DUNIA MEDIA MELAWAN SEGMENTASI PASAR
sebelum membaca tulisan saya, coba lihat cuplikan video yang diatas....
sekitar beberapa tahun yang lalu, aku masuk smk jurusan broadcasting. disana aku melihat betapa kerennya dunia tersebut mulai dari segi teknik produksi sampai bagaimana membuat program yang bisa mengedukasi penonton dan berharap bisa menjadi bagian dari dunia broadcasting yang sebenarnya....
setelah lulus, aku sempat merambah ke dunia media tulis dan ya!!! itu cukup menyenangkan sampai akhirnya aku vakum sampai sekarang.
beberapa tahun yang lalu pula, ditengah berbagai tv yang cuma menayangkan sinetron kurang berkualitas dan program asal comot dari youtube aku bertemu dengan NET TV yang mencoba membuat tayangan yang cukup berkualitas dibandingkan dengan tv-tv lain. waktu itu aku sangat menikmati chanel tersebut sampai tidak melirik chanel lain.
sampai akhirnya pandemi covid-19 menyebar diindonesia pemirsa tv berpindah ke platform seperti youtube, tiktok, ig dll. sebenarnya sebelum itu penonton tv cenderung memilih sinetron yang membodohi, menjual mimpi, si kaya dan si miskin, karakter hitam putih, atau cerita ala ala sinderela yang jumlah episodenya sampai ribuan. atau suka menonton film yang cenderung genre horor macam pengabdi setan, danur, dll daripada film bermutu atau biografi seperti soekarno, gundala, bumi manusia yang syarat makna dalam filmnya.
sekarang kita bedah kenapa ini bisa terjadi dari dua sudut, sudut penulis dan sudut penonton
mari kita mulai dari sudut penulis; - Dari sudut pandang penulis, entah itu penulis sinetron, film, buku, apapun itu sebenarnya mereka ingin membuat cerita yang berkualitas yang memberikan edukasi kepada penonton, bahkan itu cita-cita mereka. namun pada kenyataannya, mereka harus memenuhi selera pasar dan kebutuhan tv. karena ketika kita menulis sebagai sebuah pekerjaan, mau tidak mau memang harus memenuhi kebutuhan tv akan segmentasi pasar. tapi kalau mau menulis sebagai berkarya, mereka harus cari platform lain yang bisa menjembatani mereka membuat karya yang berkualitas dam berbobot dan untungnya, ada platform ott seperti netflix, weTV, VIU, disney hotstar dll.
Dari sudut pandang penonton; - dari sudut pandang penonton, penonton tv indonesia sekarang adalah emak-emak yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga. ketika mereka selesai lekukan tugas rumah tangga, mereka akan menonton tv kerika mereka beristirahat (tidak berlaku untuk emak-emak muda), kalau anak anak pasti lebih milih nonton youtube dan bapak bapak cenderung cuma menonton bola sehabis lelah seharian bekerja.
nah, sekarang bagaimana dengan generasi mudanya!! - dari generasi muda, terutama lulusan baru dari sekolah film maupun dari berbagai tempat. mereka dengan idealismenya ingin membuat karya yang berkualitas dan berbobot karena mereka juga resah akan program tv yang kian hari kian merosot. tapi, setelah terjun langsung dan mengetahui fakta lapangannya, banyak dari mereka yang resign dan memilih menjadi konten kreator di youtube yang lebih mengapresiasi karya mereka.
jadi?
pertanyaannya siapa yang salah?
dunia media atau selera penonton?















