Padahal sudah jauh lewat hari ulang tahunku, tetapi aku mendapatkan sebuha kado yang special. Kado itu dimasukkan dalam box lalu dibungkus dengan kertas kado berwarna biru muda bercorak lucu dan indah. Melihat bentukny saja aku sudah senang dan tidak sabar ingin membuka lalu melihat apa isi dari hadiahku itu. Tanpa menunggu lagi aku segera membuka kertas kadony yang lucu, tadiny aku ingin langsung merobekny supaya lebih cepat, tetapi aku tidak sampai hati merobek kertas yang indah itu, lalu kuputuskan untuk membukany perlahan2. Nah akhirny aku selesai melepaskan semua selotip dan kertas kado, lalu cepat2 aku membuka box...di dalamny terdapat sebuah hiasan dari kristal yang berbentuk kura2. Aku sendiri adalah orang yang kurang menyukai hiasan2 seperti itu, aku lebih suka barang yang dapat digunakan sekenany seperti topi, atau sepatu, tetapi tidak tau mengapa aku senang sekali melihat kura2 kristal itu. Berjam2 aku memandanginy, menaruhny di samping tempat tidur, aku ingin memamerkanny pada teman2ku juga pada ayah dan ibu. Ketika melihat kura2 kristal itu, semua orang mengaguminy, keindahanny, bening kristalny dan juga dingin. Seperti es yang tidak pernah mencair.
Suatu hari aku benar2 merasa marah, aku tidak suka dengan orang2 yang menawar ingin membeli kura2 kristalku. Mereka begitu nekat menawar, hingga harga yang mahal, meskipun berkali2 aku mengingatkan kalau aku tidak akan pernah menjual kura2 itu sampai kapanpun, sebanyak apapun uang yang ditawarkan padaku. Aku marah pada kura2 kristalku, karena aku jadi sangat posesif padany, aku ingin menyimpanny menyembunyikanny supaya tidak ada lagi orang yang bisa melihatny. Tetapi orang2 masih saja mendekatiku untuk mendapatkan kura2 kristal yang jelas2 sudah jadi milikku. Sampai pada suatu hari datang seorang anak kecil yang berlagak sombong, meminta kura2 itu padaku. Dengan manja ia menangis merajuk supaya aku mau memberikan kura2 itu padany. Aku tetap tidak mau, dan anak itu nekat merenggutny, kami bergumul memperebutkan kura2 kristal itu, dan malangny saat aku berhasil mendapatkan kura2 kristal, tanganku yang berkeringat dan licin tidak bisa menahanny lalu...PYAR, aku hanya termenung menatap kura2 kristal itu menghantam tanah, lalu terpecah menjadi bagian2 yang kecil, hancur berkeping2. Aku sangat terkejut sampai tidak memperhatikan anak kecil tadi pergi begitu saja. Aku sedih melihat benda kesayanganku hancur seperti itu. Satu demi satu pecahan aku kumpulkan lalu aku memasukkanny ke dalam kantong plastik, supaya besok bisa aku usahakan merangkainy kembali. Pagi hari aku mencari2 kantong plastik itu, dimana2 tidak ada dan aku semakin sedih ketika ibu memberitahuku kalau kantong plastik tersebut diambil oleh pemulung atau entah siapa karena ibu menaruhny di luar.
Aku merasa sangat kehilangan, berapapun hargany, apapun resikony aku ingin mendapatkan kembali kura2 kristal itu. Di kamar aku hanya bisa termenung dan berusaha mencarai tau dimana pecahan2 itu. Padahal masih bisa kalau mau dirangkai kembali.
Seperti biasa, aku suka menikmati sore di cafe sambil menikmati minuman2 ringan bersama beberapa temanku. Seorang gadis baru saja datang dan menempati meja di dekat mejaku. Setelah memesan, gadis itu mengeluarkan sesuatu dari tasny, teman2ku asyik bercerita, tetapi aku penasaran akan apa yang dibawa gadis itu. Perasaanku benar, itu adalah kura2 kristalku yang sempat pecah sudah utuh lagi, meskipun tidak sepenuhny dan tidak semulus dulu, tetapi seseorang pasti telah merangkainy kembali dengan lem khusus kaca, dan aku merasa sakit saat gadis itu dengan tersenyum memandangi dan mengagumi kura2 kristalku...apa yang kulakukan , aku hanya bisa diam memandanginy, aku tidak bisa mengambil kembali kura2 itu, sampai gadis itu berbaik hati mau mencari tau dan mengembalikan kura2 kristal itu padaku. Aku terus mengharapkanny kembali, aku ingin memandangi kura2 kristal sebelum tidur, aku ingin memandangi beningny kristal di ukiran cangkang kura2ny. Tapi semakin lama harapanku semakin sedikit tidak ada tanda2 gadis itu ingin mengembalikan kura2 pada pemilik awalny, gadis itu sangat menyayangi kura2 itu. Dan ia tidak sepertiku yang posesif, ia dengan senang hati menunjukkan kura2 itu pada tiap orang yang ingin melihat. Hal itu yang membuatku sedikit sadar kalau mungkin aku terlalu egois, dan aku tidak bisa membagi kesenangan dengan yang lain.
Hanya ada kertas kado lucu biru itu di meja belajarku. Berkali2 aku berniat membuangny, aku ingin semuany hilang dari hadapanku. Tetapi kertas kado itu sangat sesuai kalau aku pakai sebagai sampul buku harianku. Lalu aku menyampuli buku harianku dengan kertas kado, membawany setiap hari, kemanapun dan aku menuliskan sebagian curahan hatiku ke dalam buku harian itu. Yang bersampul kertas kado lucu. Lama2 aku merasa, kertas kado lebih dapat aku pergunakan, meskipun tidak seindah kura2 kristal, aku hanya merasa lebih sayang karena aku ditemani buku bersampul kertas kado. Kadang aku bosan untuk menulis, tetapi kadang aku sangat ingin menulis. Aku kadang hanya memandangi sampulny, membuatku merasa sejuk dan terhibur dengan gambarny yang lucu. Hampir tiap waktu, dan karena kecerobohanku, sampul kertas kado yang aku taruh di meja belajar tersiram sisa kopi saat ibu membersihkan meja belajarku. Warnany ada yang pudar, tetapi selebihny tetap lucu. Aku tidak mau kalau sampul kertas kado hilang, aku mau selalu ada kertas kado yang dapat aku bawa kemana2 dan dapat menemaniku kemana2. Aku ingin menyampuli buku pelajaranku dengan kertas itu, tetapi masih kurang lebar kertasny, aku kesal dan akhirny aku meremas2ny lalu melemparny ke tempat sampah. Karena kecewa, aku mengambil lagi kertas kado itu. Merapikanny lalu menaruhny di meja belajar, setiap memandang kertas kado aku merasa senang, tetapi tidak bia dipungkiri tetap saja kertas kado itu adalah pembungkus dari kura2 kristal. Aku tidak dapat melupakan semua itu.
Kuputuskan untuk memotong2 lertas kado itu dengan gunting. Aku membuatny menjadi banyak kertas persegi, dengan sangat sedih, aku tidak ingin kalau kertas itu hanya akan menjadi barang yang selalu membuatku senang tetapi juga membuatku sedih. Aku harus membiarkanny pergi, sambil menangis pelan, aku membuat origami dari kertas kado. Melipatny, mempertemukan sudut ke sudut, hingga akhirny menjadi beberapa burung origami yang cantik, cukup banyak. Berat hati...aku memasukkan burung2 kertas kado ke dalam tas, lalu mengambil sepedaku dan mulai mengayuhny. Aku harus pergi ke tempat yang tinggi dan berangin supaya burung3 itu bisa terbang. Aku bersepeda hingga kehausan, lelah, keringat bercucuran di keningku. Aku harus mencapai bukit itu sebelum senja, kukerahkan semua tenagaku untuk mengayuh sepeda hingga betisku mulai terasa ngilu. Saat merasa aku hampirpingsan kehabisan tenanga, aku sudah sampai di atas bukit. Langit masih bersinar terang, cerah tidak menyngat, lebih redup tetapi menyejukkan. Kuambil burung kertas kado, semuany, aku memandanginy untuk yang keterakhir kaliny, mungkin besok aku bisa menemukan salah satu burung itu. Aku masih ingin memandangi semua burung kertas kado, tetapi angin kencang yang tiba2 menerbangkanny begitu saja satu persatu dan aku tidak berusaha menahannny dan menangkapny sama sekali. Aku sudah menahan dan mempersiapkan hatiku saat memandanginy terbang dibawa angin. Sedih beberapa bulir airmata meleleh di pipiku, aku tau kalau nt pasti aku akan membiarkan kertas kado itu pergi dari hari2ku. Entah apa yang akan terjadi selanjutny, aku tidak bisa terus menyimpanny, aku terlalu ceroboh, mungkin saja burung2 kertas kado akan ditemukan oleh beberapa orang dan kemudian disimpan, mungkin ada juga yang hanya terbang sampai jauh lalu jatih di sungai dan terhanyut. Aku berusaha tidak memikirkan semua itu. Hanya aku belajar untuk tidak selalu dan tidak terlalu menyayangi benda2 hingga nantiny hanya akan membuatku kecewa dan hanya akan membuatku tidak bisa berbagi...aku egois selama ini, tetapi menerbangkan kertas kado mungkin langkah awal untukku dalam beraljar bersikap dan bertindak. Aku memang harus menangis dan harus sakit hati melewati hari2ku tanpa benda2 itu...tetapi aku masih punya banyak aktivitas yang kulakukan sehingga aku tidak perlu menggunakan sebagian waktuku untuk mengagumi beberapa benda yang membuatku merasa tertarik dan senang...
*mengharap mendapatkan menjaga merelakan*














