Beware that this post is longer than usual. Donāt close the page yet, but please read it patiently ^^~ arigatou
Ok, hari ini saatnya menjelajah Tokyo sehari penuh! Senjata sudah kami siapkan yaitu 1 buah kartu subway dan metro pass yang kami beli di kantor Keikyu di bandara. Kartu ini ada 3 jenis, pass untuk 1 hari, 2 hari dan 3 hari. Karena menurut program yang sudah saya buat hanya akan stay 2 hari di Tokyo, jadi kami belilah yang 2 hari saja. Dan memang kalau dihitung-hitung akan sangat berhemat jika dibanding beli ketengan yang juga akan makan waktu. Maklum, waktu 2 hari yang juga sebetulnya tidak fulll 48 jam, kami harus benar-benar memanfaatkan waktu yang ada walopun dengan naik turun subway yang tahu sendiri kan gimana.
Saya juga sangat-sangat dibantu oleh teman saya Yuka, yang dengan baik hatinya menemani seharian penuh, ngambil cuti kerja segala. Mungkin kalau tidak dengan Yuka, saya tidak akan bisa mengunjungi semua tempat yang bisa saya kunjungi dihari ini
Baiklah without further due, letās start!
Setelah naik kereta Keikyu dan berganti kereta di sebuah stasiun, yang saya lupa namanya, kami akhirnya sampai juga di stasiun Shinjuku. Seperti yang sudah saya baca, stasiun ini benar-benar super besar. Saya sampai keder juga ngeliatin banyaknya orang yang hilir mudik. Ini juga disebabkan karena Shinjuku merupakan stasiun penghubung untuk semua line metro dan subway di Tokyo. Kebayang kan gimana besarnya?
Tujuan pertama hari ini adalah ke pasar Tsukiji, tapi sebelumnya saya minta ditemani ke Kantor Odakyu untuk menanyakan tiket bus ke Kawaguchiko untuk keesokan harinya. Sebetulnya saya sudah booking online jauh-jauh hari tapi ternyata karena kondisi sedang ramai jadi saya dapat tiket jam 6.45 pagi. Khawatir ngga keburu, saya berencana mau beli langsung dengan jam yang agak siang dan cancel bookingan saya via online tersebut. Tapi setelah mengantri hampir 30 menit, ternyata kalau untuk tiket bus saya disuruh langsung ke loket tempat pemberangkatan langsung yang letaknya ada di gedung sebelah. Duhā¦such a waste time. But yaudahlah yaā¦toh saya sudah harus membiasakan antri di negara disiplin ini. Singkat cerita sampailah di loket yang dimaksud dan ternyata jadwal yang saya mau yaitu jam 8 pagi sudah habis semua. Tinggal jam 11 pagi saja. Walah pikir saya, mendingan pakai tiket sebelumnya saja. Sambil bismillah kalau semuanya akan tepat waktu sampai di tempat pemberangkatan.
Persis di depan pintu keluar Tsukiji Shijo
T-shir yang saya masih nyesel kenapa ngga beli :(
Setelah urusan beres kami langsung ke Tsukiji, sampai di stasiun Tsukiji shijo, keadaan sudah ramai wisatawan. Kami menyusuri jalan dan hanya ke pasar diluarannya saja karena juga sudah siang. Pasarnya ya seperti pasar tradisional di Indonesia dengan bermacam-macam dagangan yang diperjualbelikan. Sebetulnya pasar Tsukiji ini adalah pasar ikan terbesar di Jepang bahkan mungkin di dunia, tiap paginya ada lelang ikan Tuna yang juga dapat dikunjungi oleh wisatawan dengan syarat dan kondisi yang sudah ditetapkan oleh pihak pengelola. Saya sebetulnya tertarik sekali tapi dikarenakan waktu yang tidak memungkinkan akhirnya saya relakan tidak bisa mengunjungi lelang Tuna tersebut. Selain itu juga di pasar ini banyak orang antri untuk makan sushi segar yang terkenal enak dan mahal. Saya sih untungnya ngga doyan sushi jadinya ya ngga ikutan ngantri. Hahaha
Lalu, tujuan ke 2 adalah menyusuri Ginza, daerah penting dan terkenal dengan pusat perbelanjaan dan perkantoran mewah di Tokyo. Kami jalan lumayan jauh sampai kaos basah oleh keringat. Melewati jembatan penyebrangan dan sampailah di Ginza. Melewati beberapa toko baju dan Yuka sempat menawarkan apakah mau mampir, saya menolak karena alasan waktu dan takut ngga cukup buat mengunjungi tempat lain yang listnya masih panjang. Di Ginza ini saya sebetulnya penasaran dengan Wako dan gedung Sony. Tapi kemarin saya hanya melihat Wako saja sebelum nyebrang ke stasiun subway tujuan ke Asakusa.
Jalan tampak dari atas jembatan
gedung-gedung perkantoran
Wako dan ternyata jamnya merk Seiko :D
Setelah berpeluh kami lanjut ke stasiun subway menuju Kuil Asakusa. Dan kami keluar stasiun subway disambut dengan ramainya orang di depan gerbang. Ya ampunn sampai foto aja susah nyari angel yang bener. Hahaha Memang Kaminarimon ini adalah pintu gerbang kuil yang memiliki lampion super besar ditengah-tengahnya dan menjadikan spot wajib foto. Menuju ruang utama, kami masih harus melewati sebuah jalan yang di kanan ā kirinya menjual segala macam barang, yaitu souvenir dan makanan ringan. Ya, namanya Nakamise. Setelah dimanjakan dengan pemandangan yang lucu-lucu disetiap tokonya, kami akhirnya sampai di kuil utama yang sudah banyak orang melakukan doa. Oh iya di kuil Asakusa ini saya juga banyak melihat orang mengenakan Kimono/Yukata. Kami juga sempat berfoto dengan 2 gadis yang awalnya saya pikir orang Jepang. Ketauan aslinya setelah foto pas mereka ngobrol. Lah kok orang Korea -_-
Puas foto-foto kami lanjut mencari IPIN Asakusa, yaitu ramen halal yang banyak direkomendasikan oleh para traveler. Saya pikir letaknya tidak jauh dari kuil Asakusa tapi ternyata kami masih harus jalan lumayan jauh. Melewati gang yang sepi dan beberapa resto yang berderet di kanan kiri jalan. Sampai akhirnya kami menyebrang jalanan besar dan..akhirnya ketemu juga. Alhamdulillah!
Salah satu resto yang kami lewati
Restorannya lumayan sempit karena hanya berupa sederet kursi yang menghadap meja dengan sebrangnya adalah dapur. Sepertinya mereka baru saja buka karena masih menyiapkan ini dan itu.Hanya ada satu orang mas-mas yang dari mukanya ngga gitu Jepang banget seperti blasteran dengan Melayu. Hehehe Kami memesan 1 mangkuk ramen ayam. Danā¦pesanan kami datang dengan mangkuk jumbo. Ya ampun ini porsi regular loh yang saya pesan. Agak kaget juga sih dan ngebatin gimana cara ngabisinnya. Bismillah saya makan dengan lahap maklum habis jalan jauh kan, hahaha Untuk pelengkapnya mereka menyediakan bubuk cabe dan wijen, menambah rasanya jadi lebih kuat lagi. Menurut saya ramennya enak walaupun dengan kuah kaldu yang seperti santan tapi ngga membuat enek. Alhamdulillah saya bisa menghabiskan satu mangkuk besar itu! Hebat loh padahal temen saya aja ngga kuat tapi saya dan Yuka bisa mengahbiskannya padahal badan kami berdua lebih kecil dari temen saya itu. Hihihi
Selesai makan, saya nanya ke mas-masnya kalo disana kami bisa sholat ngga, dan dijawab, bisa dilantai atas. Saya berdua teman naik keatas dan diatas sebetulnya juga bisa digunakan untuk makan juga dengan meja dan kursi yang menurut saya letaknya mepet-mepet sekali dan jadinya berasa sesak. Space untuk sholat itu letaknya di dekat pintu masuk dan memang biasa digunakan untuk sholat para pengunjung. Setelah sholat saya kembali ke bawah dan makan sudah dibayar oleh Yuka -_- ihhh saya ngga enak banget pake dibayarin segala, tapi ya sudahlah ya udah kadung dan saya berencana āmembalasnyaā pas dinner nanti. Hahaha Harga per porsi ramen dengan telur sebagai pelengkap adalah JPY 750
Tujuan kami selanjutnya adalah ke Meiji shrine. Kami naik subaway lalu turun di stasiun terdekat yang lagi-lagi saya lupa namanya. Beginilah kalau jalan-jalan diantar teman jadi ngga begitu pay attention sama hal-hal kecil yang sebetulnya penting. Kami jalan menyusuri Takeshita dori yang begitu ramai yang menjual aneka macam barang. Kami sempat masuk ke sebuah toko baju karena Yuka sepertinya sudah kepanasan daritadi dan berencana membeli topi, tapi apa yang dicari ngga ketemu dan akhirnya keluar toko lagi tanpa membeli apapun. Sempat melewati sebuah toko es krim yang lagi nge hitz kata si Yuka, terlihat antrian yang begitu mengular. Ah aromanya juga wangi banget jadi pingin beli tapi karna inget mau ke Meiji jingu jadinya saya cepat-cepat jalan. Sampai akhirnya kami melewati toko yang menjual coklat murah dan saya akhirnya membeli secukupnya untuk teman kantor saja. Ngga jamin halal ya dan saya juga mengoleh-olehi teman yang non-muslim.
Setelah menyebrang jalan kami menyusuri jalan setapak yang dibawahnya merupakan rel untuk kereta JR. dan sebagai pembatasnya kami disuguhi berbagai gambar manga yang mungkin sedang hits disana. Saya ngga tau judulnya apa saja karena bukan pencinta komik Jepang. Tidak lama kami belok kanan dan gerbang Torii menyambut. Gerbang yang sangat-sangat besar dan tinggi. Disebelah kanannya juga terdapat jejeran tong yang terbuat dari keramik dan berisi sake yang menjadi semacam penghargaan kepada para donatur dalam bentuk tong-tong tersebut. Jumlahnya lumayan banyak dan berjejer rapih. Ā Untuk sampai ke tempat utama, kami masih harus berjalan lagi dengan pemandangan yang begitu asri dan adem. Kanan kirinya pepohonan hijau semua soalnya. Sayang saat sampai di tempat utama, ada beberapa bangunan yang sedang direnovasi dan kami dilarang mendekatinya. Seperti pada kebanyakan kuil dan klenteng, di diruang utama ibadah kami dilarang mengambil foto, bahkan di Meiji Jingu ini ada bapak keamanannya yang menjaga kalau-kalau ada yang mau mengambil foto. Takutt
Keberuntungan saya hari ini di tempat ini adalah bisa menyaksikan sebuah keluarga yang mengadakan acara pernikahannya disini. Dimulai dari jalan bak para model dan menuju ke area dibelakang tempat menjual souvenir yang digunakan untuk pengambilan foto keluarga. Dengar-dengar dari Yuka, kalau keluarga yang mengadakan upacara pernikahan di kuil ini bukan sembarang keluarga dan mereka pasti kaya karena biaya yang dikeluarkan besar sekali jika ingin mengadakan upcara pernikahan di kuil ini. I wonder how much money they spent thereā¦.hihihi
Salah satu sudut Meiji Jingu
Ok, akhirnya setelah kelar cekrak cekrek kami kembali ke depan tapi ngambil jalur yang beda. Dan diujung jalan sebelum pintu keluar kami nemu tempat makan snack dan es krim. Dan akhirnya inilah kali pertama saya nyobain es krim green tea di negaranya langsung. Dan memang enak banget!! Iya sih agak pricey karna satu cone dijual JPY 500 dan lagi-lagi Yuka nyolong start dan maksa banget bayarin esk krim kami -__- Es krimnya pekat dengan rasa green tea yang agak pahit. endeslah pokoknya
My first Green Tea Ice creamĀ
Lanjut ke tujuan selanjutnya yaitu Shibuya! Yes, selain patung Hachiko, saya juga penasaran sama Shibuya crossing. Dan sebelum itu Yuka sepertinya kepikiran sama tiket bus saya ke Kawaguchiko besok dan akhirnya membawa kami ke kantor sekaligus tempat pemberangkatan bus ke Kawaguchiko di Mark City yang ada di Shibuya. Kami sempat berhenti lama menunggu Yuka menelepon seseorang disebrang sana. Saya merasa ngga enak entah itu telp kerjaan ato dia nanya temannya tentang tempat pemberangkatan kami itu. Setelah cukup lama kami akhirnya naik ke lantai 5 tapi tetap tidak menemukannya dan sempat kembali lagi yang akhirnya ternyata tempat pemberangkatan tersebut hanya memiliki pintu masuk yang sangat kecil dengan tanda yang kurang jelas. Anehnya Yuka beberapa kali meminta maaf kepada kami karena dia ngga ngeh kalau pintu masuknya ada disitu -__- ya ampun bukan salahnya dia juga kaliii
Setelah sampai kantor yang satu kotak berukuran 3Ć2 itu Yuka tanya apakah ada bookingan bus ke Kawaguchiko besok atas nama kami. Tapi tetap tidak ditemukan juga sampai akhirnya saya buka flash disk saya dan ternyata saya yang lupa atas nama siapa tiket tersebut dibooking. Hahaha Yuka udah worry banget mukanya dan mba-mba petugasnya udah gemeteran entah karna AC yang dingin apa karna ikutan nervous juga. Alhamdulillah tiket diissued kami bayar dan tinggal besok saja kami harus benar-benar bangun pagi!
Setelah selesai urusan tiket bus,Ā kami lanjutkan ke patung Hachiko yang ternyata memang sangat ramai orang kumpul-kumpul. Dan setelah foto formalitas kami akhirnya mencoba menyebrang di Shibuya crossing ala-ala orang lokal, hahaha uniknya, walaupun terlihat semrawut tapi kami tidak menabrak siapapun yang menyebrang dengan arah yang berlawanan. Dengan noraknya juga kami ambil foto sampai diliatin cowok yang nyebrang di depan kami. bodo amat hahaha
Ok hari sudah mulai gelap dan rencana awal kami mau balik ke penginapan atau makan malam, tapi Tokyo tower seperti manggil-manggil saya. Sedih dan akhirnya saya bilang ke Yuka mau kesana bisa ngga? Akhirnya dengan diyakinkan sama Yuka kami menuju ke Tokyo tower. Sebagai turis firstimer di Jepang, tentunya land mark kota tersebut ngga bisa dilewatkan begitu saja, kan? Dan setelah turun di stasiun Shibakoen kami berjalan ke arah taman. Awalnya saya pikir mana Tokyo towernya? ehhh ternyata dia berdiri cantik sebagai background taman kecil tersebut. Wahhhhh saya senang sekali bisa melihatnya secara jelas dengan warna khas merahnya ituā¦ternyata banyak sisi untuk menikmati Tokyo tower :)
Ok, hari beranjak malam dan Yuka masih semangat aja ngajakin dinner, wakakaka okelah cari resto halal yang ngga perlu menu Jepang. Dan nemulah resto Pakistan di dekat stasiun Shinjuku. Berarti ngga jauh dari hostel kami. Sipā¦capcus ke perhentian terakhir hari ini.
Turun di Shinjuku, kami mencari-cari resto yang dimaksud. Tolong diinget ya, di Jepang semuanya harus jalan kaki. Ngga ada tempat yang bener-bener menclok disebelah stasiun kecuali convenience store yang emang dimana-mana. Tidak jauh dari resto tersebut saya mendengar beberapa cewek ngomong bahasa Indonesia. Mereka juga sepertinya bingung mau makan dimana. Antara mau makan Ramen atau resto yang sama dengan kami. Dan restoran yang kami tuju ada di lantai 2 dan untungnya masih ada kursi yang kosong. Ā Saya tidak familiar dengan menu dari daratan India dan sekitarnya, yang saya tahu hanya roti Prata dan Kare saja. Maka itu Yukalah yang lagi-lagi kami berondong pertanyaan ini apa itu apa, dan ternyata saya baru tahu kalau dia sangat menyukai masakan India.
āBalas dendamā saya tidak berjalan mulus karena rasa mules dan akhirnya saya harus ke toilet, duh seem like I love Tokyo more than I realize :)) Dan dodolnya saat itulah lagi-lagi Yuka yang bayar makanan kami -_- it was about JPY 5,000 saya asli ngga enak tapi dia selalu bilang āwelcome to Japanā. Mungkin maksudnya sebagai tanda selamat datang di Jepang. Yoweslah mba, matur suwun sanget yoā¦semoga dibales rejeki yang lebih banyak lagi sama Gusti Allah.
Kami akhirnya benar-benar harus ke hostel karena sudah hampir jam 11 malam dan besok kami pagi-pagi harus ke Shibuya lagi. Jalan sekitar 10 menit dan kami akhirnya sampai di hostel. ahhhh akhirnya perpisahan tidak terelakkan lagi, Yuka mengantar sampai ke kamar kami dan entahlah saya tidak bisa membendung air mata,
I hugged her for a moment and she said please donāt cry. How can I, eonnechan?
Begitulah seharian di Tokyo yang menghabiskan waktu 15 jam, mengunjungi 10 tempat dan hanya mengeluarkan biaya JPY 1,500. Thanks a bunch for my lovely eonnechan and I do hope I can repay you back one day. oh iya Yuka info kalo seharian itu total kami berjalan 17 km! Wow sekali kan, padahal saat di Indonesia belum tentu saya bisa olahraga seminggu sekali Hahaha
Ā Ā Ā Ā 1 kota, 15 jam, 10 tempat & JPYĀ 1,500 Beware that this post is longer than usual. Don't close the page yet, but please read it patiently ^^~ arigatouā¦