âUnggul : Ciri orang muâmin yang hampir terlupakanâ
Arus globalisasi menjadikan pandangan kita tertuju pada kemajuan barat, entah dalam bidang teknologi, keuangan, pendidikan bahkan tatanan masyarakat. Secara tidak langsung, alam bawah sadar kita mengajak untuk menjadikan barat sebagai poros dan pusat peradaban. Apa yang sudah menjadi standar mereka adalah tanda kesuksesan kita. Jika tidak percaya, mari kita periksa dari hal terkecil, tentang gaya hidup dan standar yang kita tetapkan, apakah itu lahir murni dari tuntunan agama atau tuntutan sosial?Â
Terkikis zaman, kita seakan dibuat lupa tentang bagaimana berjayanya islam dan umatnya pada abad abad terdahulu. Saya ingin mulai mengajak untuk menilik kembali bagaimana keadaan saat mulai diutusnya Nabi dan turunnya wahyu (Al-Qurâan). Dalam syarat penafsiran Al-Qurâan, sang mufassir haruslah seseorang yang mengetahui bagaimana keadaan saat diturunkannya Al-Qurâan, karena tanpa pengetahuan tentang sosial budaya pada zaman tersebut kita tidak akan pernah bisa meyakini bukti mukjizat Al-Qurâan. Bagaimana bisa, suatu kaum yang sangat memegang teguh dengan agama nenek moyang mereka dan sangat teguh dengan pedoman keyakinan mereka, seketika bisa hancur dan berbalik arah menuju cahaya keimanan (Islam). Al-Qurâan tidak hanya berhasil mengubah kaum qurays makkah dan madinah saja, tetapi seluruh negara yang didalamnya tersebar ajaran islam dan Al-Qurâan.Â
Cahaya keimanan memasuki hati dan jiwa para sahabat, sehingga setiap kali ayat turun kepada Nabi Muhammad, seraya mereka menginginkan untuk dijelaskan tentang kandungannya. âKami tidak akan berpindah kepada ayat berikutnya sebelum kami memahami dan mengamalkan kandungan yang ada didalamnya (Al-Qurâan)â, begitulah sekiranya kesungguhan para sahabat dalam menjaga agama yang sudah Allah janjikan penjagannya secara langsung. Hal ini berlangsung secara turun temurun sampai kepada generasi berikutnya dari tabiâin dan tabiâ tabiiin.Â
Para sahabat meyakini bahwa proses belajar mereka dalam ilmu agama adalah bentuk penjagaan terhadap ajaran yang murni. Yang mana hal ini adalah pedoman hidup hamba sejak ia dilahirkan sampai kelak kembali kepada Allah. Esensi manusia terletak pada jiwanya, sejak penciptaanya setiap manusia sudah ditakdirkan untuk mengemban amanah mulia, yaitu menjadi khalifah dimuka bumi, dengan dibekali akal untuk mampu memilah perbuatan yang baik dan buruk sesuai tuntunan syariâah. Dan disinilah letak pertanggung jawaban manusia, dalam amalan yang mereka ikhtiarkan dan mereka tanggung.Â
Allah bersadba dalam firman Nya âKamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyeru kepada yang maâruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allahâ. Bagaimana kita meresapi esensi yang Allah janjikan dalam firmanNya?
Suatu ketika saya termenung, sebagai generasi muda, apa yang bisa kita lakukan untuk kemajuan umat? tetapi saya sadar bahwa gerakan dan pengaruh yang kita bisa lakukan adalah hasil dari proses kita dalam mengisi dan memperbaiki diri sendiri. Dimulai dari menyadari pada posisi apa Allah menempatkan kita saat ini (Qum Haitsu Aqaamaka Allah). Jika sebagai penuntut ilmu maka tujuan sesungguhnya bukan hanya mencapai suatu kecerdasan maksimal dan pengakuan sebagai seorang tokoh. Tapi lebih dalam dari itu, adalah menjaga ajaran agama, menegakkan kalimat Allah dimuka bumi, mencari keberkahan melalui ilmu yang Allah berikan, menghidupkan sunnah dari apa-apa yang tertulis dan tersampaikan melalui hadits nabi, mengambil jalan terbaik untuk menjadi sebaik-baiknya umat.Â
Unggul adalah sifat orang muâmin yang hampir tersingkirkan, saatnya menyadari kembali, dimana Allah menetapkan porsi kita dimuka bumi, dan bagaimana bentuk kesyukuran kita sebagai hamba. Wallahu Aâlam Bissowab
Allahumma a-âizzal islama wal muslimin (Ya Allah, muliakanlah islam dan kaum muslimin)