Pada Akhirnya, Kita Tetap Usai
Terima kasih atas setiap peluk, kasih, dan rasa yang perlahan menghidupkan. Sampai di sini aku mengerti bahwa datangmu bukan sekadar hadir untuk memenuhi keinginan. Melainkan membawa hal yang diam paling aku butuhkan: tenang, sabar, dan seseorang yang mampu tinggal tanpa tergesa pergi. Terima kasih telah singgah pada manusia yang nyaris kehilangan arah. Pada seseorang yang hidup dengan kepala bising, tetapi tetap berpura-pura baik di depan dunia. Kamu datang seperti cahaya kecil di ruang gelap gulita. Tidak banyak bicara, tetapi cukup membawa tawa. Akhirnya aku sadar bahwa tinggalmu bukan sekadar bagian dari hidupku. Seperti jeda yang Tuhan kirimkan di tengah lelah yang tak pernah sempat kuceritakan. Aku belajar bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan dari luka, tetapi juga tentang belajar bertahan kembali setelah hancur tak tersisa. Memahamiku bukan hal mudah. Akulah perempuan yang hatinya terlalu sering runtuh, dan jiwa yang tak lagi utuh. Tetapi kamu tetap tinggal, berjalan perlahan melewati seluruh gelap dalam diriku tanpa menghakimi betapa berantakannya aku. Sebelum semua terjadi, malam terasa panjang dan tidurku tak pernah benar-benar tenang. Hariku berjalan seperti lorong tanpa cahaya, dan aku hidup hanya karena waktu memaksaku melangkah. Dan setelahmu membawa terang sederhana yang tak pernah kuminta. Dan sejak itu, hidup terasa sedikit lebih hangat dibanding sebelumnya. Namun begitulah cara Tuhan bekerja. Mempertemukan dua manusia bukan selalu untuk bersama, kadang hanya untuk saling menyembuhkan sebelum akhirnya usai ditelan asa. Mungkin kita bisa tinggal lebih lama. Tetapi pada akhirnya, takdir tetap memilih jalanNya. Dan kini, di penghujung cerita yang perlahan selesai, aku hanya ingin menerima. Karena di antara banyak hal yang pernah menghancurkanku, kamulah satu manusia yang datang bukan untuk menambah luka, melainkan mengajarkanku cara bertahan tanpa membenci selamanya. Pada akhirnya aku menemukan satu hal yang lama hilang dari diriku: sanggup untuk hidup, bukan sekadar tidak mati di tangan sendiri.












