Latihan Menulis
3/100
Benny adalah siswa jurusan Bahasa yang sedang memiliki masalah besar.
Masalah yang bahkan melampaui omelan emaknya karena Ia membolos kelas ataupun mendapat nilai jelek.
Ia.
Jatuh.
Cinta.
Masalah besar itu. Bukan karena Ia takut tidak laku. Juga bukan karena yang dia sukai itu anak kecil dibawah umur.
Masalahnya Ia jatuh cinta pada Siska. Seorang siswi jurusan IPA yang paling tidak peka sedunia.
Mau bukti?
Bukti 1
"Siska, habis sekolah nanti kita jalan bareng, yuk. Aku sudah punya SIM, nanti kuantar pulang." ucap Benny ceria memamerkan kunci motor barunya.
"tidak usah, Kak Benny. Siska masih punya saldo untuk naik Bis." jawab Siska tersenyum manis kemudian ngeloyor pergi begitu saja.
Benny yang baru pertama kali ini ditolak langsung kicep tanpa bisa mengejar Siska.
Bukti 2
"halo cantik" Benny duduk di bangku sebelah Siska yang kosong di jam istirahat. "aku beliin roti dari kantin. Khusus buat kamu"
Siska tersenyum "aku sudah bawa bekal, Kak. Makasih tawarannya."
Benny berakhir menghabiskan 2 roti untuk makan siangnya.
Bukti 3
Grubrak!
Benny terjatuh saat akan menendang bola. Kakinya terkilir saat Ia jatuh terjembab.
"Kak Benny!"
Benny langsung bangkit duduk saat mendengar suara Siska. "eh, Siska..."
Tanpa basa-basi, Siska menarik Benny dan memapahnya ke puskesmas. "ayo, Kak. Aku bantu ke puskesmas dulu."
Benny hanya bisa gelagapan malu saat seantero teman kelasnya mencandai dia.
"Siska, aku bisa sendiri..." bisiknya malu.
"Tidak apa-apa, Kak. Siska biasa angkat beras di rumah. Kakak tenang saja, kita sudah hampir sampai"
Benny hanya bisa menutup muka.
Begitulah nasib Benny yang gagal membuat Siska baper dengannya.
Seperti kata pepatah buyutnya, "tidak ada kata menyerah dalam kamus hidup." Benny meminta bantuan teman-temannya.
Tepat pada hari Valentine, semua teman sekelasnya beramai-ramai mendatangi kelas Siska dengan membawa kue, cokelat, dan bunga. Sahabat Benny bahkan membawa tulisan "Will You Be My Lover?"
Ditengah keributan itu, tidak seorangpun ada yang menemukan Siska.
"Siska? Hari ini ijin libur karena ayahnya masuk IGD."
Ucapan ketua kelas IPA meluluhkan semua semangat kelas Bahasa. Rasa canggung merayapi hati mereka. Satu demi satu kembali ke kelas dalam diam.
Benny menghela nafas, menyadari bahwa tidak mungkin menembak Siska dalam waktu dekat. Ia kembali ke kelas bersama teman-temannya.
Seusai sekolah, Benny pergi mengunjungi Siska di rumah sakit.
Dari kejauhan, Ia bisa melihat Siska sedang duduk di kursi ruang tunggu. Tatapannya kosong ke arah pintu IGD.
"Hei." Ucap Benny berdiri di depan Siska.
"Kak Benny?" Siska buru-buru bergeser. "duduk sini kak." ucapnya menepuk kursi di sebelahnya.
Benny menurut. "Bagaimana kondisi ayahmu?"
"Aku belum tahu, Kak..." Siska menghela nafas dalam. "Dokter sedang berbicara dengan Ibu."
Benny mengangguk. "kalau begitu, aku temani disini."
Siska menatapnya kaget "Tidak perlu kak, Siska bisa sendiri." Ucapnya buru-buru. "Nanti malah merepotkan kakak."
Benny menepuk bahu Siska lembut "Sudah, jangan dipikirkan." Ia melihat sekeliling dan menemukan sebuah kantin rumah sakit. "tunggu disini ya."
Setelah beberapa saat, Benny kembali dengan membawa sebuah plastik. "ini untuk Siska dan Ibu kamu. Kalian harus makan supaya tidak sakit."
Siska menerima plastik berisi nasi dan mineral itu. "Terimakasih Kak Benny." ucapnya sedikit tersipu.
Deg!
Benny mengerjap mata, jantungnya berdegup kencang melihat senyum manis Siska. Perlahan senyum malu-malu juga merekah di bibirnya.
'yah.. Kurasa begini dulu juga tidak buruk..'












