Pernahkah kau bertanya pada dirimu sendiri perihal kematian?
Sampai saat ini, yang aku pegang dalam diriku, bahwa mengingat kematian adalah tombol reset diri terbaik.
Saat di rasa arus dunia membuatmu banyak perhitungan dalam berbuat baik, saat rasa ikhlas menjalani takdir-Nya mulai terkikis dari hati, saat sangka buruk mulai memenuhi isi kepala dan kemalasan berbuat kebaikan menggerogoti jiwa.
Dan mengingat mati, adalah pengingat dan penegur diri terbaik. Bahwa kita hidup sekali di waktu yang terbatas. Tak ada reinkarnasi seperti di drama korea, tak ada perjalanan mengarungi waktu untuk mengulangi agar memperbaiki masa lalu seperti film-film fiksi itu. Yang ada hanya saat ini dan kesempatan yang rahasia perihal hari esok.
Dan mengingat mati, agar kita kembali sadar diri menjalani waktu, menghargai setiap proses mudah-dan sulit yang dilalui, memaafkan yang menyakiti, lapang menerima apapu. ketetapan yang Allah beri dan memupuk hati untuk bergegas menyiapkan diri.
Tanpa sadar, lisan kita mungkin kasar, perbuatan kita ada yang tidak berkenan. Dan catatan itu tertulis sebagai keburukan. Mudahan Allah yang Maha pemurah selalu melingkupi kita dengan hidayah dan ampunan. Sebab jika bukan karena kasih sayang Allah, hidup kita pasti kacau dan tak berarah.
Jika kita tak peduli akan pulang. Dan tak yakin akan hari kebangkitan. Kita akan berpikir urusan dunia selesai di dunia. Tetapi karena iman dan islam, kita yakin, kematian itu pasti, segalanya diperhitungkan dan kita semua sedang menunggu giliran.
Mudahan Allah jaga selalu lisan dan perbuatan kita, agar terhindar dari dosa dan terlindung dari api neraka.
#inidunia
Gerimis, 31 Desember 2025 15.58 wita





















