Ada satu film yang aku tonton beberapa hari yang lalu.
Luar biasa bagus banget menurutku. Cerita, cast, sinematographynya baguus semuaa!!
Judul filmnya HAMNET (2025)
Bercerita dengan latar tahun 1500-1600an, tentang kehidupan dari seorang sastrawan Inggris, penyair/pencerita William Shakespeare. Beliau lah penulis kisah Romeo and Juliet yang fenomenal dan juga teaterikal berjudul Hamlet (1623).
Dalam film Hamnet, kisah kehidupan (berdasarkan fakta sejarah) dimana Willam bertemu dengan seorang wanita idamannya yaitu Anne Hathaway (red: Agnes, dalam filmnya). Agnes yang hidup sangat dekat dengan alam sebagaimana mendiang ibunya mengajarinya, juga punya kemampuan bisa melihat sekilas tentang masa depan dengan cara menggenggam tangan orang tersebut.
Agnes tersentuh saat William (yang saat itu seorang guru bahasa latin) menceritakan sebuah kisah tentang Orpheus and Eurydice.
Singkat cerita, Agnes akhirnya mau menikah dengan William. Setelah kelahiran anak pertamanya Susanna, Will merasa dirinya terperangkap dengan pekerjaan yang tidak ia sukai, jiwa sastrawannya menggebu-gebu namun tidak memiliki tempat.
Agnes sebagai istri yang sangat supportif, mendukung suaminya untuk pergi ke London dan mengejar mimpinya. Agnes hidup terpisah dengan anaknya karena ia juga sedang hamil anak berikutnya.
Dalam kondisi jauh dari suami, Agnes ternyata melahirkan anak kembar (laki-laki dan perempuan) : Hamnet dan Judith. Perjuangan melahirkan yang luar biasa berat begitu tergambar dalam scene di film tersebut yang membuat aku begitu merasa terharu dan memahami sekali perjuangannya karena sudah pernah melaluinya juga. Momen ketika anak kedua lahir tidak langsung menangis dan dunia rasanya sudah siap runtuh, ternyata keajaibah masih berpihak. Bayi kembarnya hidup.
Setelah sekian lama, akhirnya William kembali dan mereka bisa hidup bersama, sampai kemudian Will mengatakan bahwa harus kembali ke London dan berpisah dengan Hamnet, anak laki-lakinya.
Suatu siang, tiba-tiba Judith sakit. Demam tinggi dan muncul benjolan di lehernya (sakit bubonic plague/black death/pes yang mewabah di Inggris tahun 1500-1600an). Hamnet sangat sedih dan takut kehilangan kembarannya. Agnes berusaha berbagai cara dengan obat-obatan tumbuhan dan segala yang dia ketahui : minum air yang banyak, perasan daun, garam, kompres semalaman.
Ada sebuah kalimat dalam film ini yang begitu menampar,
"Jangan pernah meremehkan anak yang tersenyum, tertawa, bemain, bernafas, dan sebagainya, karena ia bisa saja tiba-tiba pergi"
Tiba-tiba saja di malam itu, Hamnet terbangun dan memeluk Judith, dia tidak mau kehilangan kembarannya dan bersedia kalau dia saja yang harus pergi untuk meninggal. Karena dia sudah berjanji pada Ayahnya bahwa dia harus berani melindungi ibu dan saudari-saudarinya.
Pagi harinya, ternyata keadaan berbalik kepada Hamnet. Hamnet terkapar lemas, tubuhnya demam tinggi, ia kejang. Agnes panik dan ketakutan setengah mati. Dia berkali-kali memeluk dan memegang wajah Hamnet untuk menjaganya tetap bernafas dan mengatakan bahwa ia tidak akan pernah melepaskan Hamnet.
Judith sedih karena dirinya sudah baikan tapi justru Hamnet yang harus kehilangan nyawanya. Scenenya sangat menyakitkan dan memilukan. Acting dari cast Jessie Buckley dan Jacobi Jupe jujuuurr bagus bangeet. Scene itu benar-benar luar biasa mengguncang hati. Momen ketika Agnes teriak sesaat setelah Hamnet akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Seolah membuat semua nafas kita juga tercekat. Ya Allah ga sangguuuuuppppp!!!! I'M CRYYIIINGGGGG!!!
Mendiang Hamnet dimandikan, William tiba ketika waktu hampir menjelang pagi. Dia sangat senang ketika melihat Judith sudah sehat dan merasa lega, sampai saat dia melihat jasad terbaring. Dia tidak siap melihatnya. Ketika ia membuka kainnya dan melihat wajah Hamnet, dia merasa begitu terpukul. Kesedihan meliputi sekeluarga mereka. Hamnet meninggal di usia 11 tahun.
Agnes terpukul dengan kepergian putranya. Dia menangis sejadi-jadinya dan marah kepada William karena dia harus mengalami dan menyaksikan sendirian ketika anaknya berjuang melawan maut. Tidak ada suami di sisinya. Dia harus merasakan semua kejadian memilukan itu sendirian.
Selang beberapa hari, Agnes menjadi semakin kecewa dan marah saat Will izin untuk kembali berangkat ke London. Setahun kemudian, Will kembali, tapi ternyata luka itu masih belum hilang dari Agnes. Dia masih berduka. Will mengatakan bahwa dia sudah membelikan rumah di Stratford yang bagus dan sangat besar, serta punya banyak kamar untuk Agnes dan anak-anaknya. Bahkan rumah itu dibicarakan oleh semua orang karena kemewahannya.
Akhirnya Agnes dan anak-anaknya pun pindah ke Stratford (meskipun bukan di London tapi jaraknya lebih dekat ke London). Dari Ibu tiri Agnes akhirnya dia mengetahui bahwa William Shakespeare membuat sebuah teater yang berjudul "Hamlet". Judulnya yang mirip dengan nama anaknya, membuat Agnes penasaran dan awalnya kesal karena Will seenaknya menggunakan nama mendiang anaknya untuk teaterikalnya.
Agnes pun akhirnya pergi ke London ditemani saudaranya (Bartholomew) mencari William. Mereka pun akhirnya menemukan tempat tinggal Will di sebuah kamar loteng di pemukiman rumah susun. Sedih sekali melihat kamar dari seorang penyair yang memiliki rumah terbesar di Startford, tapi malah tinggal di sebuah kamar loteng yang tidak memiliki apapun, hanya kasur dan meja menulis.
Mereka berdua pun akhirnya datang ke pementasan teater Hamlet. Awalnya, Agnes bingung kenapa pemerannya memanggil-manggil nama Hamnet dan berpikir Hamnet gila. Dia berteriak melarang orang-orang itu menyebut nama anaknya. Sampai ketika, William keluar dengan kostum malaikat/hantu berwarna serba putih, memerankan arwah dari ayah hamnet yang sudah meninggal. Arwah ayahnya mendatangi Hamnet untuk mengatakan bahwa ia harus mampu melawan segala masalah dalam kehidupannya, ia harus bisa melawan duka, penghianatan, kesedihan dalam hidupnya karena ditinggal mati ayahnya. Ia harus bisa melanjutkan hidup.
Momen paling mengharukan ketika Will sebagai arwah ayah Hamnet mengucapkan selamat tinggal kepada Hamnet. Memeluk anaknya dan mengatakan salam perpisahan untuk selamanya. Inilah cara Will menunjukkan dukanya. Dia melakukan teater itu untuk dirinya sendiri. Sebagai bentuk salam perpisahan kepada anaknya Hamnet.
Gongnya, pemeran Hamnet dalam teater tersebut mirip sekali dengan Hamnet kecil (aslinya cast nya memang saudara kandung yaaa Jupe), ia menggunakan kostum baju yang sama dengan Hamnet (anak aslinya) yang memakai baju warna biru. Melakukan aksi pedang yang sama, seperti yang sering dilakukan Will dan Hamnet sewaktu kecil. Agnes tertegun dan speechless melihat sosok Hamnet yang tampil di teater itu. Seolah ia juga melihat anaknya yang sedang tampil di sana bersama Ayahnya sebagaimana yang pernah ia lihat ketika memegang tangan Hamnet dulu.
Scene yang luar biasa mengharukaaaan :"""))))
Akhirnya Agnes memahami bahwa Will punya duka yang sama sepertinya, hanya saja ia tahu hidup harus berlanjut dan duka bisa disembuhkan. Sebab, cinta itu tidak hilang ketika sosoknya meninggal, tapi ia tetap kekal di dalam hati.
Di akhir film, kita pun melihat, sosok kecil Hamnet yang tersenyum kepada Agnes di ujung pintu, Agnes tersenyum dan meletakkan tangan ke dadanya. Mengisyaratkan bahwa Hamnet akan tetap ada di hatinya. Film pun selesai ketika hamnet berjalan masuk ke dalam pintu menuju lorong gelap.
Kata-kata terakhir di teater Hamlet "Yang tersisa hanyalah keheningan"
Sebagai isyarat bahwa kematian tidak meninggalkan duka, tapi kedamaian. Hamnet sudah damai di sana.
Wuaaaaa!!! FILM TERBAIIIKK!!
Siapapun kamu harus nonton :")))