Satu hal krusial yang bikin aku masih harus banyak belajar. Jujur, pertama kali aku denger statement "kunci rumahtangga yang baik itu ada di perempuan", rasanya jleb jleb. Sometimes kepikiran, sometimes neteslah~ aku merasa belum pantes, pokonya aku belum bisa. Kenapa? "Kon iku gendeng, San", gitu guyonannya tementemen ke aku wkwk. Nggak tau lah. Terlalu banyak kekurangan yang menjadi alasannya, dan bingung mau ngejelasinnya gimana. Itu yg akhirnya bikin aku nggak maju-maju, sedih, selfless, trauma, anxiety.
Setelah dipikir-pikir, aku tuh buang-buang waktu kalo gini terus; khawatir yg berlebihan, nggak bisa selesai sama diri sendiri. Akhirnya aku memberanikan diri buat terus belajar, bodoamat ga mikir mau sama siapa kek, aku benerbener yg muak gitu sama urusan perasaan. Yg penting aku hidup buat Allah, nikah juga sebagai sarana penghambaan padaNya.
Soalnya gini, tiap orang itu punya kecenderungan/ketertarikan ke beberapa orang, nggak cuma satu cuy. Ketika kita masuk pilihannya, belum tentu dipilih juga kan wkwk karena manusia itu berbolak-balik hatinya. Aku mau tobat aja rasanya di sesi ini. Udahlah, buat apa jugak ngabisin waktu buat yg ndak jelas ndak jelas kek gitu, wasting time! Luaskan logika, perkecil perasaan. Tugas kita menyiapkan diri, banyak doa, minta ke Allah supaya ditunjukkan.
Therefore, aku punya keyakinan bahwa ketika kita membentuk tujuan kita menikah dengan membekali diri, fokus pada misi spesifik hidup kita, dan nggak ngawang sama visi pernikahan, insyaAllah kita bakalan siap dengan sendirinya saat dihadapkan dengan si(apa) pun. Surely, kita ga akan mudah baper, karena kita sedang menumbuhkan akar yg kuat dari dalam diri kita sendiri.
Aku dulu berpikir let it flow aja gitu, yawda nanti waktunya niqa ya niqa, dan ngga ada effort apaapa gitu. Ternyata nggak gitu cuy, nikah itu perjalanan seumur hidup, harus jelas kemana arahnya, apa yang seharusnya kita siapkan buat ngejalani peran kita. Niqa itu nggak soal yang indah2 aja kek di drama korea. Bagiku, nikah itu malah tonggak awal buat mantepin visi misi kita sebagai seorang hamba. Istilahnya naik level; kewajibannya, ujian-ujiannya, pahalanya. Semua tentu bakalan lebih berat. Iyes lebih berat, coba bayangin aja kalo kita olahraga angkat beban tanpa pernah belajar dan latihan?
Aku suka mengamati permasalahan-permasalahan rumah tangga di sekitarku, tak terkecuali orangtuaku sendiri. Aku belajar dari sana, korelasinya dengan sudut pandang Islam itu gimana. Karena menurutku, percuma kalo belajar teori tapi kita ndak belajar yang ada di lapangan, yakan? Lagi lagi manusia cuma bisa berusaha, berdoa, dan tawakkal.
Apapun yang sudah Ia tetapkan, akan selalu ada hikmah yang bisa kita ambil bukan? Meski belum sekarang, mungkin besok atau nanti. Pandai-pandailah merawat prasangka baik kita sama Allah.
Jangan nyari yang sempurna, karena manusia yang sempurna cuma Nabi Muhammad shalallahu 'alaihu wasallam. Cari yang satu visi, misi dan tujuan.