Wujud Ketuntasan Amanat; dari Keterampilan Hidup menjadi Gaya Hidup.
Salah satu amanat dari Allah Subhanahu Wata’ala adalah tubuh.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 172, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” sebagai perintah untuk memelihara asupan bagi tubuh.
Sebagaimana dalam tafsirnya yaitu makanlah dari rezeki yang baik yang sehat, aman dan tidak berlebihan dari yang Kami berikan kepada kamu melalui usaha yang kamu lakukan dengan cara yang halal sehingga mempelajari literasi gizi adalah keniscayaan sebagai salah satu wujud ketuntasan amanat (menjalankan perintah-Nya) baik laki-laki maupun perempuan.
Atas taufik-Nya tergerak untuk membaca unggahan drtanremanlay beberapa hari lalu yang kemudian menjadi sarana kontemplasi sekaligus evaluasi terkait pemenuhan gizi bagi tubuh.
Tubuh adalah rumah jiwa memberinya makanan sesuai kebutuhan membuat jiwa tenteram dan aman. Mencuranginya di akhir minggu demi nafsu yang menunggu membuat jiwa gelisah dan resah. Dan suatu hari akan ada lagi yang dicurangi atau diselingkuhi dan sejuta dusta telah ditata untuk berkata, ‘Ah tak mengapa’. (*)
Barangkali bukan hanya di akhir minggu namun dalam keseharian tubuh dicurangi dengan asupan berkedok candu bukan butuh.
Kebiasaan menzalimi tubuh: mestinya bisa makan benar, akhirnya beli ‘ganjal perut’ karena rasanya ‘ehm kok enak ya?’ Akhirnya jadi kebiasaan. Kebiasaan makan nggak benar. (*)
Kebiasaan suka jajan, misalnya tanpa disadari turut andil dalam mengacaukan pola makan sehat, apalagi di zaman sekarang godaan makanan yang sedang viral sangat mewabah dan makanan tersebut belum tentu sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tubuh. Jika tidak mampu menangkalnya maka akan menjadi kebiasaan yang mengakar.
Kebiasaan menggantungkan diri pada istilah praktis. Padahal dalam hidup banyak hal harus melalui proses. Akhirnya jadi kebiasaan menghargai hasil belaka bukan proses. (*)
Kebiasaan mengonsumsi makanan ultra proses (UPF); salah satunya. Hal ini terbukti dari hasil capaian industri makanan dan minuman sebagai salah satu sektor andalan penyokong pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional.
Produk ultra proses mengandalkan teknologi (termasuk pemanasan) untuk mengubah bahan segar kehilangan konten air, mineral dan antioksidan. Jika ada promosi ‘kaya vitamin dan antioksidan’ di kemasannya, itu karena proses lagi. Penambahan secara artifisial. Bukan asli dari bahan bakunya.
Tinggalkan kemasan, perbanyak kupasan. (*)
Sebab pada hakikatnya yang dibutuhkan tubuh adalah makanan yang tidak melalui pemrosesan atau sedikit sekali mengalami pemrosesan (unprocessed and minimally processed food).
Punya rempah, kaya beraneka, tersimpan nutrisi antioksidasi eh diganti aneka saus dan kecap teriyaki.
Punya matahari sepanjang tahun, ditukar kapsul ajaib katanya bikin keropos raib.
Punya sayur dan buah melimpah, mestinya dimakan dan dikunyah biar gigi sehat gula darah terawat, justru mesti beli blender mahal demi kepraktisan dan kemalasan.
Punya ikan ribuan jenis, berlemak baik dan protein tinggi, ternyata mitos salmon negeri seberang punya rating bersaing.
Punya berbagai umbi yang bikin badan sehat, malah sengaja impor gandum jadi terigu agar ekonomi kuat. (*)
Sebuah ironi nutrisi jika tidak berbarengan dengan literasi gizi.
Bahasa aslinya berarti melembutkan semua yang biasa dikunyah sehingga tinggal ‘tenggak’. Di sini dibilang jus. Padahal jus bahasa aslinya berarti mengambil cairannya saja, buang serat.
Kalau punya gigi dan bisa mengunyah, mengapa pusing harus beli alat mahal, kehilangan bonus mengunyah sebagai mekanisme menguatkan gigi dan sirkulasi liur, kehilangan serat lebih konyol lagi. Pun jika masih diminum dengan seratnya, kenapa proses pencernaan yang kodratnya 3 jam mesti digas jadi 3 menit? Ada yang lebih pintar dari Tuhan?
Minum air atau infused water?
Berdalih apa pun air diminum dan buahnya dimakan lebih maksimal ketimbang pakai rumusan osmosis.
Para pakar sepakat infused water hanya transisi bagi para peminum softdrink untuk bisa pindah ke air minum sesungguhnya. Infused water hanya memberi nuansa rasa. Tidak ada studi yang membuktikan peminum infused water lebih sehat.
Fermentasi bahan-bahan yang direndam dalam infused water? Wah ngeri ya. Tahu nggak bedanya fermentasi dan pembusukan? Fermentasi harus menggunakan mikroba atau jenis jamur khusus sebab prosesnya bertujuan. (*)
Perlu mengembalikannya pada fitrah agar upaya dalam menyelesaikan masalah tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari.
Organ tubuh, tulang, daging dan otak manusia terbuat dari susunan sel dan organel yang sama. Artinya hampir semua manusia membutuhkan zat gizi sama.
Yang membedakan: kebutuhan menurut usia, aktivitas, dan kondisi khusus (hamil/menyusui, terlanjur punya penyakit tertentu, masalah kelainan herediter). (*)
Kemenkes pun telah memberikan patokan isi piring makananku yang terbagi menjadi 3: PMBA (6-23 bulan), porsi balita (2-5 tahun) dan dewasa terdiri dari makanan pokok, protein hewani, buah/sayur, buah-buahan dan kacang-kacangan.
Tidak semua orang makan-makanan yang sama (jenisnya apalagi jumlahnya).
- Di mana siklus hidup Anda sekarang? Sedang tumbuh kembang, usia produktif, atau usia lanjut? Anak Anda, keponakan, cucu, mungkin sedang tumbuh kembang. Karenanya butuh makan-makanan untuk itu. Anda kembang ke mana?
- Apa aktivitas Anda sekarang? Kuli bangunan? Jaga toko? Rajin Webinar? Kuli atau atlet butuh makan dengan jenis dan jumlah yang menunjang kebutuhan energinya. Bayangkan jika Anda makan seperti yang mereka makan.
- Apakah Anda sedang hamil atau menyusui? Calon ibu dan ibu menyusui membutuhkan jenis dan jumlah kalori karena ia berbagi ‘gizi’ dengan anak yang sedang diasuh dalam kandungan atau buaian. Bayangkan jika Anda ngemil dan makan seperti mereka. (*)
Cukup adalah kunci dengan disesuaikan pada kebutuhan berdasarkan usia, aktivitas dan kondisi.
Buat sehat tidak ada kastanya. Artinya jika mau sehat harus beli alat masak dulu, mesin ini itu, produk tertentu, wah orang miskin tidak ada yang bisa sehat dong?
Tuhan itu adil. Di mana pun manusia berada sudah dicukupi bahan pangan yang membuatnya sehat dan berumur panjang. (*)
Hal terpenting dari sehat adalah ilmu bukan latah hingga tidak perlu mengikuti ‘aliran’ sana-sini untuk menunjang pemenuhan gizi.
Berapa banyak yang bisa dihemat jika Anda hidup sehat?
Yang pasti, memilih, meracik dan mengolah makanan sendiri jauh lebih murah. Lemari dapur tidak sesak karena botol saus, kecap apalagi bubuk-bubuk penyedap.
Tidak perlu pembersih khusus dapur untuk menghilangkan minyak yang nempel bekas menggoreng. Tidak butuh suplemen/racikan ajaib.
Tidak perlu beli alat blender atau juicer. Tidak perlu keseringan berobat pastinya! (*)
Lebih hemat lagi jika memiliki lahan untuk bercocok tanam atau memanfaatkan media lain, media tanam hidroponik misalnya.
Banyak orang menginginkan tubuhnya bekerja sesuai keinginannya: melek dan tidur tidak kenal waktu. Makan ugal-ugalan, olahraga gila-gilaan.
Padahal justru keinginan dan perilaku kita yang harusnya disesuaikan dengan irama dan kebutuhan tubuhnya sebab saat malam tubuh butuh tidur bukan lembur. Saat makan tubuh butuh pangan utuh bukan bahan olahan. (*)
Allah Subhanahu Wata’ala pun berfirman di antaranya dalam QS. Al-Qashash: 73, QS. An-Naba: 9, QS. Al-Furqan: 47 bahwa Dia menciptakan malam atau tidur untuk beristirahat.
Pola makan, istirahat dan olahraga, ketiganya harus berimbang. Jika pun harus shift malam maka pilihlah makanan terbaik yang tidak mengacaukan pola makan sehat.
Saya kepada saya; semoga tidak hanya sekadar tahu namun memiliki kesadaran pula untuk membenahi.