Terima kasih, kamu sudah bertahan. You matter.
Kamu sudah berjuang, melawan perasaan kalahmu dengan seluruh sabar dan ikhlas yang tentu saja tak mudah. Kamu harus bangga, kamu melewati masa sulit dengan sangat baik.
Kamu sudah tidak memikirkan hal yang tak bisa lagi kau ubah, takdir yang sudah lewat. Awal Oktober, kau sudah berjanji, bukan? Bodo amat untuk semua hal lalu yang tidak membuatmu lebih baik. Awalnya sulit, lama-lama terasa ringan. Kau pulih tanpa sadar. Kau tak lagi terjebak oleh rasa penasaran yang menyebalkan, tak lagi ingin tahu hal-hal tidak perlu, terlebih tentang cerita di masa lalu yang sempurna sudah kaukubur di halaman September.
Kini, kau kembali melangkah. Perlahan, namun pasti; melanjutkan perjalananmu sambil menyapa ramah kemungkinan-kemungkinan lain yang akan kau temukan di sepanjang laju takdir yang begitu rahasia.
Kau mengizinkan dirimu keluar dari bilik kenangan, memori kelam yang pernah menghisap begitu banyak energi, lingkaran setan yang hampir saja membuat dirimu habis ditelan kesedihan yang begitu sulit kauatasi.
Jumat cerah menyambutmu dengan sinarnya yang hangat, kau pun demikian. Kau melihat pagi seperti melihat gerbang harapan di buka lebar untukmu. Kau menikmati detik ini dengan hati yang tenang dan tentram. Tak ada lagi kecemasan macam-macam. Tak lagi kau peduli βapa kata orangβ, omongan mereka kadang tak relevan dengan hidupmu. Kau berhasil, merengkuh kedamaian dari dasar hatimu paling jernih.
Tak ada lagi kelelahan menjawab pertanyaan pelik tengah malam, tak ada lagi erangan bisu memeluk derita yang menusuk diam-diam dalam kegelapan. Tak ada lagi napas terengah, dada sesak oleh tekanan beban yang tak tampak di pundak. Tak ada tangis penuh kepedihan. Kau mengambil jarak dengan mereka semua, menukar luka-luka dengan kedewasaan yang bertumbuh.
Terima kasih sudah menulis sebagai bagian dari pemulihan, sebuah usaha tuk lebih mencintai dirimu.
Saatnya tersenyum membelakangi tatapan tak ramah mereka yang pernah membuatmu berlari begitu jauh, kehilangan diri sendiri hingga pandanganmu memburam setiap kali mencoba membaca arah.
Dan kau tiba-tiba merasa cantik, meski dengan wajah masa lalu yang buruk rupa. Kau tersenyum melihan perjalanan yang masih basah oleh jejak peluh, darah dan air mata yang perlahan mengering.
Kau akan terus melangkah. Pelan. Sembari menunggu tubuhmu pulih dengan ikhlas dalam kepal genggamanmu.