What’s up?
I’m married with one child now.
A child that I love more every single day.
But marriage life? It’s not that easy... It’s not that lovely.. But yes, it’s lovely, it’s full of laugh and happiness. But sometimes, it’s disappointing.
Sade Olutola

JBB: An Artblog!
Game of Thrones Daily

if i look back, i am lost

Janaina Medeiros

oozey mess
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
macklin celebrini has autism
Not today Justin
Cosimo Galluzzi

Discoholic 🪩
todays bird

tannertan36
styofa doing anything
we're not kids anymore.
Claire Keane
Sweet Seals For You, Always
d e v o n
NASA
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
@neyong
What’s up?
I’m married with one child now.
A child that I love more every single day.
But marriage life? It’s not that easy... It’s not that lovely.. But yes, it’s lovely, it’s full of laugh and happiness. But sometimes, it’s disappointing.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
hell-o
hello
Judge-ing.
Judge.
Kata yang udah ga aneh lagi, apalagi kalo udah ghibah. Kenapa sih, terkadang aku ga suka banget nge-judge orang? Atau, suka bilang ke orang, jangan nge-judge sembarangan, you never know what (s)he’s been thru.
Katakanlah yang paling sering. Ketika ada temen, atau orang lain yang kelakuannya jelek. Terus jadinya pada ngomong gini:
Iya, dia orangtuanya cerai sih, dia jadi broken home gitu.
Dan kalimat ini mengesankan seakan-akan semua, SEMUA anak korban perceraian orang tua akan menjadi anak broken home. Please, engga gitu. Kenapa aku bisa tau? Ya, aku salah satu contohnya.
Yes, my parents divorced like... 5 or 6 years ago.
Aku ga pernah yang namanya cerita lengkap, tentang keluargaku, sama siapapun. termasuk orang terdekatku, sahabat, (mantan) pacar, bahkan saudara sendiri. Why?
Ibu dan ayah ga pernah menyinggung sedikitpun ke aku tentang semua ini, seakan-akan mereka menganggap aku lama kelamaan akan mengerti sendiri keadaannya. Tanpa pertimbangan dan pendapatku, semuanya berjalan aja. Iya, sampai sekarang. Seakan-akan ya, aku bisa jadi dukun dan bisa liat kejadian sebenernya tanpa mereka kasih tau.
Jadi, kadang aku ga bisa jawab. Did they divorce? I don’t know. Aku ga bisa jawab ya, atau tidak. But it’s little bit obvious. Dan dengan kondisi seperti itu, apakah aku menjadi anak yang broken home?
Definisi broken home menurut aku, adalah anak bandel yang diluar sana suka mabok, nakal, narkoba, gaul ga bener dan itu semua dilatar belakangi sama kondisi “rumah” atau keluarga dia yang ga homey.
Aku merasa, selama ini kalopun aku nakal, aku ga pernah jadi pembangkang orang tua. Aku juga ga pernah minat sedikitpun kabur dari rumah, ga pernah pulang, atau gimana. Padahal, kalo dibayangin gimana sih hancurnya perasaan aku dengan kondisi seperti itu? Gimana sih malunya aku, bingungnya aku, atau ga ngertinya aku?
Kalo boleh cerita lagi, dalam 23 tahun hidup aku, ups and downs dari mulai punya keluarga yang kaya raya, sampe tiba-tiba bangkrut, dari rumah yang luas banget, sampe pindah ke kos-kosan karena nungguin rumah baru dibangun yang besarnya cuma sepertiga rumah yang dulu. Jalan kaki ke sekolah, naik angkot, naik mobil, ikut ngerasain gejolak masalah keluarga, semuanya udah pernah aku rasain.
Dan emang bener, what doesn’t kill you make you stronger.
Apakah semua kesedihan itu terlihat setiap hari sampai sekarang? Aku tetep bisa jadi ajeng yang bisa ketawa, sekalipun kadang suka kepikiran. Aku bisa jadi anak normal, lulus sarjana, survive di kota metropolitan. Aku bisa jadi kuat, dan seandainya ada cobaan di masa depan yang Allah kasih lagi buat aku, aku siap, struggle dan ga akan kaget.
Aku sebenernya ga pernah cerita kaya gini sama orang lain, orang terdekat sekalipun tentang keadaan keluargaku, keadaanku, perasaanku. Makanya, seringkali aku berharap, orang terdekat aku bisa jadi orang yang bisa menerima segala kondisi aku. Tapi, aku tetep ga pernah siap untuk cerita langsung.
I am fine, we--- anak anak lain yang orangtuanya bercerai, are fine.
Jangan pernah sangka, karena orangtua kami gagal dalam berumah tangga, di masa depan kami juga akan jadi seperti mereka.
Justru, karena pengalaman rasa sakit yang kita alamin, bikin kita, terutama diriku sendiri, pengen jadi orangtua terbaik, istri terbaik, tersabar, tersolehah, biar terhindar dari masalah yang bisa menyebabkan perpisahan. Kita tau sakitnya, ga enaknya perpisahan dalam keluarga, dan kita belajar dari keadaan kita terdahulu. Dan kita sama sekali ga pengen itu terjadi sama anak kita, seegois apapun kita.
Adapun juga orang-orang yang keluarganya utuh, tapi broken home. Ada yang orangtua nya lengkap, tapi sehari-hari berantem terus. Ada juga yang bahagia terus.
Dan............ yang perlu orang-orang tau, anak broken home, anak yang sedih, temen yang ga bener gaulnya, bukan untuk di bad-judge. Bukan untuk di ghibahin. Tapi, please ingetin mereka. Support mereka secara moral, semangatin untuk tetep di jalan yang bener. Kalo ga bisa atau ga kenal deket, at least please istgifar dan doakan mereka, dan tetep positive thinking sama apa yang mereka perbuat pasti karena alasan.
Jangan sembarangan nge-judge, karena ga ada yang tau apa yang mereka rasakan dan lewatin. Try to walk in her/his shoes. Dan kalian mungkin bakal sama bingung dan gataunya gimana untuk ngadepin masalah itu.
Aku cuma bisa bersyukur aja, dibalik keadaan yang menimpa diri aku, yang ga ada orang yang tau, orangtua ku baik-baik dan bahagia sekarang. Gimanapun perasaanku, yang terpenting adalah mereka bahagia.
Aku ngerti banget rasanya dibolak-balik sama hidup, ngerti gimana sih rasanya dihadapin sama masalah dalam hidup, udah pernah dan bisa ngerasain gimana ga enaknya jadi anak-anak yang punya masalah berat dalam hidup.
Akupun harus bisa yakin kalo suatu hari ada yang akan menerima segala kondisi aku, yang terkadang sulit untuk membuka diri, yang terkadang bener-bener jago nyembunyiin perasaan, yang seringkali cuma bisa sedih sendiri. Dan saat itu, aku tau he’s the one and he’s worth to fight.
Karena orang-orang dengan masalah keluarga, masalah krusial, dan masalah apapun yang kalian ga ngerti solusinya, cuma butuh support moral. Support, pengertian, dan waktu dari orang terdekatnya. Kadang orang-orang kaya gitu cuma pengen bisa ngerasa disayang seutuhnya.
Dan ketika ada temen yang salah pergaulan, please sekali lagi. Support him/her. Jangan di judge, jangan di omongin, karena yang ada mereka akan semakin down, semakin ngerasa cuma dunia dia yang salah itu tempat yang bisa nerima mereka.
Because, everyone has a right to live peacefully in this world.
Ga ada satu orangpun di dunia ini yang ga punya masalah, mungkin cuma beda waktu aja. Aku, dan mungkin beberapa temen-temen lain ngerasainnya dari kecil. Dan adapun yang mungkin ngerasainnya saar dewasa, atau tua.
So, please. Stop bad judging. Terimalah orang dengan semua masalah, support mereka karena itulah yang bisa bikin mereka tetep merasa diterima dan berada di track yang benar. Buatlah mereka ngerasa di sayang. Dan kalo mereka udah di track yang salah, please bantu untuk kembali ke track yang bener. Ingetin, atau minimal, doain.
Walaupun aku termasuk orang yang ga dapet support dari siapapun, aku cuma berharap aku bisa jadi wanita yang lebih kuat lagi setiap harinya. Dengan tetap ikhtiar dan tawakal, serta tetep bergantung sama Allah semata.
Life is tough, really. We can never depend on anyone, because everyone will leave at the end.
NB: I write this, to remind my self. What I suppose to be grateful of. And if someday someone read this, I just wish, they will understand everything I’ve been tru. Dan memang, ketika aku ga bisa cerita sama orang lain, ga ada tempat cerita, nulis lebih akan bikin lega :-)
Stabil/Sta-ble/ˈstābəl - persistance
Stabil - Persisten
2017 udah bentar lagi dateng. Segudang rencana dan target udah bergeming di kepala gue. Tapi, yang gue inginkan cuma satu. Sebenernya banyak sih, cuma yang bener-bener gue pengen ya satu ini.
Gue pengen stabil. Maksudnya?
Selama ini, emosi gue sering ga stabil. Orang-orang disekitar gue kadang kena dampaknya, atau kadang justru karena ke engga-stabilan orang disekitar gue, jadinya gue sama kebawa labil.
Gue akan berusaha, semakin hari semakin stabil, semakin lebih sabar lagi, semakin ikhlas dalam segala hal. Gue lelah dengan hidup yang penuh drama, terutama percintaan. Gue udah cape banget sama drama cinta.
Gue pengen jadi orang yang stabil baiknya, dan siapapun yang nantinya punya hubungan spesial sama gue, mau dari manapun, udah kenal lama atau baru kenal, semoga kita sama-sama stabil. Gue pengen punya satu tujuan. Gue gamau hidup gue berantakan karena cinta, gue gamau ngejalanin yang ga bakal ada tujuannya. Tujuan bukan cuma nikah lho ya. Ya nikah termasuk juga. Tujuan untuk sukses bareng-bareng, itu juga tujuan. Tujuan untuk bareng-bareng ngebahagiain orangtua, itu juga tujuan. Gue gamau kebanyakan drama, galau, dan apalagi yang ngambang, yang udah pasti ga ada tujuan. It’s wasting my holy precious time. Karena gue yakin, hubungan yang ga ada tujuan, banyak drama, ga berkah, ga bikin berkembang, itu cuma bakal bikin hidup kacau dan nambah dosa doang. Ga punya pattern yang bikin kita semangat ngejalanin hari-hari.
Gue bukan sok tua, umur gue masih 23. Itu ga masih sih, dikala banyak orang yang udah super produktif, buat dirinya sendiri dan bahkan buat orang banyak. Atau, setidaknya tujuan mereka dalam hubungan itu ada, atau udah tercapai. Gue bukan orang yang mau atau harus nikah muda, because it’s too risky and I like to be free sometimes now, so yeah, gue cuma pengen ngejalanin hubungan yang bisa memotivasi gue kedepannya dan bisa buat kita sama-sama berkembang. Gue gak masalah dengan seumuran atau lebih tua. I don’t mind to grow up with him, mendewasakan satu sama lain pun would be great.
Terakhir pacaran kemarin, buat gue, hubungan gue itu punya tujuan. Hubungan gue kemarin selama 2,5 tahun menjadi pola buat gue menjejakan langkah gue. Obrolan-obrolan tentang masa depan sering banget gue omongin sama pasangan gue dulu. Dan jujur, setiap obrolan, usaha, dan dalam perjalanannya gue happy dan termotivasi. Tapi ada satu bagian salahnya gue. Satu hal, yang krusial dan merusak semuanya. Yaitu, emosi gue sendiri. Gue yang terlalu insecure, gue yang ikut dalam drama, gue yang ga stabil, emosi gue yang labil, dan mungkin gue yang kurang sabar. Makanya, mulai sekarang gue berusaha jadi orang yang stabil, and I know what I want.
Kerjaan; terkadang males, itu jadi masalah terbesar gue. Mood, itu masalah kedua. Apa yang akan gue lakukan sekarang, adalah menjadi stabil dan persisten dalam usaha keras untuk meraih cita-cita gue. Dua momen penting yang (seharusnya) bisa gue capai tahun depan adalah, wisuda S2 dan sumpah dokter. Gue, memang selama ini banyak malesnya. Padahal, Allah sering banget kasih gue pasien cuma-cuma, tapi lebih sering gue sia-siakan. Sekarang, waktunya gue berlari mengejar ketertinggalan gue, walaupun mungkin gue ga bisa mencapai finish on time, tapi usaha gue akan terus persisten untuk lebih cepat lagi. Gue sadar, males ga akan ngehasilin apapun. Karena sejujurnya, gue udah ga tahan minta uang terus ke orang tua gue. Semoga 2017, gue bisa menjadi orang yang stabil in maintaining mood dan persisten dalam kerja keras. Ga ada lagi alesan bad mood jadi males.
Kalo gue sebelum-sebelumnya pernah ngerasain down, I wish I could stand up and rise again. Apapun yang terjadi, setiap harinya adalah hari baru untuk setiap orang. Kesempatan selalu ada untuk kita yang mau berusaha. Apapun targetnya, entah itu percintaan atau kerjaan, kerja keras dan kestabilan emosi penting banget buat gue.
Tapi yang terakhir, let go. Ikhlas. Semua, entah itu hubungan ataupun rezeki, udah ada yang ngaturnya. Jadi, mau sekeras apapun kita nahan, kalo udah bukan jodoh, kalo bukan rezeki ya ga bakal bisa didapetin. Jodoh dan rezeki, diusahain aja. Sambil do’a. Tapi kalo emang rezeki buat kita, dan memang jodoh, kalo dijauhin juga, malah makin deket pasti.
Nah ini yang penting. Deketin diri sama Allah, biar semuanya apapun yang kita lakukan jadi berkah, dan bisa lebih bahagia lagi. Karena yakin, semua karena Allah, milik Allah, dari Allah dan kehendak Allah. Gue bukan orang yang super suci atau tanpa dosa. Dosa gue banyak, sungguh. Dan everyday, I wish Allah can forgive me and people I care about. Gue percaya dan akan selalu positive thinking untuk semua yang terjadi kedepannya dalam hidup gue :)
Gini rasanya?
For the first time in my life, 2 minggu lalu gue disuruh jadi asisten operasi inisisi pasien dengan diagnosis Plegmon/Ludwig’s Angina/Selulitis yang udah sampe daerah mediastinum penyebaran infeksinya.
Jum’at sore, pas orang-orang pada bubar aksi damai 212, gue ber4 sama temen-temen, pengen banget ada di OK buat operasi ini. First mayor surgery. Dan tiba-tiba gue yang disuruh jadi asisten. Planga plongo, yaudah gue terimain aja.
Pasien yang (maaf banget) baunya kayak apaan tau karena absesnya bener-bener besar sedagu-dagu sampe leher, bahkan pas dia nunggu OK nya kosong diluar pake kursi roda, gue kasian sama ada orang yang baru kelar operasi, malah nyium bau absesnya dia.
Setelah proses menegangkan pas anestesi (yang krusial banget justru. Kemungkinan ga selamat bisa-bisa tuh pas anestesi. Ampe dokter anestesi batuk-batuk saking bau), alhamdulillah bisa mulai insisi. Tugas gue adalah pegang suction, PLUS yang paling plus mencet mencetin kulitnya dia supaya keluar pusnya. Sambil terus pegang kassa dan suction. Sambil nahan baunya. Sambil konsen diomelin. Sambil lain-lain.
Dan pada akhirnya, bapak ini selamat. Selama 1 minggu sisa gue di RSPAD, hampir tiap hari ketemu, karena dia kudu kontrol dan ganti perban di dagu-dadanya itu. Pusnya belum semua keluar, makanya dipasang selang. Insisi through n through, terus pasang drain yang bolong-bolong supaya pusnya keluar.
Pas 2 hari after operasi gw visite, dan anak beserta keluarganya keliatan seneng karena bapaknya mulai membaik. Mulai bisa ngomong. Mulai mau makan, dan ke wc sendiri. Mulai marah-marah lagi (anyway, bapaknya agak suka marah-marah)
Dan 2 hari yang lalu, tepat 12 hari setelah dia operasi. ternyata Allah berkehendak lain. Beliau meninggal, karena infeksi dan pusnya yang udah sampe paru-paru. Gue agak paham, soalnya itu pus pas operasi ga bisa dikeluarin semua. Dan saat hari-hari setelah operasi itu, mesti ganti kassa dan lepas selang, dan kulitnya dipencet-pencet lagi supaya sisanya keluar. Bedanya dia sadar, dan dia kesakitan. Setelah 5 hari after operasi, dia bahkan nolak buat dipencet-pencet lagi.
Gini rasanya... Pasien pertama yang gw “operasi” ternyata ga sembuh dan malah meninggal.. Yaaa, sedih sih. Abis keluarganya sebegitu seneng pas si bapak ternyata bisa ngelewatin operasi yang chancenya cuma 50:50. Dan, apa sih penyebabnya bapak ini bisa sakit Ludwig’s angina? So, first of all ternyata dia dicabut giginya. Kebersihan mulut dia buruk banget. Dan ternyata... Dia punya penyakit diabetes mellitus, dgn GDS sampe 400. Lukanya ga sembuh-sembuh karena mikroangiopati, kebersihan mulut yang super-duper buruk (karang gigi dimana-mana, sisa akar dimana-mana, dan baunya yang.... gausah dikasih tau?) dan mungkin sistem pertahanan tubuh dia yang kurang baik nyebabin semuanya. Setelah 10 hari bengkak, baru di bawa ke RSPAD coba (telat banget, karena prosedur BPJS yang.. yaah you know)
Gakan lupa pengalaman abis operasi yang gimana sebaju-baju bau pus, sampe keluar bau pus, sugesti dimana-mana bau pus, ga nafsu makan, liat duren mual, apalagi selokan. Tapi gw berdoa, semoga amal ibadah bapak tsb bisa diterima Allah SWT dan sakitnya kemarin sebagai penggugur dosa-dosanya ya..
*duh gw ngetik post ini kok berasa baunya ya huhuhuhuh cry* *pengen upload fotonya tapi sepertinya disturbing pict banget*

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming