Di bulan Ramadhan ini segala puncak agar saya dapat memperoleh gelar sarjana dimulai. Banyak drama dan tidur pagi. Bahkan dengan ujian CBT yang pertama kali akhirnya di-release sebagai syarat sidang dan bisa jadi bahan pertimbangan untuk sidang komprehensif nanti. Hasilnya? Jangan ditanya, cukup bikin mata saya sembab-sembab gimana gitu deh. Mungkin ujian setiap orang berbeda, dan sesuai kadarnya masing-masing. Semoga kita termasuk orang-orang yang lulus dengan baik tidak hanya baik nilainya di dunia ini tapi juga baik menurut Allah swt.
Kemarin sempet mikir pertanyaan nyeleneh, sebenarnya dari segala ibadah yang kita lakukan di dunia ini, apa sih tujuannya? Apakah untuk pandangan di mata orang lain? Buat bahagiain orang tua? Dapet gelar? Atau ajang pembuktian diri? Atau supaya dapet pahala biar bisa masuk surga? Atau apa sih?
Mau apapun jawaban di mulut kita sekarang, akhirnya kembali lagi, hati yang paling tau jawabannya. Segala kepenatan ini untuk apa, untuk siapa? Jujur, jika melihat dan membaca klasifikasi tingkatan iman dari niatan ibadah, sepertinya saya masih harus banyak merenung dan introspeksi. Mencari ilmu merupakan suatu bentuk ibadah yang baik, jika diniatkan karena mengharap ridho Allah, dimana mengharap Ridho Allah swt. ini merupakan tingkatan iman yang paling tinggi.
“Barangsiapa berjalan di satu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju surga. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu tanda bahwa Allah ridho dengan yang dia perbuat.” (H.R. Muslim)
Maka ingin bercerita sedikit mengenai tahapan ujian saya menuju sarjana di fakultas tercinta ini, mulai dari sepertiga usulan penelitian, kemudian dua pertiga sidang hasil penelitian, hingga sidang komprehensif. Puncaknya sih paling menegangkan ya sidang komprehensif ini, bukti pembelajaran saya selama 4 tahun ya diuji disini. Semua nilai-nilai saya dipertanggungjawabkan disini. Apakah selama saya menuntut ilmu disini benar untuk mencari ridho Allah, atau untuk apa? Maka apakah segala prosesnya telah melalui proses-proses yang Allah sukai? Astagfirullahaladziim. Sekali lagi, hanya hati ini yang paling tau jawabannya.
Saya tentulah bukan orang yang sempurna, masih banyak salah, masih banyak egois, merasa paling benar walaupun salah. Maka, mari kita bersama-sama meluruskan niat dalam hati. Di tengah kepenatan belajar biologi molekuler, farmakologi, dan radiofarmaka, sekali lagi saya kembali diingatkan oleh Allah swt. untuk kembali pada-Nya. Pada jalan-jalan yang diridhoi-Nya. Jalan-jalan yang lurus. Saya juga kembali diingatkan bahwa jika berharap kepada manusia, maka siap-siap dikecewakan. Jangan menilai orang lain, bahkan mengukur-ngukur diri sendiri, karena yang paling tau kita, keburukan kita, hanya Allah. Maka jika aib-aibmu masih ditutupi oleh Allah hingga detik ini, bersyukurlah.
Ah drama. Menyenangkan untuk ditonton, tapi sangat tidak menyenangkan untuk menjadi pemerannya. Banyak hal dibalik apa yang kita lihat yang kita bahkan tidak tau, ada berapa banyak take, berapa banyak NG, dan behind the scenes. Tapi, ingat sekali-kali apa yang tidak dilihat oleh orang lain, Allah melihatnya, bahwa apa yang tidak diketahui orang lain, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.
What’s done in darkness, always comes to light.