Sabar itu bukan sifat bawaan, melainkan sebuah keputusan.
Mungkin pernah kita menjumpai betapa mungkin seorang yang diperlakukan dengan buruk sedemikian rupa, mengapa tidak membalas dengan perlakuan yang sama? Mengapa mereka tidak memilih untuk mengamuk, mungkin memaki balik, atau minimal menunjukkan bahwa mereka punya pilihan juga untuk membalas dendam?
Pertanyaan 'mengapa tidak' ini wajar muncul karena dunia terbiasa dengan reaksi instan. Kita sering mengira bahwa diam atau tidak membalas saat disakiti adlah tanda kalah, takut, atau karena orang tersebut tidak punya pilihan lain. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Ada energi yang sangat besar yang sedang ditahan di dalam sana, dan ketidakmampuan orang lain untuk melihat energi itulah yang membuat tindakan ini terlihat membingungkan.
Pertanyaannya, lantas dari mana pilihan sabar itu hadir?
Ia tidak muncul begitu saja, dan jelas bukan bawaan lahir yang diwariskan daei ortu penyabar. Pilihan untuk sabar itu hadir dari kesadaran penuh atas nilai yang ia pegang teguh dalam diri. Seseorang memilih sabar karena mereka sadar, jika mereka ada hal yang lebih esensial ketimbang mencurahkan energi untuk hal yang tidak memberi feedback positif—baik untuk lingkungan, lebih-lebih untuk diri sendiri.
Sabar itu lahir dari sebuah keputusan berani untuk memberikan jeda. Jeda untuk berpikir jernih sebelum bertindak, dan jeda untuk bertanya pada diri sendiri: "Apakah orang ini layak membuat saya kehilangan kendali atas diri saya sendiri?" Ketika seseorang berhasil melewati jeda itu tanpa ikut menjadi orang jahat, di situlah sabar berubah dari sekadar menahan diri menjadi sebuah kemenangan mutlak.
Mereka berhasil menang, bukan dengan cara mengalahkan orang lain, melainkan dengan cara berhasil menguasai diri mereka sendiri. Begitu menawan memang orang-orang yang demikian itu. Mereka meang dan memilih kendali penuh yang ada pada dirinya. Sebuah watak yang bijaksana, dewasa yang tidak dibentuk dalam sekejap, maleinkan perenungan panjang dalam hidup yang ia laluinya.
Semoga kita bisa terus memilih untuk menang atas ego kita pribadi, tahu kapan dan bagaimana harus bersikap atau merespon keadaan.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenang, yang percaya akan bertemu dengan-Mu, yang rida atas ketetapan-Mu, dan yang merasa cukup dengan pemberian-Mu.