KURNIAWANGUNADI

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Hadir Belum Tentu Takdir
Meskipun kita tahu yang hadir belum tentu takdir, tugas pertama tetaplah menjaga perasaan orang yang hadir. Meskipun tahu bahwa apa yang kita jaga saat ini belum tentu dimiliki, kita tetap dituntut untuk saling menghargai.
Mungkin jika takdir membawa kita kearah bahagia, diri masih bisa bersikap biasa atau bahkan sangat gembira. Namun, jika takdir membawa kearah sebaliknya, hanya ada beberapa yang bisa mengatasi kondisi dan situasi demikian. Hanya sedikit orang yang hatinya bisa tetap terjaga, meskipun kebanyakan memaksa. Memaksakan baik-baik saja.
Yang hadir belum tentu takdir. Tetapi, meninggalkan yang telah ada belum tentu mendapatkan penggantinya. Tak perlu merisaukan takdir atau terus-menerus mencari, cukup jaga hati yang saat ini ada di sisi. Menjaga orang yang selalu ada di sampingmu.
Sadarilah kembali, jangan sampai penyesalan yang menyadarkanmu.
Bahkan jika seribu orang lain mencintainya, mereka tidak akan pernah sebanding dengan cara aku mencintainya.
“Kita tidak pernah menduga kalau akan saling menjadi titik pemberhentian. Aku berhenti dari lamanya mencari, kamu berhenti dari lamanya menunggu, dan kita sama-sama berhenti dari menerka-nerka masa depan yang tentu dulu sering kita risaukan.”
—
Danny Dzul Fikri
Dan kita akan menemukan pemberhentian masing-masing.
(via dannydzulfikri)
Adaptasi dalam Pernikahan
Tahun pertama menikah memang adaptasi dan itu bukan hal yang mudah. Pergantian peran yang mana tiap aktivitasnya membutuhkan pembiasaan, biar bisa masuk level pro wkwk. Mungkin kalau diniatin nggak karena Allah, beneran nggak kuat hoho~
Dulu nggak biasa ngelakuin pekerjaan rumah sendiri, sekarang semuanya sendiri; nyapu, ngepel, beres-beres, setrika, nyuci, jemur baju, nyiapin ini itu. Dulu nggak biasa masak, udah belajarpun kok masih sering zonk, sekarang mau nggak mau ya tetep harus belajar. Meski tangan sampe lecet, luka-luka karena masuk di dunia perdapuran dan perkamarmandian hahaha lemah sekale akoh
Beberapa hari yang lalu, aku sampe sedihhh banget gitu rasanya karena aku belum bisa masak, apalagi suami punya selera sendiri. Aku nelpon mama nangis-nangis dong, cuma bilang, "Aku nggak bisa masak, ma".
"Terus kenapa kok nangis? Emang kamu dimarahin sama suamimu?"
"Enggak", jawabku.
Ya pokonya aku pengen nangis aja wkwkwk. Walaupun dalam syariat Islam bukan kewajiban istri harus bisa masak, harus ngurusin semua pekerjaan rumah. Fitrah perempuan itu haid, hamil dan menyusui. Jadi di luar itu sebenarnya tugas suami, cuma kalau dilakukan sebagai bentuk pengabdian, istri dapet pahala. Yaaa kadang suami yang masak, malah aku yang diajarin begini dan begitu wkwk
Dulu terbiasa beraktivitas dan berkegiatan di luar rumah, sekarang hampir di rumah terus, dan bukan hal yang mudah buat aku. Hmm.. tapi seenggaknya di masa pandemi lewat setahun ini, aku jadi mulai terbiasa di rumah sendiri
Dulu suka ngelakuin apa-apa sendiri dan paling menghindari banget kalo ngerepotin orang lain. Sekarang mau nggak mau ya harus ngerepotin suami. Sampe suami bilang, "Kalo ada apa-apa tuh bilang, nggak usah sok kuat. Aku ini bukan orang lain, aku suamimu". Wkwkkw dasar aku
Dulu selama aku hidup sendiri, jarang minta-minta orang tua, aku gengsi dan ga enakan. Biasanya nunggu kalo dikasih. Yah.. tabiat anak pertama selalu gitu, ya gimana haha. Sekarang kalo tabungan pribadi habis, mau minta duit ke siapa kalo nggak ke suami? Wkwkwk
Tulisan ini belum selesai kutulis di notes hp, trus dibaca dia. Eh dia malah nangis dong. Trus besoknya dia nanya,
"Capek ya kamu jadi ibu rumah tangga?"
"Mau aku jadi apa aja ya tetep capek. Nggak ada kerjaan yang bikin nggak capek. Mas kerja juga capek, kan?", jawabku
Sebelum-sebelumnya, aku juga capek menjalani aktivitasku. Hanya saja sekarang capeknya berbeda. Saat sebelum menikah dengannya, aku sadar atas konsekuensi yang kujalani nanti,
"Karena nanti hidup mandiri, jauh dari keluarga, aku harus siap melakukan semuanya sendiri. Terutama masak dan nyuci yang bakal jadi tantangan buat aku. Semoga aku bisa, meski perlu penyesuaian yang agak lama"
Dalam pernikahan, tidak ada istilah timbal balik. You should give and give more. Nggak usah berharap balasan apapun. Nggak usah perhitungan sudah ngelakuin ini itu. Lakukan semua karena Allah, maka cinta itu akan semakin tumbuh dengan sendirinya.
Islam bahkan sudah mengatur hal-hal yang detail sekalipun, sampai yang terlihat sepele. Semisal lagi marahan. Sebelum tidur harus damai dulu, nggak boleh bikin suami marah karena malaikat akan melaknat si istri sampai shubuh.
Kalo dipikir pake logika dan ego-ego kita muncul, "lah ngapain sih, orang dia yang salah, kita marah sama dia". Sulit sekali ya rasanya untuk taat. Butuh dorongan iman untuk lapang menerima syariat Allah.
Bukan hal yang mudah
Namun, kita harus berusaha menjadi yang terbaik, memberikan yang terbaik, meski masih banyak kekurangan yang kita miliki~
Buntok, 11 Agustus 2021 | Pena Imaji
"Menikah adalah milik dua manusia yang pemaaf" 😊
Melawan Kepingan Hatinya Sendiri
Aku baru tau bahwa sebesar apapun keyakinan seseorang pada pilihannya. Tetap saja harus melawan kepingan hatinya sendiri.
Bagaimana jika salah memilih orang yang bersamanya akan melewati ribuan hari. Juga pertanyaan lain yang tak mungkin terjawab saat ini. Kata teman saya yang akan menikah begitu.
Jadi benar sekali kata John Gray dalam "Men are from Mars, Woman are from Venus". Keduanya dua mahluk unik yang masing-masing memiliki pengalaman yang unik.
Keduanya mempunyai cara memandang dunia dengan sudut yang berbeda. Termasuk cara meyakinkan dirinya sendiri pada keputusan-keputusan yang akan diambil. Sungguh unik manusia.
Diakhir cerita aku jadi bertanya lagi. Kalau tidak yakin, mengapa melangkah sejauh ini? Bukannya tidak yakin, aku hanya sedang menguatkan diri sendiri. Bahwa aku menikahi manusia, bukan mahluk tanpa cela.
Selain itu, aku sadar dengan dua tangan tak akan mungkin bisa memberi manfaat kepada seluruh mahluk bumi. Tapi dengan menikah, setidaknya bisa memberi manfaat untuk satu mahluk bumi.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Menyesal
Aku baru sadar kalau ternyata apa yang sudah kulewati selama ini, adalah sesuatu yang selama ini kucari. Tapi, itu sudah dibelakang dan aku tak bisa kembali. Salahku, yang menyangka dengan berlari cepat akan segera sampai tujuan. Salahku, tidak kenal dengan apa yang sebenarnya kucari. Dan salahku, karena aku terus berharap bisa memutar waktu. Hidup dalam penyesalan. ©kurniawangunadi