Awan Kertas Bening
“Aku kan hilang setandasnya, mengendus paham sejelasnya, metamorfosa dalam rasa, tranmutasi dalam jarak.. Aku kan tenggelam kedalam.. Dengan sungguh, menyeluruh.. Biarkan tak menjadi rupa.. Biarkah, biarkan saja.. Karena aku tak kan mati, walau raga ini remuk redam.. Aku kan kekal diselama hayatmu.. Digelap dan terangmu.. Didalam kenangan..”
Masa lalu adalah belukar lampau yang terus hidup, tumbuh dengan caranya yang rumit diketidakterjangkauan masa kini. Dia terus membuncah dalam kenang. Melambai-lambai seperti mengisyaratkan tanya yang tak pernah terjawab, olehmu. Dia berbisik, membuatmu mengais-ais memori yang telah berceceran, tak tersusun, dan usang. Lalu kau buka kembali pintu yang sudah kau kunci rapat itu. Betapa mengingat adalah kerja masa kini yang melelahkan. Tetapi kenangan itu memaksamu menyusun ulang sobekan-sobekan kisah yang sudah kusut dan kumal. Kau temukan satu sobekan besar, berisikan hari-hari indah bersamanya. Seketika terlukis senyum dijingga wajahmu. Sesekali kau tertawa kecil. Ada canda yang kembali hidup. Terenkarnasi dalam imaji. Namun kau kembali murung sesaat setelah temukan sobekan yang lain. Membuatmu menghela nafas. Betapa sulit berbohong dalam kesendirian. Maka itu tangis dengan segera meradang dihatimu.
Sesobek demi sesobek kisah-kisah itu semakin membentuk rupa. Bukan wajahnya. Karena kau takkan pernah bisa melupakannya. Maka itu tak ada yang perlu diingat dari wajahnya. Kau sudah hafal tiap detailnya. Ini adalah rupa yang lain. Wajah kisah yang mencoba keluar dari samar. Rupa itu menjelma awan kertas bening. Seperti sebuah layar yang disoroti cahaya, semut-semut mulai memadati seisi awan kertas bening. Bergerombol dan berdesis hingga akhirnya membentuk gelombang garis-garis panjang. Berputar naik turun menyempurnakan gambar yang samar diantaranya. Putaran garis semakin cepat dan akhirnya menghilang. Seolah kenangan gaungkan kata-kata dalam samar angan. “Selamat menyaksikan!”
Ada dia yang tertidur lelap, sungguh damai. Kau menjaganya. Mengamatinya dari dekat. Tersenyum takjub melihatnya tersenyum yang kadang buatmu penasaran, akan apa yang sedang dia impikan. Lalu dengan segera kau abadikan senyuman itu kedalam kamera. Kamera nyata dan imajimu yang kini tercetak sebagai kenangan berbingkai cahaya kunang-kunang. Kau terlihat tak bosan-bosannya menatap wajah polos itu. Bahkan kantuk sudah jauh-menjauh darimu. Padahal pagi itu adalah pagi yang sangat melelahkan. Bagimu, baginya, dan tentunya bagi orang-orang yang sudah lebih dulu pulas dibuatnya. Betapa rasa tengah menguat dihatimu pagi itu. Betapa tak kau pedulikan mentari yang mulai menusuk mata dari balik jendela.
Oh dia terbangun. Kau panik. Lalu reflek kau berbalik ke arah televisi yang menyajikan seri komedi. Tetapi kau tak menghiraukannya. Karena sebenarnya hanya dia yang kau pedulikan. Kau sesekali mengintip. Oh dia sedang menggosok-gosok matanya. Kau pura-pura terbahak keras sambil menatap televisi yang sebenarnya tak benar-benar kau saksikan itu. Berharap dia kan bertanya. Dan dia memang bertanya, akhirnya. “Kamu ga tidur?” Oh sungguh suara itu. Sungguh-sungguh membawamu kembali kedetik dan tarikan nafas yang sama. Degupan jantung yang belum ada gantinya. Gemeretak hati yang langka. Oh manja yang kau dengar dari intonasi bicaranya. Suaranya yang serak seperti dipaksa bicara. Mungkin karena masih dalam kantuk. Maka suara paraunya telah mengakar dalam memori. Tak tergantikan! “Tanggung, filmnya seru!” Jawabmu singkat, tanpa menoleh. Dengan niat agar dia tak curiga. Tapi kau malah terkaget dibuatnya, karena dengan seketika dia telah disisimu dan ikut tertawa. Kurasa dia memperhatikan filmnya. Bukan kau. Tapi tak apa. Karena semuanya seolah telah kembali cair. Kau dan dia kembali dalam senda, terkekeh-kekeh oleh gurauan alamiah. Seolah pagi memberimu amunisi sejuta kelakar. Bagai bara yang tak henti digibas kipas asmara. Dia sungguh terlihat bahagia. Maka semakin membaralah rasa itu ditungku hatimu. Karena dia yang kau tau, selalu penuh dengan keluh. Selalu ditindih pedihnya sedih. Dicintai orang yang salah. Mencintai orang yang salah. Begitu gaungan yang terngiang dilangit-langit imaji saat terbayang bibirnya berucap itu, dulu. Kau baginya adalah oase ditengan gurun. Sejuk dan melegakan. Dia bagimu bagaikan mimpi yang berwujud nyata. Indah yang sulit ditakar nalar. Kau datang disaat dahaga kasih tengah dirindu untuk dilepasnya. Semenjak dia sadar, betapa selama ini hanya fatamorgana yang penuh dikerongkong hatinya. Dia datang diwaktu mimpi-mimpi indah tak pernah lagi hadir dalam tidurmu. Ketika resah semakin beringas saja menjajah malam-malammu. Dan kau dihantui rasa itu. Kau telah kehilangan selera tidurmu. Dan berkutat dalam nyata nan gelap. Lalu terlelap dikala embun menyambut terang. Lelah meminta dalam doa. Bosan dengan cita-cita muluk. Tak ingin lagi bermuluk. Kesentimentilanmu redup. Begitu kuyu, lusuh, merasa dipuncak stagnan. Hingga waktu dirancang Tuhan. Hingga Tuhan merangsang optimismemu kembali. Dipetang yang masih dihinggapi terang, kau merasa pulang. Bagai kembali ketempat dimana tenang adalah sofa terempuk yang pernah kau duduki. Setelah sekian lama tersesat diladang opium yang beralaskan bunga kaktus. Dialah rumah bagimu. Yang memberimu lega ditiap kali temu yang disengajakan Tuhan. Hmmmm..
Dia ingin pulang. Lalu reflek berdiri, kau akan mengantarnya pulang. Harus! Tapi dia ingin sendiri saja karena tak tega mendapatimu belum tidur rupanya. Namun kau tak menyerah, kau sungguh ingin memastikan sendiri keselamatannya. Tak ingin kau serahkan itu kepada orang lain. Tukang ojek ataupun supir angkot. Tidak! Sungguh itu tak membuatmu tenang. Dan kau pun tak ingin jadi lelaki yang tak bertanggung jawab dengan enak-enakan tidur sementara dia pulang sendiri tanpa tahu akan sampai tujuan dengan selamat. Dengan berjuta argumen, kau coba yakinkan. Dan pada akhirnya dia luluh juga. Dia membolehkanmu mengantarnya pulang, tapi dengan satu syarat. “Tapi udah itu langsung pulang, tidur ya!” tukasnya. Diapun senyum. Kau semakin leleh saja. Kau tahu dia tak membawa baju hangat. Sementara pagi masih sangat menyebabkan gigil. Kau pinjamkan jaketmu, dia menolak awalnya. Tapi kau meyakinkannya bahwa kau kan pinjam jaket teman yang rupanya sudah pula bangun. Setelah kau meminjamnya, kau ingin melakukan sesuatu ditoilet. Ada panggilan alam, izinmu padanya. Selesai dari situ. Lalu kau kembali menuju lantai dimana kau menyaksikan dia tertidur hingga bangunnya. Saat menyusuri lorong, berjejer kamar-kamar kost yang hening. Mungkin penghuni-penghuninnya masih sangat lelap oleh lelah semalam. Tapi kau dapati satu kamar yang berisikan dua suara dari dua orang yang teramat kau kenal. Suara mereka menjelma sebuah dialog. Dan dialog keduanya membuatmu terkaget. Entah darimana dia tahu, bisikmu dalam hati. Dia katakan pada teman yang pinjami kau jaketnya itu, bahwa kau telah menjaganya selama dia tidur. Dia terlihat senang menceritakanya. Kau pura-pura tak mendengar. Lalu masuk kedalam kamar itu hanya dengan satu kata. “Sekarang?” Lalu dia hanya menjawabmu dengan dua anggukan. Kau berbasa-basi seperti biasa. Pamit kepada yang menyediakan tempat berkumpul dan berbahagia. Dengan sebiasa-biasanya sikap. Walaupun kau sangat berbunga pagi itu. Kau membimbingnya turun tangga, dia mempercayakan dirinya pada pegangan tanganmu, untuk menjaganya dari keseimbangan. Menyiapkan motormu lalu memboncengnya dengan kecepatan paling lambat. Motormu itu berpotensi kencang, tapi kau tak ingin membuatnya segera turun, apalagi melepaskan jaketmu. Kau ingin menikmati perjalanan bersamanya. Oh jalan begitu lengang. Mungkin semua orang masih sangatlah pulas tuk nikmati pagi. Karena malam tadi adalah pesta semua orang. Pesta perpisahan kepada tahun yang lalu.
Tiba-tiba abu-abu mewarnai awan kertas bening. Bagai mendung. Kau temukan sobekan lain yang menyempurnakannya. Awan memutar samar replika kisah lampau yang kini diputar ulang didalam kenang. Kau dapati dilema besar. Seorang lelaki yang sangat kau kenal baik melebihi kawan, memintamu menjodohkannya dengan dia. Membutmu loyo dan murung berhari-hari. Kau belum mau jujur pada hatimu. Waktu itu tak banyak yang tahu. Hanya sebagian yang peka yang menangkap gejala antara kau dan dia. Namun kejujuran lelaki ini mendesak batinmu untuk akui bahwa rasamu itu tak sekedar kagum semata. Bahkan lebih dari itu berlipat-lipat. Tapi tak acapkali membuatmu bereaksi. Hanya menunggu kabar yang kan disampaikan burung. Hingga akhirnya beberapa hari kemudian kau mendapati kabar dia menolaknya. Sungguh jahat sebenarnya legamu itu. Tapi itulah kejujuran. Walau tetap hanya kau dan Tuhan yang tahu, walaupun kau sangat berharap dia kan segera tahu. Tapi entah ragu apa yang berkecamuk didirimu. Banyak mempertanyakan yang tak perlu. Membuat keyakinannya pun terkikis ragu. Kau menghilang. Dia mengendus faham. Tanpa tau, apa sebenarnya yang terjadi padamu. Dia tak ingin mengerti. Karena kau pun tak memberinya celah tuk mempertanyakannya. Hingga beberapa bulan berikutnya dia kembali dengan pesan yang bukan untukmu. Entah memang untukmu, entah memang tak disengajakan kepadamu. Entahlah. Yang pasti nomor ponselmu di ponselnya yang membawamu pada luka, saat kau sedang tak sanggup menerimanya.
Sobekan-sobekan kisah itu semakin menuju akhir. “Sayang, jangan lupa dipake jaketnya.” Kau bertanya-tanya kepada siapa pesan itu dituju. Tak pernah dia memulai percakapan dengan kata-kata itu. Kau sungguh hafal betul mukadimah yang biasa dia lakukan. Tapi sebelum kau mempertanyakannya, beberapa menit kemudian satu pesan memperjelasnya. “Sorry, aku salah kirim.” Oh dia sudah tak sendiri lagi rupanya, bisikmu dalam hati. Kau tersenyum satir. Mendapati sepuluh tahun telah terlewati. Ditemani kanker otak yang semakin gila menggerogoti tubuhmu. Sudah habis rambutmu. Sudah lemah pula fisikmu. Tak ada lagi yang kau cemaskan. Hanya tinggal menunggu ajal dalam kehamampaan. Sendiri diujung senja. Tanpa seorangpun yang temani. Yang ada hanyalah sobekan-sobekan kisah lampau yang terpilin dan berdebu, dihatimu. Yang memaksamu hidup berkarat, sekarat, dengan semua itu.
Awan semakin kelam saja. Jelaga semakin memekatkan kelabu. Awan kembali berdesis. Barisan semut berputar naik turun didalamnya. Semakin samarkan kisah-kisah itu. Jutaan semut itu hilang dalam satu kejap cahaya putih. Awan kembali bening. Lalu perlahan retak. Bagai digoncang gempa hebat, retakan-retakan awan itu berhamburan tak beraturan. Kembali tercecer, tak tersusun. Dan hujanpun turun dipipimu yang bergetar tersedu. Dengan satu tanya yang mengganjal dan menjagal, dihatimu. “Sudahkah dia bahagia?”
Alat pacu jantung bergerak pelan. Berbunyi lambat. “tut...tut...tut...”Garis-garis zigzag semakin menuju garis lurus. Nafasmu hilang bersama bunyi yang tak terputus lagi. “Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut”***
Bandung, 25 Juli 2009
Dibawah gemintang sabbat..
i adeLL
Cerpen Lama, begitu lama, hingga sang pengayuh pena lupa pernah menulisnya. Tersimpan sunyi ditumpukan draft yang bising oleh teriak bisu. Menunggu pengayuh pena, membawanya menjelma. :)














