"Ma, besok aku ada ujian tengah semester, doain ya ..." Ucapmu sambil melepas jaket hitam yang lekat ditubuhmu.
Mamamu baru saja mematikan nyala api pada kompor gas, senyumnya yang kau hafal betul tertuju padamu,"Ndak diingatkan juga Mama doakan kok."
"Untuk Putra kecil mama yang sebentar lagi akan dewasa."
Paginya, ada sedikit kendala saat kau hendak berangkat. Mamamu lupa mengeringkan celana yang akan kau pakai untuk ujian hari ini. Kau terpaksa menunggu hingga celanamu kering.
Hatimu mengumpat hebat, menyalahkan kesalahan kecil yang dibuat oleh mamamu, mama melirik kearahmu, dia tahu putra kecilnya sedang marah padanya.
"Maafin mama ya nak, besok-besok, mama nggak akan lupa deh!" ucap mamamu menghapus sunyi yang menguasai ruang.
Kau hanya bisa diam sambil bersungut-sungut. Karena kau hafal betul, esok-esok mamamu akan lupa kembali.
Sikap pelupanya ada disaat yang tidak kau inginkan.
Selang beberapa menit kemudian, mama selesai mengeringkan celanamu, kau mengambilnya dengan sedikit marah.
Pagi itu, kau berangkat tanpa pamit.
Benar saja, sesampainya disekolah kau segera kena hukuman. Kau berlari mengelilingi lapangan sambil bergumam,'ini semua salah ibu!'
Kau telat mengikuti ujian hari itu, tak ada waktu tambahan untukmu sehingga kau harus menyelesaikannya dengan tergesa-gesa.
"Hari ini, lu kena apes berapa kali?" tanya temanmu sambil terkekeh.
Kau melipat muka,"Hah, gak keitung deh. Ini semua gara-gara Mama!"
"Kok nyalahin Mama elo sih?"
"Ya gimana lagi? Gara-gara Mama lupa ngeringin celana gua, jadinya gini deh. Gua telat."
Temanmu terkekeh,"Tau nggak, sebanyak apapun orangtua elo bikin kesel, tetep aja masih banyakan elo yang bikin ortu kesel."
Angin bertiup, meniup rambut hitammu yang lebat.
"Sebagai anak, kita keterlaluan banget ya?" tanyamu.
Temanmu mengangguk,"dan terkadang kita terlalu kecil untuk mengerti."
"Yah, terkadang kita suka ngerasa kita lebih pinter dari orangtua kita, padahal sejatinya ilmu kita mah bukan apa-apa dibanding beliau!, mungkin dalam ilmu dunia iya, tapi kalau soal ilmu kehidupan, kita tuh masih noob banget."
Kamu tersenyum puas,"Bener, bener, elo bener!" ucapmu,"tumben alim?" guyonanmu menyambar, guyonan lain mengikuti.
Teruntuk semua orangtua yang ada didunia ini, maafkan anakmu jika ada beberapa--banyak--hal yang masih belum bisa kita damaikan dan mengerti. Kami masih butuh banyaaak sekali belajar, bimbing kami ya pak, bu, ayah, mama, abi, umi :')