Seorang anak perempuan terlihat berlari mengejar ayam yang ada di hadapannya. Tampak seragam putihnya lusuh oleh keringat. Terdengar suara alat tulis beradu dalam tas ranselnya yang mengikuti gerakannya. Lalu langkah gadis cilik itu berakhir di salah satu pintu yang terbuka lebar. Dia melongok ke dalam rumah bercat biru langit.
“Ibu, Raya sudah pulang.” ujarnya setengah berteriak, seolah takut suaranya tidak terdengar oleh ibunya.
Kepalanya melongok mencari sosok Ibu dan Mulia, adiknya. Tak berselang lama, terpantul siluet wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan awal tergopoh menuju ke pintu. Muncullah sosok ibu dari gadis kecil tersebut. Orang-orang di lingkungan ini, memanggilnya Ibu Sugih.
Melihat sosok yang dinanti, Raya seketika memeluk kaki ibunya. Ada perasaan lega di dalam hati. Syukurlah dia bisa melewati hari pertamanya duduk di sekolah dasar dengan lancar.
“Gimana sekolahmu? Apa sudah punya teman?” sambut Ibu.
“Raya pinter loh, Bu. Tadi ada tiga temanku yang nangis-nangis pas di tinggal ibu bapaknya. Oh ya.. Raya juga sudah punya teman, namanya Sari. Dia kasih aku kue cokelat. ” jawab Raya tanpa jeda.
Lalu gadis itu tersenyum lebar seakan ingin mendapatkan pujian atas kemandiriannya di hari pertama sekolah. Kode tersirat yang terlihat jelas. Ibu segera memeluknya. Ibu sudah menduga jika anak pertamanya memang pintar beradaptasi.
Ibu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Si bungsu sedang tertidur pulas di sampingnya. Sedangkan Raya kini tengah tenggelam dengan majalah lama milik Kak Putri.
Kak Putri adalah anak dari pemilik rumah, tempat Ibu bekerja. Buku-buku terbaru Kak Putri tertata rapi di tempat rak yang cukup tinggi. Sedangkan Raya hanya bisa menjangkau barisan bawah yang berisikan majalah-majalah tahun cetakan lama.
Karena merasa bosan membolak-balikkan majalah Bobo yang mungkin sudah ratusan kali ia baca. Raya mulai melirik adiknya yang sejak tadi tertidur, terlihat menggemaskan. Terbesit keinginan untuk iseng pada adiknya. Raya mencubit pelan pipi dan hidung adiknya. Terlihat adiknya mulai menggeliat tidak nyaman, di susul dengan suara rengekan.
“Raya jangan ganggu adik yang lagi tidur !” tegur Ibu. Raya tertangkap basah sedang mengganggu tidur adiknya.
Gadis itu menyengir, menghentikan cubitannya sebelum tangis adik benar-benar pecah. Bisa gawat jika adiknya menangis, dan Ibu marah. Dengan lesu, Raya bangkit untuk mengembalikan majalah yang tadi dibaca. Matanya menyapu seluruh ruangan. Mencari hal lain yang bisa dilakukan. Raya bosan.
Melihat tingkahnya, Ibu menitahkan Raya untuk pulang dan mengganti pakaiannya. Di mata Ibu, anaknya tidak tenang karena kegerahan.
Sisa jarak menuju ke rumahnya hanya lima ratus meter. Tak begitu jauh, di bandingkan dengan jauhnya sekolah yang lebih dari dua kilometer. Ibu bekerja di rumah Bu Nuri sebagai buruh setrika.
Rumah Bu Nuri terletak di persimpangan yang cukup ramai, sedangkan rumah Raya berapa di ujung jalan yang buntu. Tak lama, mulai melihat bangunan yang dia kenali.
Namun di ujung jalanan buntu itu juga tampak siluet seorang laki-laki yang sedang duduk di atas becak merah menyala.
Seketika pandangan Raya tertunduk. Dia mempercepat langkah hingga nyaris berlari. Gadis itu tergesa-gesa memasuki rumah. Kunci rumah yg terselip di bawah wajan hampir terjatuh karena tangannya bergetar.
Jantungnya berdegup kencang tidak normal. Badannya berkeringat dingin karena ketakutan. Sangat jelas jika dia takut pada Pak Koro, tetangganya sendiri.
Pak Koro seringkali menatap tajam pada Raya dan keluarganya, menjadi alasan utama dia takut. Bahkan tak jarang sosok berkumis itu melambai padanya saat berpapasan. Khususnya saat bertemu dengan Raya seorang. Hal itu membuatnya menjadi sangat ketakutan setiap kali melihat sosok laki-laki tersebut. Namun sungguh aneh, Bapak tidak pernah mendapatkan pengalaman buruk dengannya.
Tidak jarang gadis itu menceritakan pengalaman buruknya pada Ibu dan Bapak. Mungkin dia sudah phobia dengan becak berwarna merah terang. Untung saja warna becak Bapak berbeda dengan milik tetangganya.
Meski Bapak dan Pak Koro, sesama tukang becak, namun mereka tidak akrab. Hanya sesekali saja saling menyapa. Menurut Bapak, gerak-gerik Pak Koro memang mencurigakan. Dan Bapak harus waspada terhadapnya.
Seketika itu Raya kembali meninggalkan rumah, dan lari terbirit menuju rumah Bu Nuri. Setibanya, nafas Raya masih terengah seolah oksigen tidak mau memasuki paru-parunya.
Barusan dia berlari sekencangnya, hanya demi menghindari tatapan yang menyebalkan. Ibu melirik putrinya sepintas, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Menurutnya Raya memang hyperactive , kerap kali dia melihat anaknya berlarian tanpa arti.
“Kenapa sih Pak Koro suka godain aku, Bu?” tiba-tiba gadis itu mengomel setelah nafasnya mulai beraturan.
Mata Ibu mengernyit mendengar nama Pak Koro.
Apakah anaknya lari terbirit-birit karena ulah tetangganya?
Namun Ibu memilih diam. Menunggu Raya melanjutkan ucapannya.
“Masa tadi Pak Koro dadadah gitu ke aku.” kali ini nadanya kesal.
“Nanti Raya akan aduin ke Bapak!” lanjutnya.
“Raya capek lari-lari karena di lihatin terus.”
Ibu hanya bisa tersenyum kecut. Karena Ibu juga mempunyai perasaan yg sama. Risau, takut, curiga dan kesal saat megawasi tingkah laku tetangga anehnya itu.
Walaupun sudah bertempat tinggal di lingkungan ini selama 2 tahun. Terhitung sudah cukup lama mereka hidup bersebelahan. Tapi Ibu Sugih dan anak-anaknya, masih tidak dapat memahami tingkah laku Pak Koro.
Akhirnya Ibu hanya bisa mencoba meredamkan emosi anak pertamanya. Sudah beberapa kali Ibu turut mengadukan masalah ini pada Bapak, namun sampai saat ini Bapak belum menegurnya. Mungkin Bapak tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan.
Sore itu di tutup dengan panggilan teman-teman main Raya. Dalam sekejap, gadis kecil itu melupakan segala kekesalannya pada Pak Koro.
Suara salam Bapak terdengar dari luar. Raya dan Mulia berhamburan memeluk sosok laki-laki berwajah tenang tersebut. Sudah dua hari ini Bapak tidak pulang karena pekerjaan. Kali ini Bapak membantu mengantarkan perabotan milik tetangga mereka yang pindah ke provinsi lain.
“Bapak bawa oleh-oleh.” gumam Bapak yang tengah di menuhi pelukan anak-anaknya.
Malam itu keluarga Bapak Sugih menikmati hangatnya martabak yang di belinya. Ibu menyuguhkan sepiring nasi terakhir, sebagai tambahan untuk santapan malam mereka. Raya dan Mulia berlomba menyendok nasi ke dalam mulut masing-masing. Bagi mereka, hari ini sangat spesial karena lauk martabak.
Melihat tingkah laku kedua anaknya, Bapak tersenyum sembari memberikan uang kembalian pada Ibu. Bapak sangat memahami kondisi keuangan mereka yang sebenarnya jauh dari kata layak.
Apalagi pasangan suami istri itu hanya bekerja serabutan. Keduanya meyakini jika rejeki adalah misteri kehidupan. Mungkin hari ini rejeki berbentuk uang. Tapi tidak ada yang tau tentang esok. Mungkin rejeki dalam bentuk lain.
“Oh ya, gimana sekolahnya ?” tanya Bapak pada Raya.
“Raya pinter loh Pak. Tadi temen sekelas Raya ada yang nangis sewaktu di tinggal bapak ibunya.” dia menjawab dengan mulut penuh.
Ada beberapa bulir nasi yang terjatuh di lantai. Ibu melirik bersiap untuk mengomel. Mengetahui ekspresi Ibu yang berubah, Raya langsung memungut dan mengembalikan ke mulut. Bapak tersenyum sekali lagi, Raya memang berbeda.
Malam yang semakin larut. Ibu dan Bapak Sugih bersiap untuk tidur. Anak-anak itu juga sudah terbuai dalam mimpi. Ibu bersiap menceritakan keluh kesahnya.
“Pak, tadi Pak Koro menggoda Raya lagi. Saat itu Ibu lagi di rumah Bu Nuri. Ibu takut keluarga kita di apa-apain saat Bapak tidak ada…” gumamnya pelan.
Lagi-lagi Pak Koro.. Apa ada masalah dia denganku? kenapa selalu mengganggu keluargaku.
Bapak menatap istrinya dan mencoba menenangkan. Meski terbesit ingin memperingatkan tetangga itu, namun dia tidak ingin mencari keributan karena kesalahpahaman. Mungkin saja, dia dan keluarganya yang tidak bisa memaklumi tingkah laku tetangga barunya.
“Nanti bapak tegur dia ya, Bu.” hanya kalimat itu yang bisa Bapak ucapkan sebelum keduanya terpejam.
Ibu menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Dia menyajikan tahu sebagai lauk. Irisannya cukup tipis, hingga nyaris terlihat menyerupai kripik tahu. Sudah hampir seminggu Ibu dan Bapak Sugih tidak mendapatkan pemasukan.
Di akibat langit yang selalu mendung, membuat orang-orang enggan keluar rumah. Memang saat musim hujan, peluang Bapak mendapatkan penumpang semakin kecil.
Terjadi juga dengan pekerjaan Ibu yang menjadi buruh cuci dan setrika. Ibu-ibu pelanggannya lebih memilih untuk menitipkan bajunya pada penatu yang mampu menyiasati musim hujan.
Bapak berpamitan setelah meletakkan piring kotornya. Menciumi satu per satu anggota keluarganya sebelum kembali mengayuh mencari pelanggan. Mulia, si bungsu, memberikan botol air kemasan yang telah digunakan berkali-kali untuk bekal Bapak. Suasana hangat di Minggu pagi ini, membuat hati Bapak sendu.
“Doakan hari ini Bapak dapat penumpang ya, Nak.” pamit Bapak.
Selepas meninggalkan rumah, Bapak menitikan air mata. Akhir-akhir ini jasa tukang becak tidak lagi di minati oleh masyarakat. Kebanyakan lebih memilih membayar ojek motor atau becak motor agar lekas tiba di tujuan. Terlebih sudah masuk musim penghujan.
Tuhan tolong beri aku jalan untuk menghidupi keluarga ini.
Setelah sarapan Ibu mengajak kedua anaknya berjalan menuju pasar. Niat hatinya untuk berkeliling menawarkan jasanya. Di depannya, Raya dan Mulia berlarian. Beberapa kali keduanya berbelok arah ke rumah tetangga yang mereka kenal, hanya untuk sekedar menyapa.
Tak lupa Ibu juga turut tersenyum ramah pada tetangga yang sedang berada di depan rumahnya. Ada yang sedang menyapu, ada yang sedang berjemur dengan bayinya, bahkan sudah ada yang duduk-duduk mengobrol untuk saling membagi gosip terbaru.
Bu Nuri, pelanggan setia Ibu, memanggil kedua anak yang dia kenal baik. Perempuan paruh baya itu mengeluarkan dua donat dan membagikannya. Wajah kakak beradik itu sumringah mendapatkan jajanan favorit mereka.
Bahkan Mulia memeluk dan mencium Bu Nuri karena gembira mendapatkan donat. Raya selaku yang tertua berterima kasih dengan sopan.
“Hari ini libur dulu ya Bu Sugih. Saya mau pergi ke tempat Putri.” ujar Bu Nuri saat sosok Ibu Sugih yang baru tiba.
“Salam untuk Putri ya, Bu Nuri. Semoga lancar kuliahnya.” Ibu sedikit menundukkan pandangannya. Terbesit rasa malu karena niat terselubungnya terbaca oleh tetangga baiknya ini.
Bu Nuri berpamitan dan pergi mengendarai sepeda motornya. Anaknya memang berkuliah di kota lain. Jika ada kesempatan, Bu Nuri mendatangi anak semata wayangnya itu. Sedangkan suami Bu Nuri adalah TKW Malaysia. Kini Bu Nuri hidup di lingkungan ini sendirian.
“Makan donatnya nanti saja ya, setelah pulang dari pasar.” ujar Ibu.
Raya mengangguk, perutnya sudah kenyang dengan sarapan pagi ini. Raya menitipkan donatnya pada Ibu, dan berlari mengejar sosok Bu Nuri yang kian menjauh. Mulia pun akhirnya turut memberikan donat dan mengikuti kakaknya.
Di perjalanan menuju pasar, Ibu terlihat celingukan. Ibu mencari tanaman yang mungkin bisa di petik. Jika bernasib baik, terkadang menemukan buah jambu atau belimbing yang sudah cukup matang. Seakan sudah menjadi rutinitas, saat melewati rawa-rawa, Raya mulai membantu mengecek daun-daun yang tumbuh liar.
“Ini bisa di makan, Bu?” gadis itu berjongkok menunjuk dedaunan.
Ibu mendekati daun yang Raya maksud. Matanya terpicing memastikan dan sedetik kemudian mengangguk gembira. Hari ini mereka beruntung bisa menemukan kangkung liar. Kini raut wajahnya lebih sumringah, bahkan langkahnya terasa lebih ringan.
Sesampainya di pasar, Ibu berjalan menuju penjual tahu. Sedangkan Mulia menarik baju Ibu dengan mata yang terus menatap penjual mainan. Raya yang mengetahui gerak-gerik adiknya, seketika dia menarik tangan adiknya. Dia mengajak Mulia untuk mengitari pasar.
Tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundak Raya. Ternyata Sari, teman sekelasnya. Tak lama Ibu si Sari ikut menyapa kedua kakak-beradik itu. Bercakap ringan lalu berpamitan. Sebelum berpisah, Ibu Sari memberikan satu sosis instan. Mereka menerima perpisahan dengan gembira. Hari ini makan enak.
Dua gadis kecil sepakat untuk menyudahi penjelajahan, dan kembali menuju tempat penjual tahu. Ibu pasti sudah menunggu. Dan benar saja, Ibu sudah berdiri di seberang jalan.
“Ibuuuu! Kita dapet sosis dari temen Kak Raya.” teriak Mulia dengan sosis yang terangkat.
Mereka pulang dengan hati yang gembira. Rejeki memang misteri. Siapa sangka meski uang yang Ibu pegang nyaris tidak ada sisa, namun mereka masih mampu bertahan hidup sampai sekarang.
“Bu, Raya boleh coba berjualan?” di tengah perjalanan, tiba-tiba Raya bertanya dengan malu-malu.
“Raya mau jualan apa?” tanya Ibu.
“Kalau donat gimana?” Raya menatap. Jawabnya masih ragu.
“Nanti habis, kamu yang makan.” canda Ibu.
“Kalau… Jualan jelly ?” entah, tiba-tiba Raya bersemangat memberikan ide lainnya.
“Kalau itu Ibu masih bisa buatkan. Tapi inget… harus di jual ya. Tidak boleh di makan sendiri.” Ibu kini ikut antusias.
“Adik juga mau jelly, Bu…” celetuk Mulia yang ada di dalam gendongan. Kemudian Ibu dan sang kakak tertawa.
Hari itu, Raya merasa bahagia. Donat dan juga sosis menanti untuk dimakan. Dan satu lagi.. Ibu tersenyum cantik sekali hari ini. Raya memeluk kaki Ibu gemas. Meski suka mengomel, Raya tetap sayang Ibu.
Raya berangkat sekolah bersamaan dengan Ibu dan Mulia yang berangkat menuju pasar. Hampir satu bulan ini Raya berjualan jelly di sekolah. Jumlahnya tidak banyak karena modal yang terbatas. Tapi cukup untuk membuatnya merasa memiliki uang sendiri.
Mulia melambai dan mengatakan hati-hati pada kakaknya. Mereka berbeda tujuan. Raya berjalan dengan semangat. Membayangkan teman-teman yang akan berebut saat dia membuka tas kresek dagangannya. Yang terpenting, hari ini dia mendapatkan jatah dua butir jelly cokelat.
Sedangkan di pasar, Ibu membeli bahan-bahan untuk dagangan anak sulungnya. Ide berjualan memang hal yang tidak pernah ia pikirkan. Meski keuntungannya sedikit, tapi sudah cukup membuatnya bisa memberikan anak-anaknya jatah jelly untuk di makan.
“Bu Sugih?” terdengar sapaan yang mendekat ke arah Ibu.
Ternyata Bu Yani, pelanggan Ibu dari desa sebelah.
“Bu Sugih hari ini bisa ke rumah saya?” tanyanya.
“Biasaa.. bantuin untuk seterika baju saya dan keluarga.”
Tanpa basa-basi Bu Yani melanjutkan maksudnya setelah yakin itu memang benar sosok Bu Sugih.
“Suami saya suka dengan hasil seterikaan Bu Sugih. Jadi tolong ya bu.. setelah ini segera ke rumah saya ya.” lanjut Bu Yani.
“Siap Bu Yani. Setelah ini saya segera kesana.” jawab Ibu.
Keduanya meneruskan perjalanannya menuju ke desa sebelah. Walaupun jaraknya cukup jauh, namun Bu Yani biasanya memberikan bonus. Suami Bu Yani adalah polisi, sehingga licinnya seragam adalah sebuah prestise.
Bu Yani menyambut mereka dengan hangat. Meski suka mengobrol dan seakan tidak berjeda, namun Bu Yani sangat baik, jauh dari kata angkuh. Ada kue basah yang membuat mata Mulia berbinar. Dan Ibu bersiap-siap untuk melakukan tugasnya.
Sudah beberapa hari ini Ibu terlihat risau dan sensitif. Bahkan Ibu menjadi sering memukuli Raya atau pun Mulia jika berbuat salah. Padahal biasanya Ibu hanya mengomel saja, atau memberikan tatapan tajamnya.
Karena Raya menjadi sangat takut dan berhati-hati dengan Ibu. Sering kali Raya kabur dengan mengajak Mulia bermain di luar dengannya. Dia ingin mengurangi beban sekaligus menyelamatkan adiknya dari amukan Ibu yang semakin tidak jelas. Seperti hari ini.
“Mulia, kamu jangan nangis terus ya. Kepala Ibu lagi pusing. Dan kita harus nurut apa kata Ibu supaya tidak di marahi.” jelas Raya menasehati adiknya.
Raya terlihat berusaha untuk menjelaskan situasi mereka. Mulia mengangguk. Entah paham atau tidak. Anak berusia tiga tahun itu hanya dapat menangkap kesimpulan, dia tidak mau Ibu marah.
Setelah puas bermain, Mereka bergegas untuk pulang. Di dalam rumah, terlihat Ibu terduduk dan menangis. Raya dan Mulia yang baru saja kembali, tergopoh mendatangi Ibunya. Apakah Ibu sakit?
Keduanya memeluk Ibu yang masih sesegukan. Ibu yang kaget dengan kedatangan mereka, seketika menghapus airmatanya. Mulia mencium kening Ibu, berharap rasa sakit yang Ibu rasa akan hilang. Saat ini Raya sibuk memikirkan apa yang harus dia lakukan.
“Bu, ini minumnya.” tangan kecilnya menyodorkan gelas berisi air. Dia terbiasa di berikan air minum saat menangis, katanya agar air matanya tidak habis.
Ibu masih meratapi kesedihannya dengan suara yang lebih lirih. Tangisannya pilu seakan menyesali sesuatu. Meskipun anak-anaknya mencoba memeluk dan menghibur. Namun air matanya semakin berurai deras. Ibu tidak mampu mencurahkan pada kedua anaknya.
“Ibu sakit? Mana yang sakit, Bu?” Mulia dengan tulus membantu mengusap airmatanya.
Pertanyaan Mulia membuat Ibu tersadar. Dia adalah orangtua dari dua anak yang masih berusia sangat muda. Kesedihannya tidak mampu membuat nasib mereka berubah. Ibu tidak mempunyai waktu untuk menyesali hidupnya.
Dengan senyum samar Ibu mencoba mengakhiri kepiluannya. Ketiganya berpelukan, erat. Lalu tersisip pertanyaan di hati Raya. Seingatnya Ibu tidak pernah menangis. Ada apa dengan Ibu?
Teka-teki alasan Ibu menangis terlupakan begitu saja. Malam ini Raya membantu Ibu mengaduk rebusan air yang barusan di tuangkan bubuk jelly . Tangannya terasa makin panas. Aroma mangga tercium semerbak, membuatnya menelan ludah.
Mulia memperhatikannya di samping pintu. Memasang mimik ingin untuk segera mencicipi. Untung saja dia takut dengan kompor, membuatnya tidak nekat mencolek bubuk jelly mangga. Tak lama Ibu datang membawa cetakan bundar yang baru saja di cuci.
Bangunan yang mereka sebut ‘rumah’ berbentuk sebuah indekos. Dengan kamar mandi luar yang terletak di seberang bangunan dan di lengkapi dengan sumur sebagai sumber airnya. Sebelum mandi atau mencuci, Ibu harus menimba air terlebih dahulu untuk mereka.
Dapur yang terletak di depan kamar, membuat tetangga lain bisa mengamati aktifitas memasak keluarga Ibu Sugih. Termasuk Pak Koro, penyewa kamar di samping mereka. Tapi sudah hampir dua minggu becak merah menyala dan pemiliknya tidak terlihat.
“Kapan-kapan kita bisa jualan donat kan, Bu?” celetuk Raya.
Gadis itu membayangkan. Jika saat menjajakan jelly dia mendapatkan bagian. Mungkin saja itu juga berlaku ketika dia berjualan donat. Ibu hanya menjawab dengan lirikan saja. Raya tidak tau jika membuat donat akan menyita waktu Ibu lebih banyak.
“Nak, kalau Ibu menjadi TKW seperti suami Bu Nuri. Raya bisa mengurus adik?” tanya Ibu dengan setengah melamun.
“Ibu jangan pergi jauh. Raya sayang Ibu. Mulia juga pasti akan menangis.” jawab Raya dengan mimik sedih.
Ibu dan Bapak Sugih adalah pasangan yang merantau. Keduanya berasal dari pulau seberang. Karena jauh dari sanak saudara, keduanya harus memulai dan mengurus segala permasalahan sendiri. Kabarnya hubungan keduanya tidak di restui keluarga. Dan menjadi sebab mereka pergi dari desa tempat tinggal mereka sebelumnya.
Selepas merapikan peralatan masak. Ibu meminta kedua anaknya untuk bersiap tidur. Malam ini terasa lebih dingin. Entah karena tidak banyak manusia yang berlalu lalang atau karena perasaan Ibu yang gelisah.
Keesokannya saat Raya menawarkan dagangannya, salah satu teman sekelasnya mendekat dan duduk di sampingnya. Tampaknya laki-laki itu tidak berniat membeli jelly mangga. Raya menatap heran namun tak di hiraukannya. Jam istirahat adalah momen sibuknya untuk berjualan.
“Raya, katanya bapakmu ikut mobil polisi ya?” akhirnya teman sekelas Raya bertanya pelan setelah sekian menit terdiam.
“Kapan?” tanya gadis itu masih sibuk meladeni pembeli.
“Aku tidak tahu hari apa. Tapi Ayahku bilang, Pak Sugih naik mobil polisi. Seingatku, nama bapakmu Sugih kan?” laki-laki itu masih duduk penasaran.
“Aku belum bertemu Bapak sejak jumat lalu.” jawab Raya cuek.
“Hm. Apa tukang becak bisa jadi polisi, Ya?” tanya laki-laki bernama Satrio itu lagi.
“Mungkin Bapakku cuma mau membantu Pak Polisi. Bapak tidak pernah cerita cita-citanya jadi polisi.” jawab Raya lalu ikut duduk. Syukurlah dagangannya sudah habis terjual.
Tak lama Satrio kembali ke tempat duduknya, meninggalkan Raya yang mulai memikirkan pertanyaannya.
“ Jadi Bapak sedang membantu Pak Polisi? Tapi kenapa sudah seminggu ini tidak pulang? Apakah Bapak di minta untuk tinggal di rumah Pak Polisi? Harus kutanyakan pada Ibu.” Batin Raya.
Jam pulang sekolah datang lebih cepat. Raya bersiap untuk pulang. Di sepanjang jalan, dia masih memikirkan pertanyaan Satrio. Biasanya kalau Bapak mendapat pekerjaan, sebelum berangkat akan berpamitan padanya. Dan tidak lupa mencium keningnya. Apakah urusannya sebegitu mendesak?
Lagi-lagi gadis itu pulang dengan berlari. Meninggalkan Sari yang masih mampir melihat dagangan penjual mainan. Dia tidak mempedulikan bunyi tasnya yang berisik.
Setelah sampai di depan rumah, terlihat pintu rumahnya tertutup. Ternyata Ibu tidak di rumah. Mungkin masih bekerja. Tapi entah saat ini di rumah siapa.
Raya mencari di rumah Bu Nuri. Namun ternyata nihil. Dia berjalan kembali ke rumah pelanggan Ibu yang lain, meski sebatas yang dia ketahui saja. Hasilnya masih nol. Gadis itu tidak menemukan Ibunya.
Dengan gontai dia kembali ke rumah. Setelah mencoba membuka pintu rumahnya, dia terkaget. Ternyata ada Mulia yang sedang tertidur. Tidak biasanya sang adik mau di tinggal sendirian tanpa Ibu. Ingin rasanya membangunkan adik dan menanyakan keberadaan ibu. Namun Raya memilih untuk mencium pipi adiknya. Nampaknya sebelum tidur dia menangis. Terlihat dari matanya yang sembab.
“Nak, ayo bangun. Ini sudah sore.” perintah Ibu sembari menggoyangkan tubuh kecil Raya yang masih memakai seragam sekolah.
“Hmm.. Ibu?” ia mencoba membuka matanya yang berat.
“Raya kok belum ganti baju sih? Kan seragamnya jadi lecek kamu pakai tidur.” tanpa pikir panjang Ibu menanggalkan seragam Raya. Lalu meletakkan baju lain di sampingnya.
“Hm.. Ibu.. Raya mau tanya…” tubuh Raya tiba-tiba terduduk, teringat percakapannya dengan Satrio saat jam istirahat.
Ibu tidak menjawab, hanya berdehem saja. Terselip keraguan.
Apakah suasana hati Ibu sedang tidak baik? Aku takut Ibu marah.
“Raya mandi aja deh. Hehe” elak Raya segera berlari membawa baju di sampingnya.
Setelah Satrio mengabarkan pekerjaan Bapak yang baru. Hari demi hari, suasana rumah semakin tidak nyaman. Namun entah kenapa tatapan tetangga mulai menusuk. Beberapa rumor tentang Bapak juga beredar di sekitar tempat tinggal Raya.
“Bapakmu itu bukan kerja dengan polisi, tapi dia di tangkap.”
“Bapakmu itu di tangkap polisi karena ketauan judi.”
“Bapakmu itu di tangkap karena nyolong rumah polisi.”
Kuping Raya rasanya panas saat mendengarkan gosip yang mencuat. Ibu pun mem bisu saat melewati depan rumah para tetangga. Ada beberapa yang masih tetap baik dan menyapa dengan tulus. Salah satunya adalah Bu Nuri, sosoknya tetap baik pada keluarga Ibu Sugih seakan tidak peduli dengan isu yang beredar.
Dampak dari rumor mengenai Bapak, beberapa pelanggan tidak lagi menggunakan jasa cuci atau pun setrika Ibu. Mengakibatkan semakin seringnya Ibu berpergian sendiri, meninggalkan Raya dan Mulia di rumah. Biasanya Ibu akan berpamitan, katanya mencari pekerjaan di desa lain. Upayanya dalam menyambung hidup.
“Kenapa sih orang-orang pada bilang Bapakku orang jahat?” raut wajah Raya kecewa. Perasaannya campur aduk.
“Kan mereka tidak kenal Bapak Raya. Mereka hanya berprasangka buruk sama Bapak. Jangan di dengerin. Ingat.. Raya harus tetap baik sama orang-orang itu.” jawaban Bu Nuri membuat Raya mengangguk sok paham.
“Justru mereka yang jahat, karena berprasangka buruk. Bapakku kan orang baik.” gerutu Raya.
“Kalau ada apa-apa, kalian kesini saja. Temani Bu Nuri. Kapan-kapan kita pergi ke tempat Kak Putri ya.”
Ucapan Bu Nuri di sambut dengan gembira. Kedua anak itu melompat kegirangan, seakan Kak Putri adalah idola mereka. Sayangnya yang mereka nanti adalah berkendara dengan motor. Bertemu dengan Kak Putri adalah bonus.
“Oh ya, Raya pamit dulu ya Bu. Mau beli bahan-bahan jelly. Hari ini mau buat dua rasa, stroberi dan cokelat.”
Berpegang dengan ingatnya, Raya mengambil beberapa jenis daun di sepanjang jalan yang ia lalui, dan memasukkan ke dalam kantong plastik yang ia bawa. Meski tidak tau nama tanaman yang ia petik, tapi dia yakin sering memakannya.
Terbesit perasaan sedih yang tidak bisa Raya definisikan. Hidupnya terasa aneh, Raya merindukan kehidupan lamanya yang tenang. Dan dia tidak siap menghadapinya sendirian. Di genggamnya tangan mungil adiknya, langkahnya jauh lebih pendek dari miliknya.
Kalau Bapak pergi dan bila suatu saat Ibu juga pergi. Aku hanya punya adik. Kita harus saling menjaga.
Raya berbicara dalam hati. Meyakinkan dirinya sendiri.
Bagian Ibu Sayang Adik dan Kakak
Kaki Ibu gemetar, sehingga langkahnya tidak stabil. Hari ini Ibu sudah berjalan cukup jauh. Untuk menghemat pengeluaran, dia harus memaksa kaki kurusnya bergerak.
Tepat di depan pasar, terdengar suara berisik dari kedua anak perempuan yang perawakannya sangat dia hafal. Raya dan Mulia. Ibu mendatanginya dengan senyum tipis dan singkat, terkesan ketus. Rasa lelahnya sudah menguasai tubuhnya.
“Ibuuuu..” Mulia segera memeluk Ibu. Tangannya melebar, meminta di gendong.
“Ibu capek, Nak. Kamu jalan saja ya.” Ibu menolak halus. Bahkan untuk mengeluarkan suara saja perlu kerja keras.
Mimik wajah sang bungsu seakan sedih. Cepat-cepat Raya menangkap tangan adiknya. Mencari cara agar tangisnya tidak pecah. Dia mengingatkan jika nanti ada jelly dengan rasa kesukaan mereka.
Seketika Mulia kembali bersemangat, dan berlari meninggalkan Ibu yang masih terpaku. Tidak menyangka dengan pembawaan si sulung yang tenang. Ibu menitikan air mata. Ada rasa penyesalan hinggap di lubuknya.
“Kenapa kalian harus merasakan penderitaan ini? Maafkan Ibu dan Bapak belum bisa membahagiakan kalian. Maafkan kami sudah gagal menjadi orangtua yang baik.”
Setiba di rumah. Ibu kembali ke rutinitasnya. Menimba air lalu menyiapkan makan malam. Sedangkan Raya mulai memasak sendiri bahan-bahan yang sudah dia beli.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari kamar sebelah. Sedetik kemudian muncul sosok yang di benci oleh Raya. Itu Pak Koro! Dan saat ini matanya sedang menatap Raya.
Raya yang kaget hampir menumpahkan adonan jelly yang ia buat. Tumpahannya mengenai tangan Raya. Segera dia matikan kompor dan masuk dalam rumah.
Padahal tidak ada becak merah yang terparkir di depan, kenapa orangnya muncul?
Mau tidak mau, Ibu melanjutkan pekerjaan Raya yang tidak selesai. Meski tulangnya sudah lunglai untuk berdiri. Emosinya sudah di ubun-ubun saat mengetahui penyebab Raya kalang kabut.
Ibu pun tak mau berlama-lama di bagian depan kamarnya. Rasanya seperti sedang di kuliti tatapan Pak Koro. Dia harus berhati-hati dengan tetangga anehnya pada saat suaminya tidak ada.
Hari itu berakhir dipenuhi rasa takut. Berharap Bapak segera pulang.
“Sore nanti, siapa yang mau Ibu traktir mi ayam?” siang itu Ibu pulang dengan sikap ceria.
Raya yang awalnya dalam posisi tidur, seketika duduk mendengar ajakan untuk menyantap makanan favoritnya.
“Ibu pasti dapat bonus banyak ya hari ini?” tanya si sulung.
Jawaban Ibu hanya sebuah anggukan. Senyumnya mulai pudar. Ada raut aneh yang belum pernah Raya lihat sebelumnya. Mulia masih tertidur. Tapi dia pasti akan senang mendengar tawaran Ibu. Lalu perempuan itu meninggalkan kedua anaknya dan mencari kegiatan yang bisa dilakukan di luar.
Setelah mandi sore, ketiganya berjalan beriringan menuju tempat penjual mi ayam. Di depannya ada sebuah toserba (toko serba ada). Ibu berhenti sejenak.
“Kalian mau beli sesuatu?” tawar Ibu dengan menunjuk ke arah toko.
“Beneran Bu? Raya boleh beli boneka?” tanya Raya tidak percaya.
Ibu mengangguk yakin. Raya tidak menyangka ada hari seperti ini. Dia belum pernah mendapatkan mainan atau boneka baru. Semua mainannya adalah pemberian atau yang di temukan Bapak saat di jalan. Mulia pun bersemangat masuk ke dalam toserba.
Raya memilih boneka beruang berwarna merah muda. Dan adiknya memilih boneka kucing. Ibu membayar dengan uang pas. Sang kakak sengaja memilih boneka dengan harga yang paling murah, dan menuntun adik untuk memilih dengan nilai yang serupa.
“Yuk kita lanjut makan mi ayam.” ajak Ibu.
Hari ini banyak kejutan dari Ibu, rasanya seperti mimpi. Raya mencoba mengingat kembali. Apakah hari ini spesial? Ibu berulangtahun? Atau.. Mulia yang berulangtahun? Yang pasti ini bukan ulangtahunnya.
Sebenarnya ini bukan kali pertama keluarga Ibu Sugih datang kesana. Biasanya Bapak dan Ibu akan merayakan ulangtahun si sulung di kedai mi ayam itu.
Tanpa pikir panjang Ibu memesan dua porsi dan satu gelas es teh. Katanya, Ibu sudah kenyang dan mau minum saja.
“Jangan lupa berdoa sebelum makan.” kata Ibu.
Mi ayam itu terasa nikmat sekali. Bahkan Mulia juga memakannya sampai habis. Ibu hanya memperhatikan kedua anaknya. Sesekali menyeruput es teh di hadapannya.
“Ibu… terima kasih hari ini. Raya senang sekali.” Raya memeluk Ibu, sebelum mereka meninggalkan kedai mi ayam.
“Maafkan Ibu belum bisa bahagiakan kalian selama ini. Maafkan Ibu ya, Nak..” tiba-tiba suasana menjadi haru. Ibu menangis memeluk kedua anaknya erat.
Raya memeluk Ibu dan adiknya seluas rentangan tangannya. Berharap hidupnya sebahagia ini setiap hari. Berharap Bapaknya segera pulang dan bisa bermain lagi dengannya.
Di perjalanan pulang, Ibu tampak melamun. Teringat pembicaraannya dengan Bu Yani beberapa minggu yang lalu. Bu Yani mengabarkan jika suaminya yang berprofesi sebagai polisi, baru saja membantu penangkapan Bapak Sugih.
Ya, semua rumor itu benar. Suaminya telah di tangkap oleh polisi.
Frustasi yang Ibu rasakan setelah kepergian Bapak semakin menggila. Perempuan itu harus berjuang mencari tambahan uang untuk melanjutkan hidup. Dan lagi.. kedua anaknya masih sering menanyakan keberadaan Bapak.
Di tambah dengan rumor yang beredar, seakan bebannya menjadi semakin menghimpit nafasnya. Dia teringat hari terakhir bertemu dengan suaminya. Bapak mencium kedua pipinya saat berpamitan, hal yang jarang dilakukan. Seakan meminta doa agar di lancarkan.
“Bagaimana bisa aku hidup tanpamu?” ujar Ibu, dalam relungnya.
Ibu tidak pernah menyangka Bapak akan senekat itu dalam mencari uang. Bapak menerima tawaran seseorang untuk menjadi kurir narkoba. Dan sialnya, Bapak tertangkap pada percobaan pengantaran pertamanya. Sedangkan atasan dan juga pembelinya sudah berhasil kabur.
Dalam foto, bapak terlihat babak belur. Foto itu di ambil oleh suami Bu Yani sesudah mengintrogasi Bapak. Mengingat lagi fakta itu, tak terasa air mata ibu kembali menetes. Betapa sulit hidupnya. Terlebih saat tidak ada Bapak di sampingnya.
Meski jauh dari kata cukup, Ibu selalu mensyukuri setiap harinya saat mendampingi Bapak. Ditambah lagi kehadiran kedua anaknya yang menggemaskan. Dalam kekurangan, hidup Ibu sudah merasa cukup.
Namun sekarang Ibu harus berjuang sendirian untuk membesarkan kedua anaknya selama Bapak di tahan. Entah sampai kapan Ibu harus berjuang sendirian. Dan hanya waktu yang bisa menjawab kapan mereka bisa bersatu kembali. Jujur saja, Ibu sudah tidak sanggup menjalani hidupnya.
Tiba-tiba Mulia ambruk. Badannya kejang. Ibu dengan spontan menggendong anaknya dan berlari. Raya ikut berlari mengikuti di belakang. Langkahnya terasa berat, tidak seperti biasanya.
Belum sampai di rumah. Raya ambruk. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dadanya sakit dan terasa panas, seakan terbakar api yang tidak terlihat.
“Bu.. tolong Rayaa…” ucapnya terbata-bata. Badannya seperti di tindih batu besar. Sakit.
Melihat Raya yang terjatuh, para tetangga pun mengangkat tubuh kecilnya. Bu Nuri menjadi salah satu yang mengikuti sampai di depan rumah Raya. Terlihat Pak Koro hanya menyaksikan kejadian tersebut.
“Astagfirullah, ini kenapa Bu?” pekik Bu Nuri saat melihat kondisi dua gadis cilik yang ia kenal, menggeliat kesakitan.
Ibu tampak menangis. Hanya menangis. Dan berulang kali mengucapkan kata maaf. Raya mencoba meraih kaki Ibu. Matanya terbelalak kaget saat melihat kondisi Mulia. Mulutnya mengeluarkan busa putih, seperti sedang di penuhi busa pasta gigi. Ada apa dengan Mulia ?
“Bu.. Mulia .. kee..na..pa ?” dengan terbata-bata Raya masih berusaha berbicara.
Ibu semakin histeris. Menutup wajah dengan kedua tangannya, seakan tidak ingin melihat pemandangan di depannya.
“Maafkan Ibu.. Maafkan Ibu..”
Permintaan maaf Ibu menjadi hal terakhir yang di dengar oleh Raya. Lalu semua gelap. Apakah ini yang dinamakan pingsan? Badannya masih terasa sakit.
Bu Nuri yang tadi panik, kini mendatangi Ibu dan memeluknya. Tidak ada pertanyaan. Tapi tangannya mengusap punggung Ibu Sugih pelan. Mencoba menenangkan dan membujuk perempuan itu untuk berbicara.
“Aku bukan Ibu yang baik.. Aku gagal menjadi Ibu.. Aku tidak sanggup melihat mereka susah.. Mereka harus pulang, biar aku yang menderita. ” gumam Ibu di tengah isaknya.
Tak berselang lama ambulan datang. Tim medis mulai masuk dan memeriksa kondisi Mulia dan Raya yang sudah terbujur kaku. Terlihat satu orang berseragam polisi. Tubuh Mulia yang pertama di gendong menuju ke dalam ambulan.
Tiba-tiba Raya terbangun, entah kenapa badannya terasa sangat ringan. Dia melihat kerumunan itu dengan tatapan heran.
Ada apa ini? Kenapa mereka membawa Mulia ke ambulan? Kenapa ada polisi yang datang ke rumah? Apakah Bapak sudah di antarkan pulang?
Ibu juga nampak berjalan keluar dari rumah, tepat di belakang Pak Polisi. Raya mencoba memanggil Ibu. Dia ingin menanyakan banyak hal. Tapi semua mengabaikan Raya yang berdiri kebingungan. Tidak ada satu pun yang meresponnya.
Kenapa Ibu tidak mendengarkanku? Apakah ibu juga akan bekerja di kantor Pak Polisi dan meninggalkanku?
Tiba-tiba Raya melihat seseorang menggendong tubuhnya. Laki-laki itu berjalan melewatinya, seperti menembus. Terbelalak dia melihat tubuhnya sendiri tidak berdaya, mulutnya juga mengeluarkan busa putih, mirip yang terjadi Mulia. Raya kembali melebarkan matanya tidak percaya. Laki-laki itu Pak Koro!
Tapi tunggu… kenapa tubuhku juga di bawa ke dalam ambulan? Lalu aku ini siapa?