Ditulis oleh Imanta Azaki (16713333), mahasiswa TPB FTI angkatan 2013.
Selamat membaca, selamat berpikir.
Beberapa waktu lalu ada beberapa orang yang terlihat mondar-mandir di cc barat. Tiba-tiba salah satunya datang kepadaku dan bertanya dimana sekre KM ITB. Rupanya mereka mahasiswa dari kampus lain. Setelah aku tunjukkan ruangannya, dia terlihat kaget karena ruang tersebut kosong. Tiba-tiba dia berkata,
"sekre BEM kalian nggak ada yang jaga ?"
Aku agak kaget sebenarnya. Aku langsung saja menjawab, "jam segini biasanya belum ada orang di dalem mbak. Paling ntar sorean baru ada. Soalnya masih jam kuliah". Lalu perbincangan terhenti. Mereka mengucapkan terima kasih dan berlalu. Tapi pertanyaannya tersebut masih terngiang di kepalaku. Apakah harus selalu ada orang yang piket/berjaga sekre KM (apa sekre kabinet KM-ITB ya ?) ? Aku merasa biasa-biasa saja apabila tidak ada orang yang berjaga-jaga. Malah aku heran kenapa mereka kaget. Tiba-tiba timbul pertanyaan di kepalaku. Apa perbedaan kultur kemahasiswaan di ITB dan di kampus lain ? Kenapa ada saja mahasiswa dari kampus lain yang menganggap bahwa
"ITB itu terlalu teknik, jadi nggak bakal nyambung kalo ngomong ama anak ITB".
Jujur, aku tidak begitu tau perbedaan kultur kemahasiswaan di ITB dan di kampus lain. Tapi timbul kekhawatiran dalam benakku. Jika mahasiswa dari kampus lain saja ada yang menganggap bahwa "nggak bakal nyambung kalo ngomong ama anak ITB", lalu bagaimana mahasiswa ITB dapat nyambung dengan masyarakat ?Â
Aku sendiri belum begitu paham mengenai kultur kemahasiswaan di ITB. Aku juga tidak merasakan bahwa KM-ITB memiliki dampak yang cukup terhadap diriku. Lalu timbul pertanyaan lagi, apa manfaat dari adanya KM-ITB ?
Hmm, aku berpikir, KM-ITB merupakan singkatan dari Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Ada embel-embel "keluarga" rupanya. Apa makna dari "keluarga" itu sebenarnya ? Karena jujur, aku tidak begitu merasakan "keluarga" di KM-ITB ini.
Aku melihat betapa dalam "keluarga" ini terdapat arogansi antarsesama anggota keluarga. Aku melihat banyak anggota keluarga yang lebih bangga dengan identitas yang mereka kenakan pada sebuah jaket yang mereka sebut jaket himpunan. Aku belum melihat antarsesama "anggota keluarga" yang dapat dengan baik mengisi satu sama lain.Â
Lalu aku berpikir kembali.
"Keluarga" ini dapat menjadi keluarga sebenarnya yang saling berkontribusi membangun satu sama lain apabila ada yang berani dan bisa menjadi pelopor untuk mewujudkan hal tersebut.
"Keluarga" ini butuh seorang kolaborator.
Aku ingat bahwa saat ini, di kampus ini, tengah berlangsung sebuah ajang yang bernama Pemilu Raya KM-ITB yang salah satu tujuannya adalah memilih Ketua Kabinet KM-ITB.
Aku secara pribadi berpikir bahwa kabinet merupakan ujung tombak yang dapat mengolaborasikan anggota "keluarga" ini menjadi sebuah keluarga yang dapat mengisi satu sama lainnya sehingga bersama-sama, sebagai mahasiswa, dapat memenuhi kewajiban bagi insan perguruan tinggi, yaitu Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Aku berharap, kabinet KM-ITB mendatang dapat menjadi kolaborator yang baik sehingga mampu mengarahkan KM-ITB untuk dapat memenuhi kewajibannya dalam memenuhi proses pendidikan, mendukung dan melaksanakan penelitian dan pengembangan bagi kebaikan masyarakat dan bangsa, serta bertindak sebagai seorang abdi bagi masyarakat.
Mungkin tulisan dan pemikiranku ketinggian dan belum saatnya karena aku masih seorang mahasiswa tpb biasa dan hanya akar rumput dalam KM-ITB ini, yang belum mengerti dan memahami bagaimana kemahasiswaan seharusnya, dan belum mengerti bagaimana kultur kemahasiswaan dan himpunan di kampus ini.
Tapi ijinku aku menyampaikan titipanku sebagai seorang anggota di KM-ITB ini, siapapun yang terpilih dalam ajang besar Pemira KM-ITB ini, hendaknya tidak lupa dengan kewajibannya sebagai seorang insan perguruan tinggi.