Saya kerja di perusahaan penghasil minyak kelapa sawit mentah, alias CPO. Ini beda ya sama minyak goreng, ini mah masih mentahannya. Ya ngga penting juga sih.
Lagi isu hangat karena ada kebakaran hutan di Riau dan Kalimantan. Dua duanya adalah tempat saya belajar sebelum menjadi pegawai tetap.
Seketika, saya mengingat semua yang saya pelajari dalam satu tahun ini.
Pada awal saya diterima, kepala HR perusahaan mengatakan kepada saya bahwa perusahaan saya (Astra Agro Lestari) sudah tidak boleh melakukan pembukaan lahan atau perluasan lagi. Selama beberapa tahun kebelakang, perusahaan hanya melakukan sistem replanting, dan bukan pembukaan lahan baru. Hal ini adalah sesuatu yang sangat fatal dan saklek karena sawit sangat ketat regulasinya. Sanksinya tegas dan dendanya tinggi.
Pindah ke kalimantan dan Riau, saya mempelajari proses bisnis dan mengetahui alur kerja seluruh tingkatan pegawai secara berurutan, dari pemanen hingga bagian administrasi. Sekaligus mensosialisasikan suatu pengembangan SOP yang bertujuan untuk menyempurnakan sistem kerja panen, angkut, dan olah buahnya.
Saya tahu bagaimana memanennya, bagaimana proses supaya setiap hari selalu menghasilkan buah, bagaimana cara mengirim buah buah tersebut ke pabrik, dan bagaimana minyak itu dihasilkan.
Saya mengobrol, mengikuti, makan bersama, istirahat bersama, dan pulang pada waktu yang sama dengan ujung tombak penghasil minyak sawit-para pemanen- dan supervisinya selama kurang lebih 6 jam sehari selama 6 hari dalam satu minggu.
Saya mengikuti, mengawasi, dan mempraktekkan para pegawai melakukan evakuasi buah dari kebun ke jalur transportasi selama 12 jam sehari dalam waktu 4 kali seminggu selama satu bulan, dan 4 jam sehari dalam waktu 6 kali seminggu selama 3 bulan
Saya mengikuti kerja supir truk yang mengangkut buah dari jalur transportasi ke pabrik selama 14 jam sehari dalam waktu 6 kali seminggu selama 4 bulan. Terkadang, 24 karena mereka bahkan sama sekali tidak tidur.
Saya mengobrol dengan istri-istri para pemanen, pekerja rawat tanaman, dan ikut dalam acara-acara sosialnya. Saya menghadiri syukuran khitanan anak mereka, pernikahan anak sulungnya, dan mendengar keluh kesah istri pemanen karena anak perempuannya didiagnosa terkena lupus.
Saya langganaan membeli tiga buah roti jepang di suatu warung dengan harga total 3000 rupiah saja yang bisa saya makan untuk mengganti makan siang. Sore hari, saya membeli lasegar jeruk nipis dan duduk bersama dengan anak sulung tetangganya yang masih kecil sambil mendengar dia protes belum boleh sekolah akibat umurnya belum cukup.
Saya tahu sisa cicilan motor bapak supervisi pemanen, berapa bulan umur anaknya yang baru lahir, sinetron kesukaannya, karakternya mengatur anggotanya, makanan kesukaannya, dan kata-kata misuh yang sering keluar ketika sedang lelah bersama.
Saya diskusi; berunding, berbagi ilmu, mencari solusi, mendengar sambat dari asisten afdelling, ngopi bersama, diantar pulang, mendengar permasalahan pemanen yang istrinya sakit parah, mengatur strategi pembuatan rencana kerja dan anggarannya, mengatur kemauan atasan- dengan seorang asisten afdelling selama 8 jam hampir setiap hari. Kalau di daerah urban mungkin adalah ‘kepala desa’ nya. Posisi inilah yang nanti akan saya isi ketika saya sudah selesai masa MT.
Saya mengerti mereka seakan-akan mereka warga kampung halaman saya-bahkan rasanya lebih dekat dibanding warga kampung halaman saya sendiri. Saya jauh dari rumah, tapi tidak merasakan sepi.
Saat saya pindah ke Jakarta, saya terpisah dengan mereka tetapi masih saling kontak. Sudah lebih dari 3 minggu mereka diselimuti asap, dan sudah satu minggu anak-anak diberhentikan dari sekolah. Mereka merasakan sesak, ditambah kemarau panjang. Ketika bekerja, para pemanen batuk-batuk dan supervisi memakai masker.
Beberapa teman MT masih ditugaskan disana dan mereka masih bertahan dengan keadaan asap tebal yang belum kunjung reda. Mereka melakukan shalat istiqo bersama, dan tetap bekerja dengan menggunakan masker setiap hari.
Saat membuka sosial media, ramai sekali tentang pemboikotan kelapa sawit karena kebakaran hutan yang sangat besar. Beberapa teman-teman saya juga ikut menyuarakan pendapatnya.
“Negara dapat apa dari kelapa sawit?”
“Cuma bisa mementingkan ekonomi daripada keseimbangan alam”