Peran Wanita dalam Mendidik Anak.
Jika berbicara tentang mendidik anak, maka itu bukanlah kewajiban ibu seorang. Bahkan bapak memiliki tanggungjawab tidak kalah besarnya dalam mendidik anak.
Lihatlah di dalam Surat Luqman, Allah menceritakan bagaimana Luqman sebagai seorang bapak menasihati anaknya. Juga di dalam surat Al-Baqarah, tentang Nabi Ibrahim berdoa untuk anak cucunya agar mereka menjadi ummat yang tunduk dan patuh kepada Allah.
Hal ini menunjukkan bahwa mendidik dan mendoakan anak adalah kewajiban kedua orangtua, bapak dan ibu sang anak.
Namun seharusnya wanita memiliki peran yang lebih besar dalam mengasuh anak. Karena wanitalah yang melahirkannya, kemudian menyusuinya selama dua tahun, sebagaimana firman Allah (yang artinya),
”Dan hendaklah para ibu menyusui anaknya dua tahun penuh bagi yang ingin menyusui secara sempurna. dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang ma’ruf”. (QS. Al-Baqarah: 233)
Maka hendaklah para wanita menyadari pentingnya keberadaan mereka di rumah. Yaitu sebagai istri dan sebagai ibu. Karena dibalik kesuksesan lelaki, terdapat wanita yang hebat. Baik itu istri yang selalu memberinya semangat dan dorongan ataupun ibu yang selalu mendidiknya sejak kecil, dan menanamkan kepribadian mulia.
Seorang ibu adalah pendidik pertama untuk anak-anaknya. Seorang penyair Hafidz Ibrahim mengatakan dalam syairnya, “Seorang ibu adalah madrasah”, yaitu madrasah pertama bagi anaknya.
Betapa pentingnya madrasah pertama itu. Karena yang pertama adalah yang paling dasar. Seseorang tidak akan mungkin mencapai puncak jika ia belum bisa mencapai dasar. Itulah pentingnya seorang ibu.
Rasulullah shallaallaah ‘alaihi wa sallam bersabda, dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, “Apabila seorang anak Adam mati, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak sholeh yang senantiasa mendoakannya” (HR. Muslim).
Karena seorang yang sudah mati itu tidak bisa beramal lagi, maka ia sudah tidak bisa mendapatkan pahala lagi kecuali melalui tiga hal.
Hal pertama adalah shadaqah jariyah, seperti wakaf masjid. Ia akan terus mendapat pahala selama masjid itu digunakan untuk kebaikan.
Hal kedua, adalah ilmu yang bermanfaat. Contohnya, seorang ibu mengajarkan kepada anaknya cara berwudhu. Maka setiap kali anaknya berwudhu, sang ibu mendapat pahala yang sama seperti yang didapatkan anaknya. Bahkan setelah sang ibu wafat, ia terus mendapat pahala setiap kali anaknya berwudhu.
Sebagaiman hadits Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala sebesar pahala orang-orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka baginya dosa sebesar dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi dosa orang-orang yang mengikutinya sedikitpun.” (HR. Muslim).
Hal ketiga adalah anak sholeh yang senantiasa mendoakan kebaikan untuk kedua orangtuanya. Memintakan rahmat dan ampunan untuk keduanya saat keduanya sudah tidak bisa lagi meminta ampunan dengan lisan mereka sendiri.
Seorang ibu bisa mendapatkan jalan yang kedua yaitu apabila anaknya terus melakukan amalan yang ibunya ajarkan. Apalagi jika anaknya itu mengajarkan kepada orang lain, maka akan berlipat-lipat pahala untuk sang ibu. Juga jalan yang ketiga yaitu doa dari anak-anaknya yang sholeh.
Maka hendaklah seorang ibu selalu mendampingi anaknya di rumah. Menjadi suri teladan terbaik bagi anaknya, menanamkan dalam diri anaknya kepribadian sholeh dan aqidah yang lurus juga mengajarkan kepadanya adab-adab Islami seperti doa bangun tidur, doa masuk kamar mandi, tata cara berwudhu, tata cara shalat, mengajarkannya membaca dan menulis, dan lain sebagainya.
Jangan membiarkannya terpengaruh keburukan dari manapun. Sehingga semuanya akan menjadi kebaikan untuk anak sekaligus orangtuanya.
Semoga Allah memberikan taufiq dan Rahmat-Nya kepada orang tua kita, anak-anak kita dan keluarga kita.
Semoga Allah memudahkan langkah kaki kita untuk terus menuntut ilmu serta menjadi suri tauladan yang baik untuk anak-anak kelak. امين يارب