JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN
halo semua! namaku Kika, hobiku adalah mendaki gunung, khususnya setiap lagi galau. baru-baru ini, aku lagi kalut banget lantaran pacarku—sekarang udah jadi mantan habis selingkuh.
berat ya rasanya ngejalanin life after break up itu? iya, berat banget. makanya hari kamis minggu kemarin, aku dan teman-temanku memutuskan untuk mendaki ke gunung salak. tapi.. ternyata perjalanan kami gak semulus itu. banyak hal aneh yang terjadi di sepanjang perjalanan. yuk, kepoin ceritaku!
kika: "guys mingdep ada yang mau ikut ke gunung salak gak?"
kak wooseok: "gas aja gue."
diatas itu adalah obrolan kami di grup chat, dan hari ini, Kamis—malam jumat kami sudah siap berangkat sejak jam 5 subuh tadi. selain peralatan mendaki yang kami bawa, kami juga membawa beberapa persediaan snack dan air minum untuk di puncak nanti.
"guys, perorang jangan lupa bawa kresek besar ya untuk sampah kita masing-masing!" teriak kak Ong saat kami sudah selesai mendaftarkan nama kami masing-masing di pos pendaftaran. kami semua mengangguk paham dan segerap menyiapkan apa yang kak Ong intruksikan.
sudah sekitar 1 jam 30 menit kami berjalan, akhirnya kami sampai di pos 1. orang-orang masih terlihat santai tanpa rasa lelah karena sudah terbiasa dengan kegiatan ini. namun, aku melihat Ahyeon yang tengah memegang perutnya sedari tadi. aku mendekati Ahyeon dan berbisik, "lu gapapa?" Ahyeon menjawab dengan anggukan, "gue gapapa kik.. cuma kayaknya ini gue mens.. tapi jangan dikasih tau sama yang lain ya, please? gue pengen banget ikut sampe puncak.." perkataan Ahyeon membuatku tertegun dan mau tidak mau aku hanya bisa mengiyakan perkataannya.
selesai istirahat, kami lanjut mendaki untuk mencapai pos 2. namun saat masih di setengah perjalanan, kak Wony yang sedari tadi diam tiba-tiba dia bernyanyi dengan suara yang sangat keras (kak Wony berada di barisan tengah) kami semua reflek menoleh ke arah kak Wony dan menegurnya untuk berhenti.
"heh lu kenapa anjir?" kami memutuskan untuk berhenti dan mendekati kak Wony. bukannya berhenti, kak Wony malah menjulurkan lidahnya sambil tersenyum lebar seperti meledek kami semua.
"naon ey? da ieu mah wilayah aing. kumaha aing we rek nyanyi sugan rek ngareog sugan!" kami tersentak kaget, kak Wony tiba-tiba bicara dalam bahasa sunda —dia orang jakarta asli— lalu kami semua sadar bahwa kak Wony kesurupan.
kak Ong yang memang cukup berpengalaman dalam hal ini langsung mengambil minyak kayu putih dan membacakan beberapa doa lalu kak Wony tertidur dengan lemas. kami beristirahat sambil menunggu kak Wony terbangun.
singkat cerita, waktu sudah menunjukan pukul 5 sore dan kami masih berada di pos 4. jalur pendakian sudah mulai terasa sangat sulit sehingga membuat kami mengambil lebih banyak waktu istirahat. kak Ong memimpin perjalanan kami dan dia selalu menegaskan untuk tidak boleh ceritakan apapun yang kami lihat selagi kami masih berada di gunung.
sebenarnya, beberapa kali aku melihat banyak monyet yang bergelantungan namun dengan ukuran yang sebesar manusia. aku selalu menutup mataku setiap kali melihatnya, berusaha untuk tidak bereaksi apapun.
setelah kurang lebih 1 jam pendakian, kami semua sampai di pos 5 pada pukul 6.30 sore. adzan di hp kak Ong terdengar berkumandang, menandakan waktu magrib. kami semua saling menatap satu sama lain karena merasakan ada sesuatu yang janggal. apa itu? kami terlalu lama mendaki gunung ini. yang kami rasakan hanya 1 jam saja untuk mencapai pos-pos berikutnya, namun setiap kali melihat jam, waktu terasa begitu banyak berlalu.
kami berkerumun membentuk lingkaran dan bersama-sama memanjatkan doa dalam kepercayaan masing-masing. dan tak lama dari situ.. Ahyeon mulai bertingkah aneh. ia mulai tertawa saat kami tengah berdoa, lalu ia mendekati kak Winwin dan menampar wajahnya dengan sangat keras sambil menangis, "Sia nu miceun runtah di dieu! Sia nu ngundang aing ka dieu! Aing mah sakali-kali teu niat ngaganggu maneh, tapi maneh sorangan nu heula ngaganggu aing. Rasakeun sorangan akibatna, ieu budak bakal aing bawa!" dan sekali lagi, ada yang kesurupan, yaitu Ahyeon..
kami menatap kak Winwin dengan bertanya-tanya, dan akhirnya dia jujur bahwa kak Winwin lupa membawa keresek lalu dengan iseng membuang bungkus Nextar sembarangan di pos 2 tadi. kak Ong berusaha menyembuhkan Ahyeon namun kali ini sangat sulit.
tanpa sengaja, kami menemukan sebuah gubuk kecil yang tak jauh dari pos 5. kami bergegas ke gubuk itu tanpa menaruh sedikit curiga. kami mengetuk pintu berkali-kali lalu keluar seorang kakek tua dengan berpakaian serba putih mirip seperti seorang ustad. kak Ong menceritakan semuanya pada kakek itu, tanpa menjawab kakek itu langsung menghampiri Ahyeon
ia meletakkan tangannya di kepala Ahyeon dan berbicara dalam bahasa sunda,
"saha ieu?" ucap kakek itu penuh amarah "timana maneh asalna?"
Ahyeon menjawab dengan suara yang menyerupai laki-laki, "aing penjaga gunung ieu, maneh nu saha?"
kakek itu tak menyerah, "urang mun manusia biasa, kunaon maneh sampe nganggu budak ieu?"
Ahyeon terlihat marah dan berteriak, "si ieu nu ganggu aing tiheula, tempat sare aing dikotoran, mawa sagala rupa nu kotor."
kakek itu tidak menjawab dan hanya terus-terusan membacakan doa pada Ahyeon dan membuat Ahyeon tiba-tiba pingsan. lalu kakek itu menjelaskan, "penjaga gunung ini marah karena ada yang buang sampah sembarangan, lalu merasuki anak ini karena kebetulan dia sedang datang bulan dan tercium wangi oleh makhluk disini. sebaiknya kalian tidak perlu melanjutkan perjalanan dan saya sarankan kalian untuk turun dan pulang."
kami mengangguk paham, belum sempat berterima kasih kakek itu pergi dengan terburu-buru menuju gubuknya. tanpa protes, semua orang setuju untuk turun saat itu juga. kak Ong dan kak Winwin bergantian menggendong Ahyeon. tidak terasa, akhirnya kami sampai di pos pendaftaran.
namun entah kenapa, semua orang disana menatap mereka dengan aneh. aku dan kak Wony menuju ke warung disana, dan bertanya pukul berapa karena hp kami semua mati. "udah jam 11 siang teh.." ucap ibu warung itu sambil menunjukan layar hpnya. tapi.. yang aneh adalah, layar hp itu menunjukan JAM 11 SIANG HARI MINGGU.
kami berdua menuju rombongan kami dan menjelaskan apa yang terjadi, dan setelah kami bertanya ke orang di pos pendaftaran, mereka terkejut dan berkata bahwa kami berenam sudah hilang selama 2 hari.
oh iya, sedikit informasi, setelah kami menceritakan apa yang terjadi di gunung itu, ternyata tidak ada gubuk atau tempat tinggal disana. namun, siapapun kakek itu kami berterima kasih karena sudah membantu kami selama disana.