36 tahun hidup di negeri ini, saya selalu santai menyikapi perbedaan SARA. Saya terbiasa dianggap beda di lingkungan pertemanan saya karena, anehnya, biasanya orang-orang “cinak” awalnya mikir saya pribumi sedangkan orang-orang pribumi dengan gampang mengenali saya sebagai cinak. Saya nggak pernah tersinggung diteriakin cinak di jalan. Saya juga nggak risih berada di tengah-tengah acara ijab qobul, upacara di pura, ataupun di tengah-tengah sembahyangan di vihara. At the same time, saya juga nggak malu kalau dulu teman-teman saya (atau orang di mikrolet) kebetulan dengar kalau saya adalah worship leader di gereja. Buat saya, semua ritual dan status agama dan/atau adat ini adalah keseharian manusia aja.
Makanya sejak awalpun saya nggak pernah merasa “wah” ketika seorang “cinak” jadi gubernur. Saya dukung dia dan merasa dia pantas jadi gubernur bukan karena dia – sama seperti saya – adalah cinak.
Saya dulu pernah nge-tweet: “Kalau lu dukung Ahok cuma karena dia cinak, lu sama aja dengan mereka yang benci dia karena dia cinak.“
Buat saya, Ahok pantas jadi gubernur karena dia memang pantas (kompeten dan mampu) jadi seorang gubernur.
36 tahun hidup di negeri ini dan ikut nyoblos di beberapa pilpres, pilleg, dan pilkada, saya nggak pernah merasa pusing dengan pilihan saya maupun pilihan orang lain. Saya nggak punya setitikpun pikiran menghakimi orang lain yang pilihannya beda dengan saya. Dan saya juga nggak pernah merasa dihakimi atas pilihan saya. Saya dengan gamblang bisa ngajak ngobrol supir taksi atau supir becak tentang event pemilu dan pilihan kami masing-masing, tanpa beban.
Ada yang beda di pilkada tahun ini. Di TPS pagi ini, saya merasa risih. Saya merasa sedang dihakimi oleh beberapa bapak-bapak berkopiah yang duduk di sana, karena saya tahu mereka tahu saya "cinak” dan karenanya saya pasti pilih Ahok. Saya merasa dihakimi oleh supir kakak saya yang rajin shalat dan (kabarnya) pendukung si anu. Saya merasa dihakimi oleh ibu-ibu berhijab yang antri lift sebelah saya yang barusan nyeletuk ramah, “Kayaknya 2 putaran nih ya, Mbak…” Saya cuma tersenyum dan mengiyakan.
Saya merasa canggung dengan label “cinak” yang nggak pernah saya pakai selama 35 tahun. Bukan itu yang bikin saya sedih. Yang bikin saya sedih adalah, tanpa saya sadari, saya jadi orang yang melabel orang lain: ibu-ibu berhijab, bapak-bapak berkopiah, dan si supir rajin shalat. I used to not see all this. I used to see each of these people as another human being I met in my everyday life.
Saya pingin masa-masa pilkada ini segera berakhir supaya kita semua bisa kembali menjadi manusia dan bukan pemilih paslon nomer sekian.