Masih kepikiran sama ibu-ibu yang curcol kemaren. Di awal-awal pembicaraan itu, si ibu ini nanya permasalahan fikih, kenapa belio disuruh membuka cadarnya saat ihram? Yaudah kujelasin sebatas yang aku tau gitukan fikihnya. Tapi kayaknya bukan itu pertanyaan belio sebenarnya, karena kemudian muncul kalimatnya gini, "terus emang kenapa kalo pake cadar? Kan gak ngerugiin siapa-siapa?" Terus aku berpikir kayaknya kebingungan belio ini bukan hanya masalah fikih tapi juga aqidah, karena kalau dikaitkan dengan pertanyaan beliau sebelumnya tentang larangan duduk memeluk lutut, belio pun saat aku jelaskan dalilnya, belio berusaha mencari-cari alasan atau hikmah kenapa ga boleh duduk memeluk lutut di masjid, "biar sopan kali ya? Takut kelihatan aurat mungkin ya?" Dll
Terus akhirnya pertanyaan "emang kenapa" itu kujawab dengan "yaa karena perintah Allah, perintah Nabi shalallahu alayhi wasallam. Ga mesti ada kenapa-kenapanya. Karena dalilnya shahih, praktiknya benar begitu yang dimaksud, ya udah diamalkan. Wallahua'lam hikmahnya apa."
Semoga ga salah jawab ya, wkwk degdegan. Yang aku pahami hingga saat ini ya begitu sih. Kita kan statusnya Hamba ya. Kalo dikasih perintah baik lewat firman Allah atau sunnah Rasulullah, tugas kita ya taat, bukan menimbang-nimbang lagi apakah syariat itu baik atau benar sesuai nilai-nilai yang dipegang oleh manusia (lagipula standar manusia berbeda-beda dalam menentukan baik buruk). Kita dikasih akal bukan untuk menimbang-nimbang syari'at yang Allah turunkan, syariat Allah sudah pasti baik menurut ilmu Allah Rabb Semesta Alam. Akal kita juga ga dibebani untuk mencari hikmah disetiap syariat Allah. Bayangin betapa beratnya beban yang kita pikul kalau mau mengamalkan syari'at harus tau dulu hikmahnya apa, misal kenapa shalat maghrib 3 rakaat, isya 4 rakaat, kenapa gerakan shalat kayak begitu, kenapa orang yang menggambar makhluk bernyawa dapat siksa yang paling pedih di hari kiamat, kenapa bukan koruptor, kenapa ga boleh makan daging babi, dst. Mungkin ada ulama yang berhasil menggali hikmahnya, mungkin juga tidak. Seringkali akal manusia gak sampai untuk mengetahui hikmah-hikmah tersebut.
Sahabat pun ga tanya-tanya dulu perihal syari'at, langsung taat aja. Contohnya, Nabi pernah lagi ngimamin shalat terus tiba-tiba membuka alas kakinya. Lalu semua sahabat yang shalat di belakang Nabi shalallahu alaihi wasallam pada buka alas kaki juga semua. Padahal itu karena Nabi dikasih tau lewat Jibril bahwa di alas kakinya ada najis. Kisah lain ada juga sahabat yang kalo lewat satu pohon tertentu dia sedikit melenggokkan badannya. Pas ditanya sama sahabat lain, beliau bilang ya semata-mata karena beliau pernah lihat Nabi melenggokkan badannya disitu.
Terus akal dipakenya kapan? Yaa buat menyaring informasi yang sampai dari orang. Untuk memahami agama secara komprehensif. Membedakan baik dan buruk. Basically setiap saat akal harus jalan, kecuali untuk hal-hal yang emang dilarang untuk mengedepankan akal, seperti saat dihadapkan dengan dalil shahih pada perkara ghaib, dan syari'at yang Allah turunkan.
Wallahua'lam semoga jawabanku tidak sesat dan menyesatkan.