Palestina, Al-Aqsha, adalah Kita*
*ditulis pada tahun 2017 saat pertama kali Al-Aqsha di blokade oleh tentara Israel, dengan penyesuaian kondisi saat ini
“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh lain akan susah tidur atau merasakan demam” (H.R. Muslim)
Shubuh tadi, ketika membuka sosial media, kita digemparkan oleh amukan tak beradab tentara-tentara Israel di kompleks masjid Al-Aqsha. Tak ketinggalan para sipil yang sedang khusyuk-khusuyuknya menjalankan ibadah mendapatkan sapuan tembakan dan ledakan. Apa salahnya mereka? Mereka tak bersenjata, tak pula berniat melawan, bukan?
Pertanyaannya, sedzolim itukah Israel terhadap bangsa Palestina? Kondisi sepanjang ini, sampai detik ini tentunya menjadi alasan tak terbatas bagi kita untuk mengatakan: ya! Dengan lantang.
Maka pilihannya hanya satu bagi kita, turut melawan kedzaliman yang dilakukan terhadap saudara kita di Palestina dengan sekuat tenaga kita, dengan sekuat kemampuan kita.
Selemah-lemahnya Iman adalah memperingatkan kedzoliman dengan mendoakan kedzoliman tersebut di angkat oleh Allah, dimusnahkan oleh Allah! Seminimalnya adalah dengan meneruskan dan mengabarkan kondisi terkini saudara kita di Palestina
Berbicara tentang kemanusiaan, Kita sepakat bahwa setiap penjajahan itu tidak memiliki sedikitpun rasa kemanusiaan. Jelas seperti apa yang telah dilakukan oleh Israel yang tidak pernah memiliki rasa kemanusiaan terhadap saudara kita di Palestina.
Mari membayangkan,
Mungkin saat ini, kita, di Indonesia masih bisa beribadah dengan nyaman dan tenteram. Tetapi saudara kita di Palestina beribadah bertemankan dentuman-dentuman meriam, tembakan-tembakan peluru yang mengancam nyawa mereka.
Mereka dalam keadaan siap untuk mati kapan saja hanya untuk Allah melalui peluru-peluru para tentara Israel. Tetapi, kita, disini, di Indonesia masih berpangku tangan, bersenang-senang, dan masih banyak tidak pedulinya dengan mereka.
Mereka adalah kita, saudara seiman, saudara seagama, mereka juga seotang muslim. Dimana ada muslim berpijak ditanah itu maka itupun juga tanah air kita. Maka sangat wajib bagi kita semua umat islam di seluruh dunia membuka mata, hati, dan kemanusiaannya untuk membela dan membebaskan saudara kita di Palestina!
Maka, jangan sampai kita diam dan mendiamkan. Kita harus marah! Kita harus terus menentang penindasan dan penjajahan keji Israel terhadap Palestina.
Bahkan, Presiden pertama kita, Ir. Soekarno pun pernah berkata, “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel!”
Mereka adalah kita, dan kita adalah mereka. Mungkin saja dalang utama dari penindasan dan penjajah itu bukan Israel. Tetapi kita senidiri, karena kita yang begitu lelah dan lemah melangitkan doa-doa kepadaNya untuk saudara kita di Palestina, maka Allah mencabut nikmat beribadah di Masjid Al-Aqsha bagi saudara-saudara kita.
Ini saatnya kita kembali. Menguatkan, merapatkan dan melangitkan doa-doa kepadaNya untuk saudara kita di Palestina dan seluruh belahan bumi lainnya.
Kita akan selalu berdiri bersama barisam saudara-saudara kita di Palestina, menentang dan melawan kedzaliman penjajahan Israel. Karena kemenangan untuk saudara-saudara kita di Palestina, adalah kemenangan Islam yang sudah dijamin oleh Allah SWT!
#10HariTerakhir
27 Ramadhan 1442 H
Tulisan 2017, yang di upload 2021, dan sampai saat ini dan di masa depan akan senantiasa relevan, selama kemerdekaan bagi bangsa Palestina belum diberikan!
Birruh, biddam, nafdika ya Aqsha!


















