Barangkali, Pulang Bernama Sembuh
Untuk segala hal yang kusimpan sendiri, untuk riuh yang tak pernah sempat menjadi suara, dan luka yang tumbuh diam-diam, aku ingin menitipkannya kepada Tuhan. Barangkali, kelak akan ada seseorang yang hadir bukan hanya untuk menggenggam tanganku, tetapi juga memahami gemetar yang pernah tinggal di dalamnya. Seseorang yang tidak sekadar memeluk tubuhku, melainkan mampu merengkuh jiwa yang lama mencari tempat untuk pulang.
Ada malam-malam yang terasa begitu panjang. Waktu seolah berhenti, sementara isi kepala terus ramai. Aku hanya ingin beristirahat dari segala hal yang membuat hati lelah. Tuhan, jika takdirku masih menyimpan halaman baru, jangan biarkan kisahku berhenti pada luka. Izinkan aku menata kembali diriku, perlahan, tanpa harus terburu-buru menjadi baik-baik saja.
Mungkin ada bagian dari diriku yang tidak akan kembali seperti dahulu. Ada retak yang akan tetap menjadi jejak. Namun, bukankah dari retakan itu cahaya bisa menemukan jalan masuk?
Maka dalam setiap doa, aku tidak lagi meminta hidup tanpa luka. Aku hanya meminta hati yang cukup kuat untuk melewatinya. Jika suatu hari Kau hadirkan seseorang, semoga ia bukan datang sebagai penyelamat, melainkan sebagai rumah yang mampu menerima tanpa menghakimi.
Tuhan, aku tidak ingin kembali menjadi diriku yang dulu. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang telah berdamai dengan segala yang pernah membuatnya patah. Jika hari ini aku masih berantakan, biarlah. Sebab mungkin, sembuh bukan tentang menjadi seperti semula, tetapi tentang belajar mencintai diri sendiri dengan segala bekas yang pernah ada.
Tuhan, genggamlah aku sebentar lebih lama.



















