Catatan Akhir Tahun
Matahari begitu menyengat siang itu. Namun sepertinya sore ini akan hujan. Bulan Desember memang selalu hujan. Seorang gadis dengan peluh di sela helm dan pelipisnya, sedang kebingungan mencari alamat di tengah kemacetan. Ia harus mengejar waktu, jalan-jalan di sekitar akan ditutup sore ini menjelang pergantian tahun. Gadis itu mencari dengan cemas, nyaris putus asa terperangkap kemacetan. Beberapa kali ia melewati jalan yang sama lalu berputar arah. Mencari lagi. Setelah dhuhur barulah ia menemukan jalan yang tepat. Alamat yang ia cari ada di antara jalan-jalan sempit di dalam gang. Ia gugup, berhenti di sebuah tempat yang teduh. Menyeka keringatnya dan membenarkan ikatan rambutnya. Itu kali pertama ia akan melihat rupa kekasihnya. Kekasihnya, yang ia sudah jatuh cinta sejak pertama kali mendengar suaranya. Yang sejak dua bulan yang lalu menghujaninya dengan cinta dari jarak 296 kilometer jauhnya. Tanpa bertemu. Terdengar menggelikan memang, namun memang ada cinta di sana. Setelah yakin siap, ia mengirim pesan singkat bahwa ia telah berada di luar gang rumah temannya. Kekasihnya sedang berlibur akhir tahun dengan teman-temannya, dan memilih singgah di rumah salah seorang teman di daerah itu. Itu dia. Seorang lelaki dengan wajah penuh senyum menghampirinya. Jantungnya seakan ingin meloncat saat itu juga. Akhirnya ia melihatnya. Pria yang selama ini hanya hadir melalui telepon dan percakapan di ponsel, dan ia berjuang menggambarkan sendiri dalam pikiran seperti apa rupa pria yang selalu ada menemani hari-harinya. Pertemuan singkat di penghujung tahun itu menandai keyakinannya akan cinta yang lama pudar oleh waktu. Akhirnya ia benar-benar jatuh cinta lagi. Sore itu hujan begitu deras saat perjalanannya pulang, namun ia tak berhenti tersenyum. Menanti pertemuan kembali esok hari. ******* "Hingar bingar pesta tahun baru masih sangat terasa berserakan di setiap sudut jalanan di pusat kota Yogyakarta. Juga di pelukanmu pagi ini. Karena pertemuan adalah hal yang pantas dirayakan." Pagi itu mereka kembali bertemu. Merayakan pertemuan kedua dengan beberapa kecupan dan lebih banyak pelukan. Memanfaatkan lebih banyak waktu sebelum kesempatan berakhir. Itu adalah pertemuan terakhir mereka sebelum mereka berpisah cukup lama. ***** Seperti biasa, hal-hal yang pahit memang seharusnya dilupakan. Namun tentu saja dijadikan pelajaran. Beberapa waktu yang memudar, beberapa kisah sedih, berbagai bentuk kesalahpahaman memang kerap terjadi. Itu wajar. Akhirnya perjalanan mereka sampai juga pada hari ini. Tepat 4 tahun setelah pertemuan pertama mereka. Masih dengan cinta yang semakin banyaknya. Walaupun pertemuan-pertemuan yang sedikit itu belum cukup menutup rindu. Pertemuan memang layak untuk dirayakan. Begitu pula cinta . Selamat tahun baru, kalian yang saling merindukan..
















